ABC

Ilmuwan Iklim Tuduh Sebuah Studi Salah Perkirakan Kenaikan Suhu

Para ilmuwan iklim terkemuka telah mengeluarkan sebuah peringatan bahwa artikel yang diterbitkan dalam jurnal ‘Nature’ melebih-lebihkan prediksi perubahan iklim dan menggunakan "perhitungan yang salah".

Artikel berjudul “Evolusi Suhu Global selama Dua Juta Tahun Terakhir’ merekonstruksi 2 juta tahun dari suhu rata-rata global.

Artikel ini menemukan, suhu menurun secara bertahap sampai sekitar 1,2 juta tahun lalu dan kemudian terhenti setelahnya, serta menyimpulkan bahwa suhu Bumi bisa naik antara 3-7 derajat Celsius selama ribuan tahun berikutnya.

Tapi prediksi itu telah mendapat kecaman dari para ilmuwan iklim terkemuka, termasuk Dr Gavin Schmidt, seorang ilmuwan iklim dan direktur Institut Studi Antariksa Goddard, NASA.

Ia mengatakan, ia tak berpikir kesimpulan itu benar.

"Bahkan, saya cukup yakin itu perhitungan yang salah," sebut Gavin Schmidt.

"Rasio yang menjelaskannya -yang merupakan sensitivitas sangat tinggi yang ia kalkulasi -berasal dari korelasi antara suhu dan karbon dioksida serta gas rumah kaca dari inti es, tapi seperti yang kita semua tahu, korelasi tak sama dengan sebab-akibat,” jelasnya.

Ia menerangkan, "Dan dalam hal ini, sebab-akibat adalah getaran orbital iklim Bumi yang mengendalikan suhu dan karbon dioksida pada saat yang sama dan itu memberi Anda pandangan berlebihan tentang bagaimana karbon dioksida memengaruhi suhu secara langsung."

Meski demikian, Dr Gavin menyambut dengan baik sejarah suhu yang dipaparkan oleh studi itu, yang menganalisis sekitar 60 inti sedimen yang berbeda.

"Inti dari penelitian ini benar-benar sebuah sintesis dari inti sedimen lautan samudera dalam yang datang dari seluruh dunia, tetapi disatukan dengan cara yang memungkinkan Anda untuk mengatakan sesuatu tentang suhu global di setiap titik, antara masa kini dan 2 juta tahun lalu," ungkap Gavin Schmidt.

"Dan jadi itu adalah sintesis yang benar-benar mengesankan," imbuhnya.

Namun ia mengatakan, hal itu kemungkinan akan sebanding dengan kesalahan peningkatan suhu.

"Saya pikir sungguh disayangkan bagi jurnal untuk dituduh atas hasil sensasional tanpa penelusuran ilmiah yang ketat," sebut Dr Gavin.

"Saya pikir sungguh disayangkan bagi penulis yang karyanya benar-benar bagus tengah dibayangi oleh kesalahan tertentu, dan sungguh sangat disayangkan bagi publik karena apa yang Anda lihat adalah pesan yang sangat membingungkan, yang membuat orang menangkap segala macam pesan berbeda," utaranya.

Informasi kunci:

• Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature telah dituduh melebih-lebihkan prediksi perubahan iklim

• Artikel ini menemukan bahwa suhu Bumi bisa naik antara 3-7 derajat Celsius selama seribu tahun berikutnya

• Para ilmuwan iklim terkemuka berpendapat ada kesalahan logis dengan perhitungan tersebut

Pesan yang sangat membingungkan

Profesor Jeffrey Severinghaus, dari Institut Oseanografi Scripps di Universitas San Diego, juga menemukan masalah dengan penelitian itu.

"Ia membuat kesalahan logis yang sangat, sangat dasar," kata Jeffrey Severinghaus.

"Sensitivitas iklim pada dasarnya adalah perubahan suhu dibagi dengan perubahan CO2,” ujarnya.

Ia menerangkan, "Bagian penting tentang hal tersebut adalah bahwa jika Anda ingin menyimpulkan itu dari situasi aktual di Bumi, maksudnya apa yang Bumi lakukan di masa lalu, Anda harus memastikan bahwa perubahan suhu hanya disebabkan peningkatan CO2, sedangkan zaman es, kita tahu betul perubahan suhunya disebabkan kombinasi dari peningkatan CO2 dan perubahan orbit Bumi di sekitar Matahari.”

"Bahkan, itu mungkin sesuatu seperti dua-pertiga dari perubahan suhu disebabkan oleh orbit dan hanya sepertiga oleh CO2. Jadi mungkin itulah mengapa ia mendapat faktor tiga yang lebih besar," tambahnya.

Penulis studi tersebut, Carolyn Snyder, tak bersedia untuk diwawancarai.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 18:50 WIB 27/09/2016 oleh Nurina Savitri.