ABC

China Tak Senang dengan Buku Putih Australia Soal Laut China Selatan

Pemerintah China menggambarkan bahasa yang digunakan dalam Buku Putih Kebijakan Luar Negeri Australia terkait isu Laut China Selatan sebagai "tidak bertanggung jawab". Media pemerintah China bahkan menyebut Australia sebagai pos "propaganda terdepan" yang menargetkan China.

Buku Putih atau White Paper yang dirilis setelah 13 tahun itu mendesak China menegakkan tatanan hukum - merujuk sikap Beijing yang mengabaikan keputusan pengadilan internasional tahun 2016 atas basis militer dan kegiatan reklamasi pulau di Laut China Selatan yang dipersengketakan.

Meski mengakui dalam Buku Putih ada sejumlah bahasa positif mengenai hubungan Australia - China, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang mendesak Australia berhenti mengungkit kekhawatiran tentang sengketa teritorial.

"Australia bukan merupakan pihak dalam sengketa Laut China Selatan," katanya Lu Kang kepada pers di Beijing.

"Australia berkali-kali mengklaim diri tidak memihak pada masalah kedaulatan Laut Cina Selatan. Jadi kami mendesak Australia untuk menepati janjinya," katanya.

White Paper juga menyebut Australia harus terlibat lebih dalam dengan negara-negara demokrasi lainnya di kawasan - sebuah langkah yang dipandang sebagai strategi berlindung di balik negara lain untuk melawan kekuatan otoriter yang semakin maju.

"Aturan yang diterima oleh masyarakat internasional tidak disusun oleh negara tertentu," kata Lu.

"China mengikuti peraturan berdasarkan tujuan dan situasi Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang, dan tidak didasarkan pada tujuan politik suatu negara tertentu," jelasnya.

Pejabat di Beijing telah lama menunjukkan ketidaksenangan mereka terhadap sikap Australia mengenai Laut China Selatan.

Beijing berusaha untuk mengendalikan jalur laut strategis itu dengan membangun pulau-pulau buatan dan pangkalan militer selama lima tahun terakhir.

Empat negara tetangga lainnya mengajukan klaim yang tumpang tindih sementara Taiwan dan China juga mengklaim sebagian besar wilayah tersebut.

Sebagai tanggapan terhadap White Paper Australi, tabloid Partai Komunis China (PKC), Global Times, menggunakan editorialnya untuk menyinggung sikap Australia terhadap China sebagai tidak tahu berterima kasih.

Medi nasionalistik itu juga menyebut dalam beberapa tahun terakhir, Australia telah menjadi semacam pos propaganda terdepan yang mempengaruhi negara-negara tetangga agar waspada terhadap China.

Editorial itu tampaknya jengkel mengapa pengaruh Beijing dalam perekonomian Australia tidak mengurangi kekhawatiran orang. Disebutkan bahwa China "dapat saja mengurangi hubungan dengan Australia dan mengabaikan sikap tidak dewasanya".

Negara lain, seperti Vietnam, juga telah meningkatkan fasilitas mereka di Laut China Selatan namun skala dan kecepatan pembangunan yang dilakukan China di sana belum tak ada bandingannya.

Dianggap tak melanggar aturan

"Penggunaan bahasa tentang tatanan berbasis hukum telah ditafsirkan sebagai melawan dengan China," kata Chen Hong, profesor di China East Normal University di Shanghai.

"Banyak orang di sini percaya bahwa China tidak melanggar peraturan. Jadi bukan kepentingan China atau Australia untuk menganggap China sebagai pelanggaran hukum," katanya.

Referensi Buku Putih yang menyebut "Indo-Pasifik" dan bukan "Asia-Pasifik" juga dipandang skeptis.

"Ungkapan atau konstruk bahasa ini diciptakan untuk mengoceh, untuk mengecualikan China," kata Profesor Chen.

"China menyambut Australia untuk menjadi bagian aktif dari kelompok Asia-Pasifik," ujarnya.

"Saya pikir ini bukan cara yang baik untuk membangun hubungan bilateral," tambahnya.

Namun secara keseluruhan banyak analis China mencatat fokus White Paper pada dinamika perubahan kekuatan dunia. Profesor Chen mengatakan Beijing memahami kebutuhan Australia untuk mempersiapkan masa depan yang tidak pasti.

"White Paper menunjukkan pemikiran Australia untuk menemukan jalannya sendiri di kawasan ini tanpa kepemimpinan Amerika Serikat. Jadi dengan latar belakang ini, White Paper itu penuh dengan ketidakpastian," kata Profesor Chen.

Tanggapan Menlu Australia

Menlu Australia Julie Bishop menepis kritikan China tersebut.

"Kementerian Luar Negeri menggambarkan analisis kami tentang hubungan China-Australia secara objektif. Umpan balik yang saya dapat dari pejabat senior China yaitu mereka menghormati pendirian kami dalam White Paper," kata Menlu Bishop.

"Tadi malam saya bertemu dengan Duta Besar China (untuk Australia) dan dia sangat positif mengenai hubungan Australia-China," ujarnya.

Menlu Bishop mengatakan bahwa White Paper itu merupakan pernyataan jelas mengenai nilai-nilai Australia.

"Buku Putih memuat garis dasar-dasar, pragmatis dan memuat dengan sangat jelas kepentingan, nilai dan prioritas kita. Saya pikir negara lain akan menghormati hal itu," tegasnya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.