ABC

Dua Bahasa Dalam Satu Keluarga

Tak dapat dipungkiri, banyak keluarga muda Indonesia yang kini menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah berkurikulum internasional, dengan bahasa Inggris sebagai medium utamanya. Sebagian besar dari mereka bahkan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di rumah, selain bahasa Indonesia.

Masing-masing keluarga memiliki alasan tersendiri, mengapa mereka mempraktekkan pola komunikasi tersebut. Ada yang termotivasi karena perkembangan pesat globalisasi, ada juga yang terpanggil karena memikirkan masa depan anak. Setidaknya itu yang dituturkan dua keluarga muda di Jakarta kepada Nurina Savitri dari ABC International.

Sejak anak-anak mereka masih bayi, pasangan Agus Sunarto dan Teresita Poespowardojo telah membiasakan diri untuk berkomunikasi dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, kepada dua buah hati mereka, Leona dan Amare.

Teresita, yang akrab dipanggil Sita, mengatakan, bahasa Inggris diajarkan kepada buah hati mereka sejak usia keduanya masih bayi. Suami istri ini berbagi peran, Sita mendapat tugas untuk selalu berbicara dalam bahasa Inggris, sementara Agus sang suami berperan sebagai penutur bahasa Indonesia.

Agus dan Sita memang menyadari betapa pentingnya penguasaan bahasa asing, utamanya bahasa Inggris, di tengah era globalisasi sekarang ini. Namun sejatinya mereka memiliki alasan mendasar lain, sehingga memutuskan untuk melibatkan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.

“Buat menangkal sinetron, dulu kan heboh banget. Jadi supaya mereka nggak mengerti, kita berdua kerja, mereka di rumah sama mbak. Kalau-kalau mereka nonton TV, kita ‘protect’ lah untuk hal-hal yang seperti itu, manfaatnya di situ” urai Agus.

Strategi yang diterapkan pasangan Agus dan Sita dalam berkomunikasi dengan kedua anak mereka, memang tak sama. Ketika si sulung masih berusia di bawah 2 tahun, mereka sempat menerapkan komunikasi bahasa Inggris secara penuh. Sementara pada si bungsu, mereka merubah strategi dengan menguatkan penguasaan bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Karena penerapan pola komunikasi yang berbeda, Sita mengaku, hal tersebut menimbulkan situasi cukup unik di antara kedua anak-nya. “Kalau kakaknya ngobrol sama adiknya..’itu bahasa Indonesia-nya apa?’..kalau adiknya ngobrol sama kakaknya...’itu bahasa Inggrisnya apa?,” ujar Sita.

Tak hanya Leona dan Amare yang menjalani pola komunikasi dua bahasa, Tristan; Dexter; dan Evander, tiga putra dari seorang ibu muda bernama Miranda Buana, juga berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan kedua orang tuanya.

Miranda dan sang suami punya motivasi kuat mengapa mereka bertekad mengajarkan bahasa Inggris sejak dini kepada ketiga putra mereka. Pasangan suami istri ini menginginkan tiga jagoan mereka kelak berkuliah di luar negeri, dan tidak mengalami kesulitan yang sama seperti pada jaman mereka dulu bersekolah.  Mereka juga berusaha melihat prospek ke depan, karena dunia kerja saat ini dan profesi apapun di masa mendatang, memerlukan bahasa Inggris.

Tantangan Berdua-bahasa

Menerapkan dua bahasa di dalam rumah bukanlah persoalan mudah. Bagi keluarga Agus dan Miranda, ada efek samping yang sempat mereka rasakan akibat pola komunikasi bilingual ini.

Miranda mengungkapkan, putra keduanya sempat mengalami keterlambatan berbicara hingga usia 4 tahun. Menurut psikolog yang dikunjunginya, kondisi demikian sangat lazim dihadapi oleh anak dengan lingkungan dua bahasa, karena anak tersebut mengalami kebingungan berbahasa.

Hal serupa juga dikeluhkan Agus. Ia dan Sita sempat menemui ahli perkembangan anak dan mengeluhkan kemampuan berbicara putrinya kala itu. Berdasarkan keterangan ahli yang mereka temui, tingkat penyerapan anak-anak yang tumbuh dengan pola komunikasi multi-bahasa, biasanya lebih lama.

Meski demikian, menurut penelitian University of Washington di Amerika Serikat, orang tua seharusnya tak perlu khawatir jika mengalami kondisi yang terjadi pada Sita dan Miranda. Karena bagaimanapun juga, saat yang tepat untuk memulai pengajaran bahasa adalah sejak bayi berusia satu tahun. Periode ini adalah masa terpenting dari pertumbuhan otak bayi setelah ia dilahirkan. Bayi mulai memiliki memori dan mampu memproses perbendaharaan kata.

Sementara di Ibukota Jakarta, mata pelajaran bahasa Inggris sudah dihapuskan dari kurikulum sekolah dasar sejak tahun ajaran 2013/2014.  Namun demikian, bahasa Inggris masih tetap diajarkan walau statusnya berganti menjadi muatan lokal atau ekstrakurikuler.