ABC

Jurnalis Kompas Akan Telusuri Sejarah Relasi Indonesia-Australia

Josie Susilo Hardianto adalah wartawan Harian Kompas yang baru saja menerima Penghargaan Jurnalisme Elizabeth O’Neill 2017 dari Pemerintah Australia. Melalui kesempatan ini, Josie berencana menelusuri jejak sejarah hubungan kedua negara dan menggali potensi masa depan di antara keduanya.

Bersama Bonny Symons-Brown, produser dan reporter ABC TV, Josie Hardianto menerima ‘Elizabeth O’Neill Journalism Award’, sebuah penghargaan yang ditujukan untuk mengenang karir gemilang Elizabeth O'Neill OAM, diplomat Australia yang gugur dalam tugas di Indonesia pada tanggal 7 Maret 2007.

Menurut keterangan pers Kedutaan Besar Australia di Jakarta yang diterima ABC, Josie akan menghabiskan dua minggu di Australia, dan diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu kontemporer di sana serta mendukung sikap saling pengertian di antara warga kedua negara.

“Saya ingin lebih tahu tentang…masyarakat di Australia itu melihat Indonesia seperti apa. Jadi pada soal bagaimana melihat hubungan kedua negara, melihat relasi keduanya,” tutur Redaktur Desk Internasional Harian Kompas ini kepada Nurina Savitri dari ABC Australia Plus.

Sebagai langkah awal, ia berencana untuk mewawancarai Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, pada saat Pertemuan Tingkat Tinggi IORA (Asosiasi Lingkar Samudera Hindia) di Jakarta, 5-7 Maret 2017.

Jurnalis yang pernah ditugaskan di Papua ini lalu mengutarakan, “Kita (Australia dan Indonesia) punya relasi yang cukup panjang dan selalu naik turun. Gimana sekarang melihat prospek potensi-potensi di depan itu yang lebih utama daripada aneka macam perbedaan yang selama ini ada di antara kedua negara.”

Josie juga ingin bertemu dan mewawancarai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga pendeta, yakni Frank Brennan, selama kunjungannya ke Australia -yang diperkirakan berlangsung sekitar bulan Maret atau April -nanti.

“Selain itu, mungkin saya akan bertemu dengan akademisi-akademisi dan beberapa orang dari kalangan pemerintah,” imbuhnya.

Josis Susilo
Josie ketika berada di Canberra, Australia.

Facebook; Josie Susilo Hardianto

Sydney, Canberra, dan Melbourne direncanakan menjadi target destinasi Josie selama kunjungannya ke Australia.

“Tiga kota itu karena yang satu kan kota perdagangan, di sana ada kampus yang bagus yaitu University of Sydney, di Canberra mungkin kalau boleh bertemu dengan beberapa anggota Parlemen dan perwakilan pemerintah di sana. Kalau di Melbourne lebih ke perjumpaan kebudayaan antar negara, kalau di Indonesia itu seperti Jogja,” jelasnya.

Ia lalu menggambarkan, “Target saya adalah membuat in-depth story (cerita mendalam) tentang bagaimana relasi Australia-Indonesia dan melihat peluang hubungan kedua negara ke depannya.”

Sebelum menerima penghargaan Elizabeth O’Neill 2017, Josie pernah ditugaskan dua kali ke Australia, yakni pada tahun 2006 dan 2011.

“Waktu 2006 itu soal kunjungan balasan dari masyarakat Aceh yang dapat bantuan dari masyarakat Australia, pasca tsunami. Yang 2011 kunjungan sister city dari Jayapura. Jadi Gubernur Papua waktu itu ke Brisbane untuk semacam studi banding dan mencari peluang kerjasama di antara dua kota,” ceritanya melalui sambungan telepon.

Penghargaan Jurnalisme Elizabeth O’Neill diberikan tiap tahun oleh Pemerintah Australia kepada satu jurnalis asal Australia dan satu jurnalis Indonesia sejak tahun 2007.

Penghargaan ini terbuka bagi jurnalis media cetak, radio, televisi dan online yang berprestasi, dengan tingkat karir apa pun.