ABC

Curhatan Perancang Australia yang Desainnya Ditiru Online

Sejumlah perancang busana Australia yang tengah naik daun mengalami kebangkrutan bisnis akibat murahnya barang tiruan dari luar negeri. Pakar industri mengatakan, hukum yang melindungi mereka sangat membutuhkan pembaharuan.

ABC berbicara dengan para desainer yang desain pakaiannya -dan bahkan foto mereka yang menampilkan anak-anak –disalin dari akun Instagram mereka dan muncul di situs-situs lain.

Tiruan itu dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari harga aslinya.

Tiruan Desain Baju Howi
Desain ‘Howi’ yang asli di sebelah kiri berakhir di Aliexpress dengan harga yang jauh lebih murah.

ABC; Dean Whiston

Hal ini muncul setelah produsen pakaian ‘Zara’ dan ‘Gorman’ dituduh menyalin desainer Australia.

Para ahli di industri desain Australia mengatakan, undang-undang dan peraturan yang ditujukan melindungi para desainer dari tindakan peniruan dan penyalinan, terlalu mahal dan sudah tak sesuai di era digital, di mana orang-orang semakin beralih ke media sosial untuk mempromosikan produk.

Informasi kunci:

• Para desainer yang sedang naik daun mengatakan, mereka merasa tak berdaya melawan barang tiruan yang murah

• Pengacara bidang desain mengatakan, undang-undang untuk melindungi mereka begitu mahal dan ketinggalan zaman.

• Sejumlah pemimpin di industri ini memeringatkan, industri ini berada di "persimpangan jalan" dan membutuhkan perubahan

Masyarakat pertanyakan keaslian desainer

Desainer Angelique Woodburn mempunyai label pakaian anak-anak ‘Howi’ dan memasarkan pakaiannya hampir secara eksklusif di Instagram.

Kaos bertuliskan "Bos" miliknya dibuat di Melbourne dan merupakan salah satu produk terlarisnya.

Ia menjualnya seharga 25 dolar (atau setara Rp 250 ribu) tapi dalam beberapa bulan saja, tiruan kaosnya muncul di situs-situs lain.

"Pengorbanan yang saya buat dalam bisnis ini dengan anak-anak ini, menghabiskan sepanjang malam di komputer saya menjawab email. Berpikir bahwa orang lain menyalinnya begitu saja dan mendapat keuntungan dari desain saya, itu benar-benar menyedihkan," tutur Angelique.

Beberapa produk tiruan itu bahkan dijual grosir ke pengecer Australia.

Angelique Woodburn
Desain ‘Bos’ karya Angelique Woodburn dicuri dan dijual dengan harga seperempatnya.

ABC

Situasi menjadi sangat buruk sehingga Angelique memutuskan untuk menarik kaos hasil desainnya dari pasar karena ia tak bisa lagi bersaing dengan versi palsu.

"Itu sampai ke titik di mana orang-orang bahkan mempertanyakan apakah saya desainernya, apakah saya yang asli," ungkapnya.

Desainer asal Melbourne, Sophie Taaffe, memulai label anak-anaknya ‘Whitefilly’ dua tahun lalu, menjahit sampelnya sendiri dari rumah dan koleksinya buatan lokal.

Ia mengatakan, saat merek-nya mulai dijual ke pasaran, pelanggan berhubungan dengannya untuk mengingatkan Sophie akan barang tiruan.

"Saya kehilangan pelanggan karena saya lihat orang sekarang berkomentar bahwa mereka melihat tiruan yang dijual dan saya pikir ada banyak orang di luar sana yang akan membeli pilihan yang lebih murah," utara Sophie Taaffe.

Alex Perry, salah satu perancang busana terkenal di Australia, tak asing dengan tiruan hasil desainnya.

"Pertama kali hal itu terjadi [kepasa saya] terang-terangan, saya rasanya mau marah besar," akunya.

Tetapi bahkan ia mengakui, di bawah sistem saat ini, biaya menuntut para peniru bisa membuat bangkrut.

"Anda pergi ke pengacara dan berkata 'apa yang bisa saya lakukan tentang hal ini?' Dan kenyataannya, tak terlalu banyak, dan berapa besar biaya yang anda keluarkan, itu serius," ungkap Alex.

Tiruan Desain Whitefilly
Salinan persis dari desain Sophie Taaffe dijual di tempat lain.

Supplied

Biaya untuk melindungi desainer mahal dan ketinggalan zaman

Direktur Kamar Mode Australia, Justin Cudmore, mengatakan, media sosial telah membuat para "peniru" untuk menyalin desain dan cepat mengedarkannya ke pasaran.

Ia mengatakan, hukum Australia yang ditujukan untuk melindungi desainer muda, membuat mereka ‘bangkrut’.

"Jika saya membuat dan merancang gaun sekarang ini, saya bisa merancang gaun di selembar kertas, saya memiliki hak cipta atas desain itu. Segera setelah saya memproduksi massal desain itu, hak cipta tak berlaku lagi dan saya tak memiliki perlindungan terhadap seseorang yang mencuri desain saya," umpamanya.

"Rezim yang kami miliki di Australia saat ini, mengharuskan Anda untuk mendaftarkan desain Anda untuk tak memiliki perlindungan apapun," sebut Justin Cudmore.

Menurut pakar hukum desain, Sara Delpopolo, mendaftarkan satu desain tunggal bisa menghabiskan biaya sebesar 600-800 dolar (atau setara Rp 6-8 juta), dan itu harus selesai sebelum pakaian masuk ke pasar.

Itu adalah biaya yang besar bagi seorang desainer muda yang berjuang untuk awal karirnya dalam industri ini, tutur Sara.

"Seorang desainer skala kecil akan membuat 10, 15, 20 desain setiap musim, itu memiliki nilai uang yang sangat banyak dan Anda bahkan tak bisa terus memproduksi semua desain itu, jadi benar-benar sepenuhnya tak realistis," utaranya.

Alex Perry di Studionya
Desainer kenamaan Australia, Alex Perry, sempat marah ketika pertama kali menemukan bahwa desainnya ditiru.

ABC; Mark Doman

Jadi apa yang bisa diubah?

Sara mengatakan, perubahan mendesak untuk proses pendaftaran desain Australia tengah diperlukan.

"Saya hanya tak berpikir bahwa siapa saja benar-benar berubah pikirannya dan berkata, 'kita benar-benar perlu melakukan sesuatu dan melakukannya sangat cepat sebelum kita kehilangan industri kreatif," ujarnya.

Ia menyarankan sejumlah ide untuk lebih melindungi desainer Australia termasuk:

• Memotong biaya proses pendaftaran desain;

• Membolehkan desainer untuk menguji produk mereka di pasar sebelum membuatnya terdaftar;

• Membentuk pengadilan online untuk menyelesaikan sengketa atas desain yang dicuri ketimbang memaksa orang untuk terjerumus ke dalam biaya persidangan yang mahal.

Justin mengatakan, negara-negara di Uni Eropa pada umumnya diberikan perlindungan tiga tahun atas desain mereka tanpa perlu mendaftarkannya.

Alex menyebut, apa yang benar-benar dibutuhkan desainer muda adalah dukungan untuk mengembangkan usaha mereka menjadi merek yang sukses.

Ia mengeluarkan peringatan mengerikan tentang masa depan industri fesyen Australia jika pemerintah setempat tak memberikan dukungan lebih untuk industri ini.

"Ketakutannya adalah bahwa kami tak akan memiliki industri lokal, itulah ketakutannya," aku Alex Perry.

Ia menerangkan, "Karena jika itu begitu sulit dan sangat kompetitif dan tak ada dukungan dari pemerintah untuk membantu desainer muda, lalu apa gunanya pergi ke perguruan tinggi dan belajar untuk menjadi seorang perancang busana?."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 18: 28 WIB 08/08/2016 oleh Nurina Savitri.