ABC

China Tawarkan Visa Khusus Warga Keturunan China

Negara China sekarang mengizinkan warga negara asing berdarah China untuk mengajukan visa yang berlaku lima tahun. Menurut pihak berwenang di China, langkah ini akan dapat meningkatkan kinerja ekonomi negara tersebut.

Visa baru bagi warga keturunan China:

Qu Yunhai, salah satu kepala biro dari Kementerian Keamanan Publik di China, mengatakan kepada media bahwa perubahan tersebut dimaksudkan untuk menarik pekerja terampil ke China.

"Aturan tersebut telah memainkan peran positif dalam melayani pembangunan sosial dan ekonomi China dan menarik bakat-bakat yang memiliki semangat inovatif dan kewirausahaan," katanya kepada CCTV.

Pengusaha yang tinggal di Beijing, Jemma Xu, Direktur Eksekutif sekaligus pendiri situs online perjalanan Tripalocal di Australia, mengatakan kebijakan visa tersebut akan sangat membantu bisnis seperti miliknya.

"Visa lima tahun seperti ini sangat menguntungkan, dan mengurangi banyak kerepotan jika harus memperpanjang visa setiap tahunnya," katanya.

Sebelum kebijakan baru-baru ini, orang-orang dengan latar belakang China hanya mendapat visa satu tahun dengan maksimal tinggal di China tidak lebih dari tiga tahun. Lewat kebijakan baru, hal ini pun akan diperpanjang sampai lima tahun.

"Saya tahu banyak bisnis, terutama start-up, ingin masuk atau mengeksplor pasar China, mereka seringkali harus banyak berpergian ke China dan setiap kali mengurus visa butuh waktu lama."

Semua warga negara asing berlatar belakang China akan dapat mendaftar, terlepas dari berapa banyak generasi. Tapi pemohon visa masih perlu membuktikan keturunan mereka kepada pihak berwenang dan bisa memberikan bukti dokumen.

Dalam sensus 2016, 5,6 persen warga Australia mengidentifikasi diri mereka sebagai warga keturunan China.

'Pengakuan tanah air'

Warga China perantauan telah memiliki hubungan yang naik turun dengan otoritas China.

Dari apa yang disebut "Era Migrasi Massal" diketahui lebih dari 50 juta orang China meninggalkan negara China di antara tahun 1850-1930, untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri, seperti di Australia, Amerika, dan Kanada.

Para migran tersebut sering menghadapi kesulitan dan diskriminasi, akibatnya, pemerintah Dinasti Qing membuat sebuah undang-undang pada tahun 1909 yang memberikan hak setara kepada orang-orang China yang lahir di luar negeri.

Sebuah lukisan yang dibuat dengan pensil dan kertas yang terlihat sudah menua
Lukisan karya Charles Lyall di tahun 1854 menunjukkan penambang China di Australia.

Foto: State Library of Victoria

Hal ini menyebabkan lebih banyak perantau China kembali berhubungan dengan negaranya. Dan setelah Revolusi Republik di tahun 1911, mereka memainkan peranan besar dalam membangun kembali dan memodernisasi China.

Hal ini berubah setelah tahun 1949, dimana Partai Komunitas China mengambil alih kekuasaan.

"Banyak perantau China di negara China yang memiliki hubungan dengan luar negeri mulai dicurigai, kadang-kadang mengalami penganiayaan," ujar Dr Loy-Wilson, sejarawan dari Universitas Sydney.

"Istilah untuk orang Cina Rantau saat itu adalah 'li tong wai guo' atau 'musuh rakyat', atau 'mata-mata asing'."

Dari perspektif sejarah, Dr Loy-Wilson mengatakan visa baru tersebut menunjukkan perubahan radikal.

"Ini adalah hal yang emosional, sebagai pengakuan atas tanah air, hubungan erat yang berlanjut ke tanah air, meski dalam beberapa generasi berada jauh dari China," katanya.

"Jika Anda memikirkan hubungan yang dimiliki Australia dengan Inggris, itu sangat mirip antara China dengan perantau China. Ini adalah hubungan yang sangat penting secara budaya."

'Visa merupakan langkah strategis'

Dr Chongyi Feng dari University of Technology Sydney memahami perasaan bercampur lewat kebijakan visa baru tersebut.

Tahun lalu, profesor dan aktivis demokrasi China pernah ditahan oleh pihak berwenang di kota Guangzhou, saat mencoba naik pesawat pulang ke Australia.

Foto seorang pria menghadap kamera dalam sebuah wawancara televisi
Dosen dari Sydney University of Technology, Dr Feng Chongyi mengatakan ada perasaan bercampur soal kebijakan visa baru ini.

Pihak berwenang menginterogasi dirinya selama 10 hari sebelum mengizinkannya meninggalkan China.

"Tentu ini akan membuat kehidupan beberapa rekan saya lebih mudah untuk mendapat visa dan tinggal lebih lama di China, dan menghemat uang juga," kata Dr. Feng.

"Ini harus berlaku untuk semua orang asing, selain kelompok yang jadi sasaran, yang dapat bekerja sebagai perpanjangan dari strategi Front Persatuan China."

Departemen Front Persatuan China adalah sebuah organisasi di dalam Partai Komunis China (PKC) yang bekerja sama dengan kelompok-kelompok di luar partai.

Dalam beberapa tahun terakhir mereka telah meningkatkan upayanya memperluas pengaruh partai tersebut di seluruh dunia, dan memiliki hubungan dengan organisasi masyarakat sipil, kelompok mahasiswa dan media berbahasa China di Australia.

Dr Feng mengatakan dia meragukan China perantauan dengan pandangan PKC sebagai pembangkang dapat mendapatkan visa tersebut.

"Jika ini adalah kebijakan baru, harus diterapkan kepada semua bukan menargetkan orang-orang yang disebut patriotik, atau pemimpin komunitas yang berpartisipasi dalam pembangunan China."

"Jika Anda hanya melihat kenyamanan saat berbisnis atau berkunjung, saya rasa tidak perlu membuat perbedaan semacam ini."

Simak laporannya dalam bahasa Inggris di sini