ABC

Indonesia Mungkin Kurangi Permintaan Jika Harga Sapi Australia Naik Lagi

Tingginya harga sapi ekspor menambah kepercayaan diri kalangan peternak di Australia Utara. Namun jika terjadi lagi kenaikan harga sedikit saja, kemungkinan permintaan dari Indonesia akan menurun.

Harga sapi ekspor perkilonya mencapai rekor tertinggi sebesar 3,4 dolar/kg untuk sapi asal Peternakan Hayfield Station, di Northern Territory.

Manager Hayfield Station, Justin Dyer, mengatakan kenaikan harga tersebut sudah lama ditunggu-tunggu dan kini bisa sedikit membantu para peternak.

"Kami sendiri akan meneruskan usaha ternak kami, membayar pinjaman, mungkin menambah pengairan dan menyebar ternak-ternak kami," tutur Dyer.

"Dalam situasi sulit, aspek pemeliharaan yang pertama menjadi korban," tambahnya.

Dia mengakui seiring dengan kenaikan harga ini, biaya produksi juga mengalami peningkatan.

"Usaha peternakan mengalami penurunan cukup lama sepanjang ingatan saya. Kenaikan harga saat ini akan membantu stabilitas dan mengembalikan kepercayaan diri para pertenak," ujarnya.

Dyer memperkirakan permintaan daging sapi dunia akan terus melebihi pasokan, sehingga Australia Utara berada dalam posisi diuntungkan.

"Usaha peternakan kita berkualitas. Aspek kebersihan, aman dan ramah lingkungannya terjamin," katanya.

Dyer mengatakan harga sapinya mencapai rekor tertinggi melalui penjualan secara online.

Sementara itu Luke Giblin dari Peternakan Brunchilly Station di Barkly Tableland, yang baru kembali dari Indonesia bersama pengurus Asosiasi Peternak Northern Territory (NTCA), mengatakan jika masih terjadi kenaikan harga sapi ekspor dari peternak, maka permintaan dari Indonesia kemungkin akan turun.

Kunjungan NTCA ke beberapa pusat penggemukan sapi di Indonesia mengungkap harga yang berlaku saat ini di tingkat peternak sudah tinggi.

"Kalau ada lagi kenaikan harga sapi ekspor di sini, maka pembeli di Indonesia akan mengurangi jumlah permintaan mereka. Mereka tidak akan sanggup membeli lebih tinggi," kata Giblin.

Dengan kunjungan ini Giblin mengaku mendapatkan pemahaman mengenai industri penggemukan sapi di Indonesia.

"Mereka tahu merek sapi kita, mulai dari Heytesbury hingga CPC. Mereka tahu semua," katanya.

"Kami membahas bagaimana rencana lima hingga 10 tahun ke depan sehingga sapi-sapi Australia bisa memenuhi permintaan sesuai keinginan dan kebutuhan Indonesia," katanya.

"Sebab itulah alasan mengapa mereka membeli sapi kita," kata Giblin lagi.