ABC

Dunia Hari Ini: Jepang Mulai Buang Air Bekas Radiasi Nuklir ke Lautan

Anda sedang membaca Dunia Hari Ini, edisi Kamis 24 Agustus 2023. 

Kami telah merangkum berita utama yang terjadi dalam 24 jam terakhir dari sejumlah negara, agar Anda mudah mengikuti perkembangan dunia.

Jangan lupa follow kami di Instagram @abcindonesia untuk mendapatkan informasi terkini dan kisah inspiratif.

Berita yang menjadi headline di dunia hari ini datang dari Jepang.

Jepang membuang air limbah nuklir

Setelah mendapat penentangan dari para nelayan dan negara-negara tetangga, operator pembangkit listrik tenaga nuklir (TEPCO) Fukushima mulai membuang air olahan bekas radiasi nuklir ke Laut Pasifik.

Pembuangan akan dimulai dengan jumlah yang relatif kecil, yaitu air limbah dari 30 tangki penyimpanan. Ada 1.020 total tangki, sehingga prosesnya bisa memakan waktu 30 tahun.

Kecepatan pembuangan sekitar 500.000 liter air limbah olahan per hari-nya melalui pipa bawah laut yang membentang satu kilometer dari daratan Jepang.

Jepang berjanji jika air olahan bekas radiasi nuklir tersebut tidak akan membahayakan kesehatan masyarakat setempat, kehidupan laut, atau lingkungan, karena akan dilepaskan setelah melewati sistem penyaringan yang ketat dan diverifikasi aman.

Bos kelompok Wagner Rusia tewas

Otoritas penerbangan sipil Rusia mengatakan Yevgeny Prigozhin, bos dari kelompok Wagner dan komandan Wagner Dmitry Utkin berada di dalam jet pribadi yang jatuh di wilayah Tver, utara Moskow.

Dari 10 penumpang yang berada di dalam pesawat, dilaporkan tak ada yang selamat, sementara delapan mayat sudah ditemukan.

"Kepala Grup Wagner, Pahlawan Rusia, patriot sejati Tanah Airnya, Yevgeny Viktorovich Prigozhin meninggal akibat tindakan pengkhianat Rusia," bunyi sebuah unggahan di salah satu saluran Telegram.

Yevgeny telah disebut sebagai orang di balik pemberontakan yang terjadi bulan Juni lalu, ketika pasukan pribadinya sempat menguasai pusat regional Rostov-on-Don dan mulai bergerak menuju Moskow.

Satelit mata-mata Korea Utara gagal diluncurkan

Upaya kedua Korea Utara untuk meluncurkan satelit mata-mata di orbit gagal, setelah roket pendorongnya mengalami masalah pada tahap ketiga.

Media pemerintah melaporkan pihak otoritas antariksa berjanji untuk mencobanya lagi pada bulan Oktober.

Percobaan pertamanya pada bulan Mei juga berakhir dengan kegagalan ketika roket Chollima-1 yang baru jatuh ke laut.

Korea Utara, yang dipercayai memiliki senjata nuklir, sudah berupaya untuk menempatkan satelit mata-mata militer pertamanya ke orbit untuk memantau pergerakan pasukan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Undangan dari Vanuatu

Australia dan China diundang sebagai "tamu istimewa" oleh Perdana Menteri Vanuatu, sebagai tuan rumah sekaligus ketua Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) ke-22 yang berlangsung di Port Vila pekan ini.

Duta Besar China untuk Vanuatu, Li Minggang mengatakan Beijing ingin bekerja sama dengan MSG dalam bidang ekonomi, investasi, pariwisata, perubahan iklim, kesehatan, kepolisian, dan lainnya.

Li mengatakan China memberikan dukungan tulus kepada negara-negara Pasifik demi mencapai pembangunan yang mandiri dan berkelanjutan.

Ia juga menyebut China sudah melakukan lebih dari 100 proyek bantuan di kawasan Pasifik, termasuk 200 pasokan, lebih dari 600 personel medis, dan membimbing lebih dari 10.000 profesional.

Teknologi AI bantu lacak anak korban pelecehan seksual

Sebuah penyelidikan global sudah mengidentifikasi lebih dari 300 anak yang kemungkinan merupakan korban pelecehan seksual dengan bantuan teknologi pengenalan wajah, yang saat ini dilarang di Australia.

Meski sudah berpuluh-puluhh tahun, identitas anak-anak tersebut masih dianggap sebagai kasus yang belum terselesaikan, karena minimnya petunjuk pada materi pelecehan online yang disita pihak berwenang.

Temuan tersebut merupakan bagian dari Operation Renewed Hope, yang dijalankan oleh Unit Investigasi Eksploitasi Anak di Pusat Kejahatan Dunia Maya di Amerika Serikat, dan akan selesai awal bulan ini.

Namun teknologi yang digunakan untuk mengidentifikasi ratusan korban tersebut dilarang di Australia, karena ditemukan melanggar Undang-Undang Privasi Australia.