ABC

Erna Witoelar Terima Gelar Doktor Kehormatan Dari Universitas Australia

Aktivis sosial dan lingkungan Indonesia, yang juga mantan Menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid, Erna Witoelar, mendapat gelar doktor kehormatan dari Griffith University di Australia. Ia dianggap berperan besar dalam meningkatkan hubungan Australia-Indonesia di bidang pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim.

Erna (72) menerima penghargaan tersebut pada hari Selasa (23/7/2019) di Brisbane, negara bagian Queensland, Australia, dalam sebuah upacara resmi yang disaksikan civitas akademika Griffith dan turut dihadiri Konsul Jenderal RI di Sydney, Heru Subolo.

Erna Witoelar saat menerima gelar doktor kehormatan dari Griffith University (23/7/2019).
Erna Witoelar saat menerima gelar doktor kehormatan dari Griffith University (23/7/2019).

Supplied

Dalam pidatonya, Wakil Rektor Griffith University, Profesor Carolyn Evans, menyebut bahwa Erna adalah pelopor internasional dalam bidang pembangunan berkelanjutan dan pejuang masyarakat sipil yang menyampaikan pandangan kritis kepada berbagai komunitas di kawasan Asia-Pasifik sekaligus menggerakkan perubahan global.

"Sudah sepatutnya bahwa Griffith University seharusnya memberi penghargaan kepada Erna Witoelar sebagai pengakuan atas jasanya yang luar biasa terhada masyarakat Asia-Pasifik, khususnya sebagai advokat untuk perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan dan atas jasanya kepada Universitas."

Erna Witoelar bersama Konsul Jenderal RI di Sydney
Erna Witoelar bersama Konsul Jenderal RI di Sydney, Heru Subolo (kedua dari kanan) dan istri, salah satu WNI yang menjadi dosen di Griffith University dan Rahmat Witoelar (pojok kiri).

Supplied

Pemilik nama asli Andi Erna Anastasjia Walinono ini memulai kiprah internasionalnya sejak puluhan tahun lalu, sejak ia aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat di Indonesia. Ia sendiri mengawali karir keaktivisannya di bangku kuliah Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lalu meneruskannya di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pasca lulus kuliah. Erna lalu mendirikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama beberapa rekannya, salah satunya Emil Salim, di tahun 1980.

Keterlibatannya di universitas Australia itu dimulai 13 tahun lalu dan makin intens ketika ia mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Sebenarnya, keterlibatan saya dimulai di tahun 2006 lalu, mempromosikan Piagam Bumi di Brisbane. Sejak itu saya mengunjungi Griffith beberapa kali sebagai Duta Besar Khusus PBB untuk MDGs (Tujuan Pembangunan Milenium) di Asia dan Pasifik," ujar Erna saat menerima penghargaan (23/7/2019).

Saat memberi sambutan, Erna mengatakan, karakter pemberani yang dimilikinya sejak kecil telah membawanya ke dunia aktivisme hingga saat ini. Peran kedua orang tuanya dalam membentuk integritas dan keteguhannya dalam menjalani profesi juga tak kalah penting.

"Tak perlu dikatakan lagi, integritas dan kejujuran ayah saya yang kuat, ditambah kegigihan dan semangat ibu saya untuk memberdayakan anak perempuan adalah nilai-nilai dan semangat yang saya bawa sebagai dasar untuk mengembangkan masa depan saya," tegas Erna, yang merupakan istri mantan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

Menurut catatan konsul Hermanus Dimara dari KJRI Sydney kepada ABC (23/7/2019), Erna Witoelar adalah penerima gelar doktor kehormatan pertama di wilayah New South Wales, Queensland dan Australia Selatan dalam tiga tahun terakhir.

Ikuti berita-berita lain di situs ABC Indonesia.