ABC

Izin Impor Sapi Australia Akhir 2016 Mencapai 150 Ribu Ekor

Northern Territory Livestock Exporters Association atau NTLEA menyatakan izin impor sapi Australia yang diterbitkan Pemerintah RI untuk catur wulan terakhir 2016 akan sama jumlahnya dengan stok ternak yang tersedia. Setelah tertunda 2 bulan karena negosiasi para importir dengan Pemerintah RI terkait aturan baru, diperkirakan izin impor hingga akhir tahun berjumlah 100 ribu hingga 150 ribu ekor.

Untuk mendapatkan izin tersebut, sekitar 32 operator telah menyatakan setuju untuk membeli dan memenuhi rasio 20 persen sapi pembibitan dalam total sapi impor, yang akan dihitung jumlahnya pada akhir 2018.

Menurut CEO NTLEA Stuart Kemp jumlah ternak yang siap dijual di Australia utara akan memenuhi jumlah permintaan dari Indonesia. "Mengingat kawanan ternak sekarang agak kurang, dan hal ini bukan rahasia," katanya.

"Kita lihat di Queensland jumlah sangat sedikit, sedangkan di Kimberley dan di Territory didera musim hujan," katanya.

"Jumlahnya tak seperti yang kita inginkan untuk penuhi alokasin izin impor yang tinggi," tambah Kemp.

Menurut Kemp penghapusan sistem kuota impor Indonesia akan membuat sektor perdagangan ini lebih efisien.

"Kementerian (Pertanian RI) akan mengeluarkan rekomendasinya. Belum jelas apakah rekomendasi itu untuk satu bulan, tiga bulan, enam bulan atau setahun. Dan (para importir) bisa mengajukan izin tersebut setiap saat," katanya.

"Sepanjang (izin yang diajukan) masih dalam jumlah yang direkomendasikan Kementerian Pertanian, maka akan disetujui," tambah Kemp.

Kapal ternak Diamantina kini melakukan pemuatan ternak di Pelabuhan Darwin Port dan diharapkan berangkat ke Indonesia pada hari Kamis (3/11/2016).

Fokus pada kompetisi pasar, harga daging dan kesejahteraan hewan

Sementara itu kalangan industri ekspor ternak Australia menggelar konferensi tahunan di Canberra pekan lalu dengan fokus pada kompetisi pasar, harga daging serta kesejahteraan hewan.

Para peserta mengikuti presentasi mengenai ancaman daging kerbau asal India terhadap ekspor Australia, keberhasilan di pasar China tergantung penutunan harga ternak, serta diskusi mengenai penanganan atas kekejaman terhadap ternak.

Kemp menjelaskan para pembicara dipilih untuk membagi perspektif yang berbeda dengan apa yang mungkin mereka harapkan.

"Biasanya tidak dengan memberitahu bahwa apa yang kita lakukan keliru atau bahwa kita harus mengubahnya. Ini hanya memaparkan pandangan berbeda serta pendekatan berbeda," jelasnya.

"Apakah karena akademiksi atau karena cara berbeda dalam pengukuran dan monitor, selalu menarik dan diterima dengan baik," katanya.

"Diskusi terkait kompetisi di pasar dan produk lain telah membuka mata khususnya saat peternak hadir di ruangan untuk melihat sendiri seberapa nyata dan mendesak ancaman tersebut," tambahnya.

Para peserta konferensi mengumpulkan donasi 43.500 dollar (sekitar Rp 430 juta) bagi organisasi Royal Far West serta seorang remaja 17 tahun bernama Lily Mackett, yang mengalami kecelakaan mobil.

Di tahun 2015, konferensi serupa juga mengumpulkan donasi bagi sekolah Rawinala di Jakarta, untuk mendukung para guru untuk anak-anak disabel.

Diterbitkan Pukul 14:00 AEST 2 November 2016 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.