ABC

Implan Ini Membuat Tangan Manusia Berfungsi Layaknya Remote Control

Bagi Amal Graffstra, memasang dua microchip ke tangan dan pergelangan tangan untuk memungkinkannya membuka komputer dan rumah miliknya dengan gelombang sederhana, adalah tindakan yang mudah.

Amal memulai "biohacking" (bereksperimen dengan materi genetic) lebih dari satu dekade lalu, bekerja untuk menanam chip identitas frekuensi radio (RFID) dan komunikasi dekat bidang (NFC) ke dalam tubuhnya.

Ketertarikan akan karyanya begitu kuat, sehingga ia memulai bisnis yang menjual microchip implan yang ramah manusia, tak seperti yang ditemukan pada hewan peliharaan.

"Awalnya saya hanya ingin menyingkirkan kunci saya, tapi sekarang, ide ‘biohacking’ adalah augmentasi (metoe komunikasi pengganti) manusia pada umumnya," tutur Amal.

"Alat ini non-medis sehingga mereka murni augmentatif, mereka memberi saya kemampuan yang saya tak miliki sebelumnya," ujar Amal Graffstra.

Ia berasal dari Seattle dan berada di Australia untuk menghadiri konferensi ‘Deus Ex Mankind Divided Augmented Australia’.

"Ide untuk menciptakan perangkat yang benar-benar mungkin dibuat hari ini akan meningkatkan kemampuan manusia," sebut Amal.

"Kami ingin bisa mendemokratisasikan teknologi, membuatnya bisa diakses, membuatnya aman," tambahnya.

Perusahaan Amal, ‘Dangerous Things’, menjual alat pelekat yang harganya antara 50-100 dolar (atau setara Rp 650 ribu-1,3 juta), dengan tambahan 100 dolar untuk membuat alat itu tertanam sebagai implan.

Amal Graafstra
Amal Graafstra, pelaku eksperimen genetik dan pendiri perusahaan ‘Dangerous Things’.

ABC; Thuy Ong

Perusahaan ini telah menjual sekitar 15.000 alat, dengan sekitar 200 di antaranya terjual di Australia, negara yang terpopuler ketiga untuk start-up milik Amal.

Harga penawaran yang relatif rendah untuk mengakses teknologi berarti mereka yang ingin tahu bisa membeli secara online dan "meretas" tubuh mereka sendiri secara efektif.

Ini telah memicu kumpulan orang yang dikenal dengan sebutan "grinders" (pengasah) -mereka yang berusaha untuk meningkatkan kemampuan tubuh mereka sendiri dengan perangkat elektronik dan semangat swadaya.

"Saya rasa ini adalah waktu yang sangat menarik bagi bidang ‘biohacking’ dan teknologi pada umumnya, sekarang kita melihat peningkatan jumlah orang yang tertarik pada augmentasi manusia dan perluasan kemampuan manusia," kata Jonathan Oxer, seorang warga Melbourne, dan salah satu dari segelintir orang di dunia yang telah ‘menanaminya’ dirinya dengan chip RFID.

"Kita akan mulai melihat lebih banyak sistem yang dikembangkan, yang memungkinkan kita untuk mengontrol hal-hal yang menggunakan pikiran atau menghubungkan perangkat ke tubuh yang bisa kita kontrol,” tutur Jonathan Oxer.

"Secara tradisional, hal itu telah memicu proyek-proyek penelitian yang sangat mahal untuk mengungkap hal-hal semacam itu,” sambungnya.

"Banyak alat yang diterbitkan sekarang ini adalah sumber yang terbuka. Apa yang dilakukan adalah memungkinkan kita untuk berkolaborasi pada desain dan dengan cara yang serupa perangkat lunak sumber terbuka, memungkinkan banyak pengembang untuk bekerja sama," jelas Jonathan.

Sementara chip yang tersedia sekarang memungkinkan pengguna untuk membuka rumah mereka, menyalakan mobil mereka dan menyimpan identitas mereka, Amal membayangkan masa depan akan dipenuhi lebih banyak aplikasi termasuk metode pembayaran ‘tap and pay’ (sentuh dan bayar), dan pemantauan kesehatan.

Biohacking chip
Chip tertutup kaca yang sangat kecil, yang bisa ditanam di dalam tangan.

Supplied

Awal tahun ini, Amal Graafstra menciptakan prototipe senjata pintar, di mana pemicunya hanya bisa diaktifkan oleh chip yang tertanam di lengannya.

"Banyak pelaku eksperimen genetik adalah penggemar bidang ini, mereka juga ingin melihat hari di mana kita memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang kita inginkan dengan tubuh kita sendiri, seperti tato dan tindik, kita menjadi lebih jamak," katanya.

Ia menyambung, "Ide untuk meningkatkan kemampuan Anda dengan implan akan menjadi normal."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 15:48 WIB 30/08/2016 oleh Nurina Savitri.