ABC

Ilmuwan ANU Ungkap Hobbit Bukan Keturunan Homo Erectus

Ilmuwan Australia berhasil membatalkan teori kontroversial yang menyebutkan spesies misterius yang dikenal dengan sebutan manusia hobbit memiliki hubungan dekat dengan manusia modern.

Hobbit, yang secara ilmiah dikenal dengan sebutan Homo floresiensis, pertama kali ditemukan dalam sebuah penggalian arkeologi di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia pada 2003.

Ilustrasi Hobbit
Homo floresiensis kemungkinan keturunan hominid di Afrika.

Peter Schouten

Spesies yang memiliki tinggi badan sekitar 1 meter dan berat sekitar 25 kilogram itu, diketahui telah mendiami kawasan Flores NTT paling cepat sekitar 54 ribu tahun yang lalu.
Teori utama mengenai asal muasal mereka menyatakan kalau mereka merupakan keturunan leluhur mereka Homo erectus, namun tubuh mereka menyusut selama ratusan generasi.
Namun demikian, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan ilmuwan dari Australian National University (ANU) yang menganalisis karakteristik tengkorak spesies Hobbit ini mendapati mereka kemungkinan besar adalah keturunan dari hominid di Afrika dan usia hidup mereka jauh lebih tua dari yang telah diperkirakan sebelumnya.

Professor Colin Groves, yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan spesies hobbit ini tampaknya berevolusi dari Homo habilis yang usianya jauh lebih tua.

“Kontroversi utama mengenai hobbit adalah seputar apakah mereka kemungkinan adalah bentuk cacat dari manusia modern ... Saya pikir gagasan seperti itu sudah mati," katanya.

Penelitian ini menemukan sejumlah titik perbedaan antara kerangka tubuh Homo floresiensis dan kerangka tubuh milik Homo erectus.

Tengkorak Homo floresiensis, yang juga dikenal dengan sebutan hobbit
Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisa karakteristik tengkorak Homo Floresiensis atau Hobbit.

Supplied: ANU


Ilmuwan yang memimpin penelitian ini Debbie beralasan struktur rahang Homo floresiensis tidak konsisten dengan struktur rahang Homo erectus.

“Kami meneliti apakah Homo floresiensis merupakan keturunan dari Homo erectus,” katanya.
“Secara logika, akan sulit memahami bagaimana mungkin anda bisa mengalami kemunduran – mengapa rahang Homo erectus mengalami evolusi mundur ke kondisi primitif yang kita temui pada Homo floresiensis?”
Para peneliti mengatakan mereka 99 persen yakin kalau spesies Homo floresiensis bukan merupakan keturunan dari Homo erectus, dan sangat mungkin menghapuskan teori kalau Hobbit merupakan manusia modern yang cacat.

Diterjemahkan pada pukul 17:45 WIB, 23/4/2017 oleh Iffah Nur Arifah. Simak beritanya dalam artikel Bahasa Inggris disini.