ABC

Film Jihad Selfie Ingatkan Pentingnya Bonding Orang Tua dan Anak

Perekrutan remaja untuk ikut berperang bersama ISIS di Timur Tengah menjadi fenomena baru yang meresahkan di berbagai negara. Pengamat isu terorisme yang tengah mengambil PhD di Monash Universitas Australia, Noor Huda Ismail mengangkatnya dalam film dokumenter ‘Jihad Selfie’ yang penayangan perdannya dilakukan pekan ini di Jakarta. Namun dia lebih memilih menyebut filmnya sebagai film parenting ketimbang film tentang radikalisme.

Teuku Akbar Maulana (17 tahun), adalah remaja pintar asal Aceh yang mendapat beasiswa dari pemerintah Turki untuk belajar agama di Imam Katip High School – setara dengan Madrasah Aliyah di Indonesia – di Kayseri.
Ia menjadi tokoh utama dalam film dokumenter Jihad Selfie karya Noor Huda Ismail. Dalam film itu diceritakan Akbar tengah resah alias 'galau' mempertimbangkan ajakan teman satu asramanya dari Indonesia bernama Yazid untuk ikut berperang bersama ISIS di Suriah.
Di puncak kegalauannya mempertimbangkan niatannya tersebut, ketika tengah menunggu seseorang yang hendak mengantarkannya ke perbatasan Suriah yang hanya berjarak beberapa jam saja pada 2014, Teuku Akbar Maulana bertemu dengan Noor Huda Ismail, pengamat isu terorisme dan mahasiswa PhD Politik dan Hubungan Internasional di Monash University di sebuah kedai kebab di Kayseri. Keduanya pun berkenalan dan saling berbagi cerita.
Kisah Akbar ini menginspirasi Noor Huda Ismail untuk mengangkat kisah perekrutan remaja oleh ISIS yang gencar dilakukan di media sosial internet.

Screening Film Jihad Selfie di Jakarta
Akbar Maulana (kiri), remaja yang batal berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS bersama dengan Noor Huda Ismail (kanan) dalam acara pemutaran film Jihad Selfie di Jakarta (24/7).

Iffah Nur Arifah


Akbar yang hadir dalam acara Screening film Jihad Selfie bersama Noor Huda Ismail di daerah Kemang, Jakarta pada Minggu (24/7) mengaku tertarik ikut bergabung menjadi tentara ISIS setelah melihat Yazid, teman satu asramanya sesama pelajar dari Indonesia yang sudah lebih dulu bergabung menjadi tentara ISIS, muncul di akun Facebook dan menggunggah foto sedang memegang senjata AK-47.
“Begitu lihat foto Yazid pegang senjata, dia keliatan keren, macam TNI, apalagi kemudian ada banyak teman yang kasih komentar termasuk temen-temen cewek itu, wah saya jadi kepingin juga keliatan hebat kayak gitu, seru” katanya.
Akbar juga mengatakan ketika itu dirinya memang sedang jenuh belajar dan tinggal jauh dari orang tua. Jadi dia berusaha mencari jati diri dan tantangan baru.
“Saya juara umum di sekolah, rutinitas di sekolah begitu-begitu saja membuat saya jenuh. Jadi saya ingin melakukan sesuatu yang lain dan disitu dorongan maskulinitas untuk berjihad dan ikut berperang sangat menggoda, “
Teuku Akbar Maulana yang kini masih duduk di kelas terakhir di sekolah Katip di Imam Katip High School mengaku pulang dari sekolah Ia dan teman-temannya seperti Yazid memang sering menghabiskan waktu berjam-jam di warnet bermain di media sosial, platform yang banyak dimanfaatkan ISIS untuk menyebarkan paham radikal dan melakukan perekrutan.
“Mereka gencar mengajak lewat Facebook, Saya diberitahu ayat-ayat mengenai berjihad, foto-foto kondisi di Suriah, sampai dijanjikan bayaran dan makan enak setiap hari”
Namun pada akhirnya Akbar Maulana memutuskan untuk tidak berangkat ke Suriah, dan alasan terbesarnya adalah karena factor orang tuanya.
“Orang tua saya sejak awal memang tidak izinkan saya berangkat. Tidak sanggup saya membayangkan betapa sedihnya nanti ibu dan ayah saya, terutama ibu saya,tidak sanggung saya membayangkan ibu saya menangis begitu mendengar kabar kalau saya nanti mati di sana, seperti orang tua Yazid yang saya ketahui sakit-sakitan setelah mengetahui anaknya yazid tewas di Suriah, Saya tidak mau orang tua saya seperti itu.”

Akbar Maulana
Akbar Maulana tertarik bergabung dengan ISIS setelah melihat rekannya sesama pelajar Indonesia tampak gagah berfoto memegang senjata AK-47.

Iffah Nur Arifah


Film parenting
Meski banyak mengupas pola-pola perekrutan dan gerakan radikalisme di Indonesia dan luar negeri, menurut Noor Huda Ismail, film jihad selfie karyanya ini bukan film tentang gerakan radikal, tapi baginya film ini lebih mengusung isu pengasuhan anak atau parenting.
“Sebagai orang yang banyak mengikuti isu gerakan radikal dan terorisme, saya sudah hafal sekali dengan pola-pola berbagai kejadian terorisme di Indonesia yang selalu dilakukan oleh para pemain yang sama. Dan dulu butuh proses dan waktu yang lama untuk bisa masuk ke jaringan teroris,”
“Tapi sekarang situasinya berbeda, ISIS merekrut anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bersinggungan dengan gerakan-gerakan radikal. Mereka hanya remaja biasa, remaja gaul yang gemar main di internet dan tanpa sadar akhirnya mereka di doktrin untuk ikut berperang atau melakukan kekerasan atas nama jihad. Ini mengerikan sekali,”
“Isu terorisme sekarang ini telah mengalami pergeseran, ini bukan lagi menjadi isu keamanan saja tapi juga menjadi isu sosial, “
Menyikapi hal ini, Noor Huda Ismail melihat peran keluarga amat penting dalam mencegah penyebaran paham radikal tersebut.

“Saya membuat film ini karena Saya ingin memberitahu kalau sangat penting orang tua memiliki hubungan yang erat dengan anak. Karena hal itulah yang akhirnya menyelamatkan anak remaja seperti Akbar mengurungkan niatnya pergi ke Suriah.”
“Saya melihat Akbar memiliki hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tuanya, berbeda dengan dua sahabatnya yang ikut bergabung dengan ISIS, mereka memiliki latar belakang keluarga yang tidak harmonis seperti ayah dan ibunya bercerai dan lain-lain. Jadi saya melihat bonding ini sangat penting, begitu juga dengan pendidikan terutama cara berpikir kritis.”

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

YOUTUBE: trailer Jihad Selfie


Bonding atau keakraban jalinan kebatinan yang kuat antara anak dengan orang tua ini menurut Noor Huda Ismail amat penting dalam membentengi anak-anak dari gencarnya doktrinasi paham radikal di internet.
“Tren digital memang sudah pasti tidak akan bisa dibendung, tapi saya tetap yakin manusia tetap manusia. Hubungan antara orang tua dan anak atau bonding itu tidak akan tergantikan dan terkalahkan.”
“ Oleh karena itu kita harus dorong agar ada komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak dan orang tua harus menantang anak untuk berpikir kritis. Jangan mau begitu saja menerima informasi yang dicekoki orang di media social, tapi harus dikritisi dan kita harus mengubah ini melalui pendidikan.”
Ika Ardina, salah seorang penonton yang hadir membawa putrinya yang juga masih ABG mengatakan film ini harus ditonton oleh para orang tua yang memiliki ABG.
“Ternyata yang banyak bergabung dengan ISIS adalah mereka yang terhitung masih ABG, anak muda yang masih galau, gaul gak semua anak pesantren. Dan banyak juga dari mereka yang gak mikir soal agama, tapi cuma mau keliatan keren dan gagah saja, sesuatu yang ABG banget. Makanya orang tua harus nonton film ini biar tahu dan waspada.”
Noor Huda Ismail mulai membuat project film perdananya ini sejak Maret 2015 lalu dengan lokasi pengambilan gambar tidak hanya di Turki, tetapi juga di Melbourne, Australia, dan sejumlah kota di Indonesia. Selain kisah Akbar, film dokumenter berdurasi 49 menit ini juga menggambarkan penyebaran ideologi khilafah ISIS di sejumlah kota di Indonesia, seperti di Jakarta dan Solo.
Film ini pertama kali ditayangkan dalam International Workshop of Counter Violence Extremism di Swiss pada Juni lalu. Sementara untuk di Indonesia, Nood Huda Ismail memilih tidak mengkomersilkan filmnya. Film berdurasi 49 menit ini hanya ditayangkan dalam forum screening atau pemutaran film bukan di bioskop.
“Bagi saya ini sebenarnya film pribadi yang saya tujukan untuk kedua anak saya, makanya saya tidak komersilkan dengan ditayangkan di bioskop. Tapi saya dengan senang hati mau berbagi kepada siapa saja yang mau memutarkan film ini. Silakan menghubungi saya akan dengan senang hati hadir. “ katanya.
Noor Huda Ismail mengaku Ia juga akan menindaklanjuti film Jihad Selfie ini dengan membuka call center atau forum yang bisa menjadi wadah berkomunikasi bagi para orang tua dan remaja dalam menyikapi penyebaran paham radikal di kalangan remaja di internet.