ABC

Dian Berbagi Pengalaman Buka Restoran di Australia

Dian Indira Clayton tidak memiliki pengalaman di bidang kuliner sebelumnya. Awalnya ia belajar kuliner di Australia, hingga memutuskan untuk membuka restoran sendiri.

Cafe Batavia berada di kawasan perkantoran di kawasan St Kilda Road, Melbourne. Restoran kecil yang berada di pojok sebuah bangunan terlihat ramai saat Australia Plus menemui Dian di jam makan siang.

Sebagai pemilik restoran, Dian juga menjadi kepala koki yang masih turun tangan untuk memasak bagi para pelanggannya, dengan dibantu beberapa asistennya.

Berikut wawancara kami bersama Dian.

Dian Clayton, chef dan pemilik Cafe Batavia di Melbourne.
Dian Clayton, chef dan pemilik Cafe Batavia di Melbourne.

Foto: Erwin Renaldi.

Sudah berapa lama terjun di bidang kuliner?

Mungkin tiga tahun lebih sedikit. Awalnya, pas saya kembali ke Austrlaia saya masih bertanya-tanya apakah mau kerja dengan orang lain atau kerja kantoran. Tapi karena sudah kepentok usia saya kepikiran untuk kerja di dapur saja. Ternyata untuk bisa kerja di industri kuliner di Australia itu harus memiliki kualifikasi dan ada persyaratan yang harus dipenuhi, terutama soal kebersihan penyajian makanan. Lalu saat itu saya memutuskan sekolah lagi dengan mengambil Certificate III di bidang kuliner, jurusannya lebih ke patisseries.

Lalu setelah itu langsung membuka restoran?

Sebetulnya saya agak takut karena belum pernah sama sekali bekerja di bidang hospitality. Saat itu saya masih takut, tidak yakin, tapi ternyata suami saya tanpa sepengetahuan saya sudah mendapat tempat ini untuk diubah menjadi restoran. Padahal saya ingat, saat itu saya masih harus menyelesaikan satu lagi tesis. Tapi karena sudah dapat toko ini, akhirnya saya mesti belajar dengan menyemplung langsung.

Bagaimana respon yang diterima Dian dari para pelanggan saat awal membuka restoran?

Positif sekali, kalau pakai istilah saya mereka tahu dari mulut ke mulut. Karena waktu baru buka, jujur saja, saya tidak beriklah karena saya takut dengan reaksi warga Australia akan seperti apa. Termasuk juga seperti apa reaksi warga Indonesia di Melbourne. Saya juga masih masih mau meraba-raba siapa sebenarnya pelanggan saya.

Dari beberapa menu yang saya lihat, ada menu lele goreng hingga rujak cinggur, apakah ini yang dijagokan sejak awal?

Bukan, awalnya saya hanya memasak makanan-makanan biasa yang kemudian disimpan di pemanas dan dimana pelanggan hanya bisa memilih yang ada di-display saja. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai mengkreasikan makanan sendiri, seperti nasi goreng, mie goreng, sop buntut. Karena saya mulai belajar sedikit demi sedikit bagaimana sistem penyimpanan dan kecepatan di dapur. Saya mencoba mengukur kemampuan sendiri dalam menguasai dapur. Baru kemudian berani menambah menu yang sekarang makin beragam dan bisa dipesan langsung.

Pecel Lele, salah satu sajian di Cafe Batavia, Melbourne.
Pecel Lele, salah satu sajian di Cafe Batavia, Melbourne.

Foto: Erwin Renaldi.

Siapa pelanggan Anda saat ini?

Kalau saya bilang 60 persen adalah warga Australia, 20 persen yang berasal dari India, dan 20 persen lainnya campuran, ada yang dari Indonesia dan Malaysia...

Lebih banyak warga lokal Melbourne, apa yang menjadi rahasianya?

Mungkin karena lokasi kita di sekitar perkantoran, itu satu. Kedua, saya baru tahu jika orang-orang Australia itu sangat suka sekali rendang. Pendekatan saya memang berbeda untuk orang Australia dengan orang Indonesia. Kalau orang Australia lebih memilih rendang, kari sayur, sampai terong balado pun mereka suka sekali. Jadi saya tahu dengan menjagai semua masakan tetap otentik, seperti kalau masakan yang pedas ya harus pedas, saya membuatnya pedas. Ternyata pelanggan sendiri yang menyesuaikan dan terseleksi sendiri. Tapi tetap saja saya pun memiliki masakan yang tidak pedas, seperti mie goreng.

Lantas apa tantangannya, karena Dian adalah pemilik, manajer, sekaligus juga kepala koki?

Waktu.... waktu yang menjadi tantangan saya. Kita harus selalu menjaga kualitas makanan, itu nomer satu ... buat saya itu kunci sukses makanan.