ABC

Daisy Kwok, Saksi Sejarah Panjang Hubungan Australia-China

Sebagai akibat dari sistem Federasi, banyak warga Australia keturunan China melarikan diri dari hukum Australia yang diskriminatif untuk memulai kehidupan baru di Shanghai. Daisy Kwok adalah salah satu dari mereka.

Jika Kebijakan Kulit Putih Australia memiliki hidup setelah mati, saya mengalaminya pada tahun 1996. Membaca buku karya Tess Johnston, ‘A Last Look: Western Architecture in Old Shanghai’, saya melihat foto Daisy Kwok di luar rumah tua keluarganya di distrik Jingnan, Shanghai.

Berdiri di lantai semen retak di sebelah jemuran, ia mengenakan gaun beludru hitam dan mutiara putih. Setidaknya ia berusia 70-an tahun. Keterangan di foto itu tertulis bahwa Daisy lahir di Australia, tetapi datang ke Shanghai pada tahun 1917 dan bahwa ia diidentifikasi sebagai “warga Australia di Shanghai”.

Menurut saya ini tak biasa. Saya menghabiskan tujuh tahun masa remaja saya di Kedutaan Australia di Beijing dan belajar di sebuah universitas China, dan saya tahu bahwa Australia tak menjalin hubungan diplomatik resmi dengan China sampai tahun 1970-an.

Shanghai di Tahun 1920an
Shanghai dulunya pelabuhan perjanjian utama Eropa di tahun 1920an.

Getty Images/Ulstein Bild

Sebagian besar dari apa yang saya baca tentang sejarah pemulihan hubungan diplomatik ini berpusat di sekitar gambar perjamuan dan jabat tangan, pertemuan pemimpin serta politisi Australia yang berdiri di tembok besar China. Saya tak menemukan sosok seperti Daisy Kwok di sisi visual manapun dari hubungan China-Australia.

Dua puluh tahun berlalu, saya kini mengetahui bahwa Daisy adalah generasi kedua warga Australia keturunan China yang menghabiskan masa kecilnya di Petersham, pinggiran Sydney, sebelum ayahnya, George Kwok Bew, membawa keluarga mereka ke China.

Melarikan diri dari rasisme Australia dan Kulit Putih Australia di satu sisi serta menikmati modernitas Shanghai yang terkenal di sisi lainnya, di China, George Kwok Bew membantu membuka department store ‘Wing On’, yang kini menjadi institusi ikonik di Shanghai.

Putrinya, Daisy, hanyalah salah satu dari sekian banyak warga Australia keturunan China yang hidup di Shanghai pada tahun 1920 dan 1930-an. Rumah, tempat kerja, pusat agama, klub malam dan tempat dansa mereka kini sulit ditemukan, dan jejak apapun dari koneksi Australia telah lama dilupakan.

Namun, ini adalah tempat yang dipadati kehidupan internasional. Pada periode antara perang dunia, Shanghai adalah pelabuhan perjanjian pertama Eropa di Asia, dengan “kota Perancis” yang meniru Paris dan dermaga tengah kota yang dipenuhi tempat berkumpul elit Inggris kala itu -clubhouse, bank dan hotel.

Ketika saya pertama kali ke sana saat remaja, saya kagum akan kemegahan desain ‘Art Deco’ dari Hotel Peace, di mana setiap kamarnya didesain sesuai dengan selera nasional yang berbeda (ruang Jepang, ruang India, ruang Inggris) dan di mana band jazz tua dari era dari 30-an masih bermain di bar.

Di ujung dermaga adalah pusat perbelanjaan Nanjing. Di jalan inilah warga Australia keturunan China yang kembali, seperti ayah Daisy, membangun sejumlah department store: Sincere, Wing On dan Sun Sun di antaranya. Inilah yang disebut empat perusahaan besar, pertanda munculnya kapitalisme konsumen di pantai Cina setelah Perang Dunia I.

Sebagai seorang remaja di tahun 1990-an, saya tak tahu menahu tentang warisan Australia yang mengejutkan di jantung sejarah kapitalis Shanghai ini. Tapi di usia 20-an, saya belajar tentang nasib keluarga Australia keturunan China yang mengubur uang mereka di kota ini, di puncak era jazz.

Mereka kehilangan kekayaan mereka, mereka mengasing ke Amerika, atau mereka tinggal di dalam kota yang berubah di mana banyak orang sangat menderita di bawah pemerintahan komunis. Beberapa bertahan dan akhirnya membantu diplomat Australia ketika mereka tiba di China setelah “reformasi dan keterbukaan” dimulai, berperan sebagai petugas penghubung budaya. Mereka adalah saksi sejarah dari hubungan China-Australia yang kembali ke masa sebelum pemutusan hubungan pada tahun 1950-an.

Daisy sendiri lebur oleh sejarah Cina. Ia tinggal di Shanghai setelah komunis berkuasa pada tahun 1949 dan teraniaya serta hidup miskin selama kampanye politik tahun 60-an.

Foto yang begitu memikat saya di buku ‘A Last Look’ diambil pada tahun 1980an ketika reformasi ekonomi di China telah menginspirasi nostalgia bagi kapitalis Shanghai masa lalu dan rasa hormat baru untuk pria dan perempuan yang mengingatnya.

Daisy Mengajar Bahasa Inggris di Shanghai
Daisy mengajar bahasa Inggris di Shanghai, 1982.

Supplied; Better Link Press

Daisy mulai membantu staf di Konsulat Australia ketika pos diplomatic ini dibuka kembali di Shanghai pada tahun 1987; menerjemahkan dokumen, mengajar bahasa Cina, dan berperan sebagai narasumber sejarah hubungan China-Australia yang panjang.

Dalam upacara pada tahun 1990an, beberapa tahun sebelum ia meninggal, Daisy mendapatkan kembali kewarganegaraan Australia-nya yang telah lama mendapat penolakan. Australia di era kelahirannya, “keturunan Asia” begitu tak diinginkan, tak sesuai dengan visi Australia sebagai banteng kulit putih di Kerajaan Inggris.

Diaspora China di negara koloni lainnya menghadapi hukum yang sama. Ini adalah sejarah global dari diskriminasi rasial. Undang-Undang Larangan Imigrasi China berlaku di koloni Australia dari tahun 1855 dan pengulangan berikutnya dari UU ini secara bertahap menolak hak properti dan, setelah Federasi di tahun 1901, kewarganegaraan, hak suara atau hak sejahtera dari warga China yang tiba di Australia.

Daisy, yang merupakan keturunan dari para pendatang di era kejayaan emas, adalah salah satu dari banyak orang China yang lahir di Australia -yang datang ke Shanghai untuk masa depan lebih baik, mencari peluang yang tak diberikan kepada mereka di daerah kekuasaan dari Kerajaan Inggris.

Apa artinya teridentifikasi sebagai warga Australia di China? Daisy merefleksikan versi sejarah Australia dari perspektif China. Hidupnya memprovokasi serangkaian kenangan sejarah yang sering dilupakan dalam banyak retorika -berfokus masa depan -tentang hubungan China-Australia di abad ke-21.

Di antara periode kejayaan emas tahun 1850-an dan pemulihan hubungan diplomatik tahun 1970-an adalah kehidupan luar biasa dari orang-orang seperti Daisy: perwujudan sejarah panjang dari sebuah gerakan dan pertukaran budaya antara Australia dan Asia. Kami sangat disibukkan oleh masa depan kami di daerah ini, tapi masa depan itu akan tumbuh dari sejarah panjang hubungan ini.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 18:37 WIB 26/09/2016 oleh Nurina Savitri.