ABC

Developer China Tinggalkan Bengkalai Proyek di Australia

Sebuah proyek properti terkenal di Circular Quay, Sydney, Australia, yang dibeli raksasa properti komersil asal China Dalian Wanda Group, kini tampak kosong melompong.

Pernah suatu ketika developer ini dengan bangga menampilkan visi perusahaan mereka untuk proyek bernama One Sydney. Ini sebuah proyek pembangunan senilai miliaran dolar yang terdiri dari dua gedung besar.

Menurut Tim Murray dari J Capital mengatakan kemeriahan untuk megaproyek yang didukung China tersebut telah usai.

"Developer asal China yang telah membayar berlebihan untuk properti di Australia sekarang berupaya keras menemukan sumber pendanaan untuk membayar kesepakatan tersebut. Mereka semakin menjauhi transaksi besar dan deposit besar," katanya.

Pihak berwenang China, yang ingin membendung aliran dana dari China demi menstabilkan mata uang yuan, telah memperketat pembatasan investasi asing oleh perusahaan-perusahaan mereka.

Kekhawatiran utama adalah stabilitas keuangan China terancam oleh arus modal keluar, yang diperparah oleh pengembang properti.

Menurut David Chin, dirut Basis Point, Pemerintah China menganggap pembelian properti di luar negeri sebagai hal yang tidak masuk akal.

"Membayar uang untuk investasi mercusuar atau kepemilikan semu, membayar berlebih dengan harapan akan ada lebih banyak modal yang masuk. Hari-hari seperti itu sudah berakhir," katanya.

Developer asal Hong Kong Country Garden membeli lahan senilai $400 juta di pinggiran Melbourne beberapa bulan lalu.

Menarik untuk diketahui apakah akan terbangun satu rumah dari 4 ribu rumah yang direncanakan.

Investasi properti dibatasi

Petunjuk Pemerintah China kini mendorong investasi di sektor sumberdaya, pertanian dan teknologi.

Investasi properti seperti perhotelan dan perumahan, begitu pula olahraga dan film, saat ini masuk dalam daftar investasi yang dibatasi.

Dalian Wanda merupakan salah satu perusahaan yang kini diawasi pihak berwenang dan proyek Sydney One termasuk yang akan dibatasi oleh pihak berwenang China.

Menurut Chin dampak pembatasan atas proyek-proyek tertentu tergantung pada sejauh mana perkembangan proyek itu.

"Sejumlah developer yang belum memulai proyek mungkin ingin menjual lahan mereka, sedang menjualnya, atau bersikap menunggu saja," katanya.

"Developer lain yang sudah mulai, kemungkinan akan mendapat dana dan akan melaksanakan seluruh proses dan dalam proses tersebut mereka pasti mengumumkan besaran jumlah rencan rumah yang terjual," katanya.

Menurut Murray, jika para pengembang belum menyediakan dana, tidak mungkin bank-bank Australia akan membantu mereka dalam apa yang bisa menjadi pinjaman yang buruk.

"Saat ini, untuk mendapatkan pinjaman konstruksi dari perbankan Australia, Anda harus menjual 100 persen rencana perumahan itu dan tidak boleh satu pun untuk pembeli asing," jelasnya.

"Sekarang, pengembang properti China yang bermasalah mungkin sudah menjual 50 persen ke pembeli asing," tambahnya.

"Jadi mereka tidak memenuhi kriteria kecuali mereka membatalkan transaksi tersebut dan kemudian menjualnya kembali ke warga Australia," kata Murray.

Itulah sebabnya sejumlah developer China mencari pendanaan non-bank.

Pembatasan lebih lanjut

Kongres Partai Komunis China bulan ini menambah ketidakpastian karena ada kemungkinan perubahan besar dalam kepemimpinan partai dan susunan Komite Pelaksana Politbiro.

"Ada pandangan bahwa kendali modal akan semakin diperketat setelah kongres partai. Hal ini menjadi topik pembahasan di Kongres Partai," kata Murray.

Dia menjelaskan mata uang Yuan mungkin akan mendapat tekanan lebih lanjut karena suku bunga AS dan kenaikan Dolar, sementara harga properti China melunak.

Bisa juga mendorong kembalinya beberapa investor yang mencari harga murah.

"Saya kira pembatasan modal sangat efektif bagi pengembang properti karena hal itu pinjaman besar melalui bank besar dan kontrol ekuitas lainnya yang dapat dilakukan pemerintah," kata Murray.

"Namun, untuk investor kecil yang membeli properti, bisa jadi mereka akan kembali ke pasar pada 2018," ujarnya.

Pengembang properti China, yang melaksanakan 38 persen pembangunan perumahan di Australia tahun lalu, juga tidak akan hilang sama sekali.

Mereka mungkin terpaksa mencari kota-kota kecil dan murah di Australia dan pusat-pusat wisata regional.

"Dalam hal itu, masih merupakan investasi di Australia namun lebih murah. Mereka mungkin akan mengincar Cairns dan Perth," kata Chin.

Murray menambahkan keadaan benar-benar berbalik.

"Developer Australia telah menunggu, melihat harga gila-gilaan yang telah dibayarkan untuk lahan pembangunan," katanya.

"Sekarang mereka berpikir sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke pasar," kata Murray.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari berita ABC News di sini.