ABC

Ciri dan Cara Pengobatan Pelaku Kejahatan Seksual

Apa saja ciri pelaku kejahatan seksual dan bagaimana cara lembaga penjara merehabilitasi para pelaku tersebut? Seorang psikolog yang sempat mengobati seorang pembunuh anak berusia 13 tahun dan pelaku kekerasan seksual berbagi cerita soal ini.

Pada akhir 1990an, Profesor Stephen Smallbone bekerja di Lembaga Pemasyarakatan negara bagian Queensland, untuk mengobati para pelaku kekerasan seksual. Saat ini, Ia menjabat direktur Layanan Forensik Anak Muda Griffith University, yang mengobati pelakuk kekerasan seksual berusia muda.

Saat Smallbone memegang jabatan lembaga pemasyarakatan Queensland, lembaga tersebut menerima transfer napi Brett Peter Cowan, yang akan menjalani paling tidak 20 tahun penjara atas tindakannya membunuh Daniel Morcombe, seorang remaja asal Sunshine Coast, Queensland, pada tahun 2003.

Cowan telah beberapa kali melakukan tindakan kejahatan, termasuk kejahatan seksual, pada anak-anak. Ia menculik Daniel saat anak tersebut menunggu bis.

Menurut Smallbone, cara pengobatan pelaku kekerasan seksual di penjara biasanya bertujuan menurunkan resiko mereka kembali melakukan kejahatan tersebut.

"Sebenarnya, program-program ini dirancang untuk menargetkan orang-orang beresiko tinggi," ucapnya. Menurutnya, program-program macam itu efektif bila dirancang dan diimplementasi secara baik.

"Namun, tak pernah ada jaminan bagi individu. Bila sejak awal anda berurusan dengan para pelaku yagn beresiko tinggi, kemungkinan besar akan ada perilaku residivisme dalam kelompok itu," jelas Smallbone, "Tantangannya adalah memperkirakan yang mana yang akan melakukan kejahatan lagi."

Pelaku kejahatan seksual biasanya tidak memperlihatkan perilaku yang menunjukkan kecenderungan mereka melakukan kejahatan tersebut.

"...pelaku kejahatan seksual sebagai sebuah kelompok, termasuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak, sekitar dua kali lipat lebih mungkin memiliki catatan kriminal terkait pelanggaran-pelanggaran lain maupun pelanggaran-pelanggaran seksual. Bahkan, mereka dua kali lipat lebih mungkin kembali melakukan kejahatan non-seksual," jelas Smallbone.

Intervensi awal terhadap mereka yang berpotensi melakukan kejahatan seksual akan membawa banyak manfaat, lanjutnya.

"Ada kesempatan-kesempatan di sekolah, anak-anak yang bermasalah di sekolah, ada kesempatan-kesempatan dengan layanan kesehatan, konseling dan seterusnya. Jadi saya rasa, salah satu hal yang penting dalam kasus-kasus ini, saat kita berurusan dengan pelaku yang mengulang tindak kejahatannya, adalah kita perlu lebih banyak berinvestasi dalam layanan-layanan intervensi awal," ucap Smallbone.