Dana Tak Jelas, Sekolah Islam Terbesar Australia Tetap Dibuka
Sekolah Islam terbesar Australia, yakni Malek Fahd, di barat daya Sydney, akan dibuka kembali pekan depan, di samping adanya upaya hukum atas dicabutnya pendanaan Pemerintah Federal senilai 19 juta dolar (atau setara Rp 190 miliar).
Menteri Pendidikan Australia, Simon Birmingham, mencabut pendanaan tersebut tahun lalu setelah munculnya masalah tata kelola dan manajemen keuangan, terutama dengan pemilik lahan sekolah, yakni Federasi Dewan Islam Australia (AFIC).
AFIC diduga menggunakan sejumlah dana bantuan melalui perjanjian sewa sekolah demi keuntungan.
Awal bulan ini, sekolah Malek Fahd kalah banding -untuk membatalkan pencabutan tersebut -di Pengadilan Tinggi Tata Usaha.
Pengadilan memutuskan, sekolah itu dikelola untuk mengeruk keuntungan dan bukanlah organisasi yang dijalankan dengan benar.
Pada Jumat (27/1/2017), sekolah ini telah mengumumkan kepada komunitas sekolah bahwa dana Pemerintah Federal masih akan turun selama jangka pendek, sambil menunggu banding di tingkat Pengadilan Federal atas putusan pengadilan tata usaha.
“Pendanaan Pemerintah kepada kami telah dikonfirmasi untuk saat ini. Menyusul pengajuan banding di tingkat Pengadilan Federal terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha bulan lalu, kami telah menerima konfirmasi tertulis bahwa dana Pemerintah (disesuaikan dengan sejumlah kondisi) terus berlanjut sementara banding tengah dipertimbangkan. Kami berharap banding akan diputuskan beberapa bulan lagi,” begitu bunyi pengumuman tersebut.
Deputi ketua dewan sekolah, Profesor John Bennett, mengatakan, pembicaraan sedang berlangsung.
“Saya masih percaya, peluang kami untuk berhasil dan memecahkan masalah-masalah yang masih tersisa cukup baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, “Selain mengambil tindakan di pengadilan untuk mendapatkan lebih banyak waktu dalam menyelesaikan isu yang beredar, kami tengah bernegosiasi dengan lembaga tertinggi yang memiliki lahan ini, yakni Federasi Dewan Islam Australia.”
“Kami sedang menunggu semua rekomendasi hukum dan negosiasi. Kami punya dua akuntan berpengalaman di dewan sekolah kami,” sambungnya.
Orang tua dukung pihak sekolah
Dr Fariha Dib-Kak dari Komite Penasehat Orang tua memiliki empat anak yang terdaftar di sekolah itu.
Ia mengatakan, suasana umumnya masih sangat positif meski sedang terjadi masa sulit.
“Mudah-mudahan sekolah bisa terus lanjut. Orang-orang masih mengatakan kepada saya ‘Sudahkah kamu membuat rencana alternatif?’,” tuturnya.
"Para orang tua dan siswa sangat setia kepada sekolah ini jadi saya masih merasa sekolah ini patut diperjuangkan," kata Dr Fariha.
Ia menyebut adanya beberapa keluarga yang telah meninggalkan sekolah, tetapi tak banyak.
“Saat ini masih ada 2.500 siswa yang terdaftar untuk pekan depan, yang kira-kira sama dengan jumlah tahun lalu,” jelasnya.
Siswa bertahan
Ini adalah periode yang menarik bagi Wafa Rahman, 12 tahun, yang mulai masuk SMA pekan depan.
Wafa telah bersekolah di Malek Fahd sejak sekolah dasar dan mengatakan, ia berharap untuk bertemu guru dan teman-teman baru ketika ia kembali pada hari Senin (30/1/2017).
Tapi kegembiraan itu diwarnai dengan kekhawatiran -ia mengatakan, dirinya khawatir sekolahnya mungkin ditutup sebelum akhir tahun.
"Mereka mengajarkan pendidikan yang cukup tinggi di sini dan saya benar-benar ingin menjadi bagian dari itu," kata Wafa.
“Ini adalah kekhawatiran ganda -memulai SMA dan tak yakin apakah sekolah saya akan ditutup dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua teman-teman saya ada di sini,” ungkapnya.
Ayah Wafa, yakni Fahmid Rahman, berasal dari Bangladesh dan telah tinggal di Australia selama 19 tahun. Ia juga anggota dari Dewan Islam New South Wales.
Ia mengatakan, semua orang tua lelah terhadap ulah saling menyalahkan dan hanya ingin masalah tersebut diselesaikan.
"Tak ada sekolah di dekat kami sebaik Malek Fahd, itu sebabnya kami terus berharap dan berharap untuk yang terbaik," aku Fahmid.
Presiden AFIC, Keysar Trad, mengatakan, ada diskusi yang sedang berlangsung dengan dewan sekolah.
“Kami telah membuat tawaran untuk dewan sekolah dan kami pikir ini akan memuaskan pengadilan atas perjanjian sewa antara kami dengan sekolah,” kemukanya.
Profesor Bennett menolak pernyataan yang menyebut bahwa sekolah seharusnya ditutup untuk memungkinkan orang tua menemukan alternatif sebelum dimulainya tahun ajaran baru.
“Ini adalah sekolah yang baik dengan anak-anak yang menakjubkan, yang mendapatkan pendidikan bagus. Saya pikir lebih baik kita menjaga sekolah ini terus berjalan. Kami akan berhenti ketika melihat tak ada jalan banding lagi dan ketika kami tak memiliki dana cukup untuk melanjutkan sekolah. Kami akan memberikan pemberitahuan sebanyak mungkin kepada orang tua dan guru,” paparnya.
Sementara itu, kongres luar biasa AFIC tentang masa depan sekolah Malek Fahd akan diadakan di Sydney pada Sabtu (28/1/2017). Menurut informasi yang diperoleh ABC, manajemen kepemimpinan AFIC dan dewan sekolah akan menjadi topik pembahasan.
Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.
Diterbitkan: 15:15 WIB 27/01/2017 oleh Nurina Savitri.