ABC

Diberitahu Terinfeksi PMS Lewat SMS, Pasien lebih Cepat Berobat

Pasien yang mendapat pemberitahuan dirinya terinfeksi penyakit menular seksual (PMS)  melalui pesan teks akan mencari pengobatan lebih cepat daripada mereka yang lebih memilih metode tradisional.

Dalam studinya, Doktor Marisa Giles menemukan kalau 72% pasien yang terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS atau STD)  akan berobat beberapa hari setelah menerima pemberitahuan melalui pesan tertulis.
 
Dia mengatakan pasien yang berusia 15 hingga 25 tahun lebih cepat merespon pemberitahuan tertulis ketimbang melalui panggilan telepon, email atau surat.

Dr Giles mengatakan infeksi kelamin Khlamidia merupakan kasus infeksi penyakit menular seksual yang paling sering dijumpai.

"Kami bisa memberitahukan 30 sampai 40 pasien kalau mereka menderita infeksi Khlamydia," katanya.

"Kita tahu ini hanya merupakan fenomena gunung es saja, karena ada lebih banyak orang muda di luar sana yang tidak memeriksakan dirinya padahal sangat mudah melakukannya,”

"Untuk pria, mereka hanya perlu buang air kecil di tabung sementara bagi perempuan hasilnya bisa diketahui dari satu kali usapan saja dibagian vaginanya,” katanya.

Dia mengatakan infeksi penyakit menular seksual perlu diatasi sesegera mungkin.
 
Pesan teks lebih rahasia 
 
Dr Giles mengatakan dirinya paham mengapa pesan text lebih efektif mendorong pasien untuk segera berobat.
 
“Percakapan telepon sangat mengganggu ketika pasien berada di sekolah, mereka tidak bisa mengangkat telepon itu dan memberikan respon,” katanya.

"Jika mereka sedang bersama dengan teman-temannya, maka situasinya akan tidak nyaman untuk untuk mengangkat panggilan telepon. Tapi jika
pemberitahuannya disampaikan dalam bentuk pesan teks, maka itu jauh lebih bijaksana karena bersifat rahasia daripada panggilan telepon,”

Orang-orang muda merupakan kelompok penduduk yang paling banyak terpapar infeksi klamidia yang dilaporkan di Australia Barat selama 12 bulan terakhir. 

Remaja berusia 15 sampai 19 terdiri mencakup 24 persen dari kasus yang dilaporkan selama 12 bulan sebelum 1 Juli lalu, menurut angka terbaru dari Departemen Kesehatan. 

Sementara kelompok masyarakat berusia 20 hingga 24 tahun mencakup 35 persen dari pasien infeksi klamidia yang tercatat dalam data Departemen Kesehatan tersebut.