ABC

F-111 terakhir AU Australia hias Museum Udara Pasifik

Angkatan Udara Australia - The Royal Australian Air Force (RAAF) menggelar upacara perpisahan terakhir dengan pesawat F-111 yang tersisa di Markas Amberley, sebelah barat Brisbane. Pesawat jet tempur legendaris itu  akan diterbangkan ke Museum Udara Pasifik di Hawaii.

Pesawat tempur F-111 kesayangan Angkatan Udara Australia itu kini sedang dalam perjalanan terakhirnya menuju Museum Udara Pasifik di Pearl Harbour.

"Ini merupakan hari yang cukup bersejarah bagi perspektif Angkatan Udara Australia, khususnya bagi anggota kami yang pernah menerbangkan F-111... melihat pesawat terakhir yang kami miliki itu akan berangkat ke Hawaii," ucap Komandan Satuan Clive Wells, yang mengatur penghapusan seluruh unit pesawat tempur F-111 milik RAAF.

Dari total 43 unit pesawat tempur F-111 yang dibeli Angkatan Udara Australia (RAAF) dari Amerika Serikat, 8 diantaranya jatuh, 23 dikuburkan dan sisanya dipajang di sejumlah markas tentara dan museum di seluruh Australia.

Pesawat ini terkenal dengan kemampuannya untuk menukik tajam secara cepat dalam membombardir sasaran. Karena kemampuannya ini F-111 mendapat julukan "The Pig".

Pesawat tempur F-111 terakhir yang tersisa itu sudah dimuat dan akan diterbangkan dengan pesawat pengangkut C-17 ke Honolulu.

Komandan Satuan Udara, Paul Long, yang bertugas menerbangkan pesawat angkut tersebut mengatakan ini merupakan tugas pengangkutan logistik  luar biasa besar karena yang menjadi penumpang pesawatnya adalah pesawat jet tempur .

"Ini pengangkutan pesawat tempur pertama yang dilakukan oleh RAAF dan mungkin oleh siapapun," katanya.

"Butuh upaya dari banyak orang untuk menerbangkan pesawat ini, seperti mengukur beratnya, menentukan titik ikatnya dan menentukan bagaimana membawanya,” kata pria yang memimpin Skuadron 36 RAAF tersebut.

"Berat bersih kerangka pesawat yang kami  angkut mencapai 38,000 pound atau sekitar 17.200kg."

Perpisahan penuh emosi bagi pilot penerbang

Melihat pesawat tempur tunggangannya sedang dipersiapkan untuk misi terakhirnya merupakan pemandangan yang penuh emosi bagi mantan Letnan Penerbang Bob Sivyer.

Pria berusia 69 tahun itu adalah orang yang menerbangkan pesawat tempur tersebut ke Australia dari Amerika Serikat tahun 1973.

"Kita terbang dari Sacramento ke Honolulu, lalu terbang lagi ke Pago Pago dimana kita sempat beristirahat sehari sebelum melakukan pendaratan terakhir," kenang Bob Sivyer.

"Pesawat ajaib, benar-benar pesawat tempur terbaik yang pernah saya terbangkan,” tuturnya mengenang F-111.

Pensiunan Komodor Udara, Peter Growder juga ikut menerbangkan pesawat itu untuk pertama kalinya.

"Kita sangat bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari sejarah ini, “katanya.

"Ketika kami terbang dari Brisbane, sekolah-sekolah sengaja diliburkan sehingga anak-anak sekolah bisa melihat kami menerbangkan F-111 di udara,” tuturnya.

"Orang-orang masih kerap menceritakan pengalaman mereka, apa mereka lakukan pada 1 Juni 1973 lalu, ketika menyaksikan F-111 terbang diudara.”

F-111 sangat terkenal di kawasan tenggara Queensland karena keikutsertaannya dalam even perahu layar tahunan di kawasan tersebut.

“Mereka dikenal sebagai pesawat yang hebat untuk merusak dan membakar sasarannya dan saya rasa itu adalah bagian terbaik untuk diingat dari F-111, "kata Komandan Wing Wells.

Jet tempur F-111 resmi dipensiunkan penggunaannya pada tahun 2010, dan telah digantikan oleh pesawat tempur yang lebih modern dan canggih - super Hornets.