ABC

Dolar Australia Anjlok, Petani dan Eksportir Makanan Malah Untung

Nilai tukar dolar Australia terus meluncur ke level terendah dalam enam tahun terakhir. Namun hal ini justru menguntungkan sektor pertanian dan ekspor makanan.

Pada Rabu (11/3) lalu, dolar Australia jatuh ke level 75,6 sen AS, dan hari Senin ini (16/3), dolar Australia diperdagangkan di kisaran 76.2 sen AS.

Bank Selandia Baru, yang merupakan bagian dari Bank National Australia, memperkirakan, dolar akan terus turun hingga level 73 sen AS pada pertengahan 2016, dan kemudian naik ke 75 sen AS pada akhir tahun depan.

Dalam perhitungan Federasi Petani Australia, untuk setiap 1% depresiasi atau penurunan nilai mata uang, keuntungan bersih sektor pertanian naik sebesar 220 juta dolar (atau sekitar Rp 2,2 triliun).

Penurunan harga komoditas Australia seperti bijih besi adalah cerita lama, kata Raiko Shareef, ahli strategi mata uang dari Bank Selandia Baru.

"Ini terkait kebijakan moneter di Amerika Serikat. Secara luas, suku bunga AS diharapkan naik tahun ini, kami memperkirakannya pada bulan Juni, dan itu menjadi pendorong kenaikan dolar AS, dan menurunnya dolar Australia," jelas Raiko.

Ia mengatakan, pemotongan suku bunga Australia pada bulan Februari, dan pemotongan lainnya yang diperkirakan terjadi bulan Mei, sudah diperhitungkan dalam dolar Australia.

Lembaga prediksi komoditas ‘ABARES’ tengah megupayakan agar dolar Australia berada di level 76 sen AS, pada periode 2016-17.

Tapi lembaga BlackRock, perusahaan manajemen keuangan terbesar di dunia, memprediksi lebih jauh, mereka memperkirakan dolar Australia akan jatuh ke level 70 sen pada akhir tahun ini.

Ini adalah berita bagus bagi sektor pertanian dan ekspor makanan. Dalam perhitungan Federasi Petani Australia, untuk setiap 1% depresiasi atau penurunan nilai mata uang, keuntungan bersih sektor pertanian naik sebesar 220 juta dolar (atau sekitar Rp 2,2 triliun).

Sektor produk susu bernilai 13 miliar dolar (atau sekitar Rp 130 triliun) dan ekspor senilai 3 miliar dolar (atau sekitar Rp 30 triliun).

"Setiap depresiasi lima sen terhadap dolar Australia, itu setara dengan 2,2 sen per liter atau 30 sen per kilogram susu bubuk," utara Charlie McElhone, manajer perdagangan dan strategi industri di lembaga Dairy Australia.

"Itu termasuk biaya input yang lebih tinggi, dari bahan bakar dan pupuk impor," tambahnya.