ABC

Chemsex, Tren Bercinta Maraton 3-4 Hari Kian Tren di Australia

Aktifis kesehatan memperingatkan ancaman bahaya dari tren chemsex - yakni melakukan sesi hubungan seksual tanpa henti alias maraton yang bisa berlangsung hingga 3-4 hari dibawah pengaruh narkoba yang belakangan kian berkembang di Australia.

Mengkonsumsi narkoba sambil melakukan hubungan seksual atau yang dikenal dengan istilah chemsex, party and play atau PnP telah menjadi bagian dari budaya yang tengah berkembang di Australia.

Alex Bartzis, awalnya mengaku tidak ingin mengkonsumsi narkoba. Dia masih muda dan narkoba tersebut disuntikan kepadanya oleh rekan prianya yang lain.

"Segera setelah narkoba itu disuntikan, saya langsung merasakan dorongan untuk melakukan hubungan seksual yang sangat kuat dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,"

Akhirnya Ia pun mulai lebih sering menggunakan narkoba, bahkan nyaris selalu menggunakannya untuk melakukan hubungan seksual.

"Saya pikir Anda akan terjebak dalam pola ini dimana seks akan selalu beriringan dengan narkoba sabu. Anda akan memiliki asosiasi yang kuat antara narkoba dan seks,"
 
"Tren ini berkaitan dengan dorongan hasrat seksual yang kuat yang memicu kebutuhan mendesak untuk menggunakan narkoba,"
 
Chemsex baru-baru ini menjadi sorotan dalam salah satu film dokumenter yang ditayangkan media berbasis di Kanada, VICE. Dokumenter ini mengikuti kehidupan seorang pria gay di London dan chemsex telah menjadi sub budaya yang berkembang di Australia selama dua tahun terakhir.
 
Popularitasnya mengikuti kenaikan penggunaan aplikasi kencan di smartphone untuk pria gay, seperti grindr dan scruff  dan juga  ketersediaan narkoba bernama tina, T dan kristal.
 
Nic Holas dari Institute Many sebuah lembaga Non-profit yang dijalankan oleh rekan sebaya bagi pengidap HIV di Australia mengatakan tren chemsex merupakan peralihan yang terjadi sejak tahun 90-an, ketika pergi ke klub malam dan menggunakan ekstasi sudah menjadi hal biasa.
 
"Narkoba seperti tina, methamphetamine kristal atau G [GHB], jauh lebih berbasis seksual, sehingga tingkat interaksi yang terjadi dikalangan penggunanya memang lebih cocok pada ruang domestik dimana Anda dapat benar-benar melakukan hubungan seks," katanya.
 
Associate Professor Kajian Gender dan Kebudayaan dari Universitas Sydney, Kane Race, mengatakan narkoba sabu/crystal memiliki asosiasi yang khusus bagi sejumlah penggunanya.
 
"Kualitas dari narkoba jenis sabu bagi pria gay termasuk didalamnya hal-hal seperti meningkatkan kepercayaan diri, stamina dan tentu saja dilaporkan dapat lebih meningkatkan hasrat dan kenikmatan dalam melakukan hubungan seks," katanya.
 

Jack (bukan nama sebenarnya), memasuki usia 40 tahun dan mulai mencoba beberapa macam narkoba demi tujuan kenikmatan. Sesekali dia menggunakan narkoba sabu.

"Anda akan melupakan semua hambatan dan akan langsung merasakan hasrat yang kuat untuk melakukan hubungan seksual dan perasaan itu berlangsung terus selama beberapa jam dan tampaknya akan lebih mudah menyingkirkan sisi sosial dari situasi yang Anda hadapi ketika itu," katanya.
 
"Tiba-tiba saja Anda tidak akan lagi merasa janggal atau perlu melalui proses mendekati seseorang seperti yang perlu Anda lakukan di bar atau pesta."
 
"Saya juga mencari sensasi  kesenangan yang bisa memungkinkan saya untuk menghindari upaya-upaya sulit untuk melakukan interaksi sosial lantaran saya tidak merasa nyaman, sudah tidak berusia muda lagi ketika memasuki dunia gay atau pergi ke pub. Jadi saya merasa lebih mudah untuk terlibat dalam komunitas ini dan melewati semua rintangan itu,"
 
Butuh waktu 10 tahun sebelum akhirnya budaya chemsex ini menjadi masalah bagi Alex Bartzis, setelah kehilangan pekerjaan dan terkena HIV dia menyadari kalau hidupnya harus berubah.

"Butuh waktu lama untuk menyembuhkan ketergantungan ini dan saya menyadari hal itu sekarang, dan  Saya sudah melakukan banyak upaya pemulihan sejak saat itu dalam bentuk psikoterapi,"
 
Petugas layanan kesehatan seperti dokter umum di Sydney, Brad McKay mengatakan ketika seseorang menyadari kalau mereka memiliki masalah dengan penggunaan narkoba, biasanya sudah sangat terlambat.
 

"Biasanya mereka baru akan datang ke klinik saya setelah memiliki masalah. Misalnya mereka telah melakukan hubungan seks selama beberapa hari dan berusaha untuk melanjutkannya dan mereka sudah dalam kondisi terangsang selama 3-4 hari, biasanya mereka akan datang dengan kondisi penis yang loyo karena mereka telah melakukan hubungan seks secara berlebihan, jauh melampaui kadar yang bisa ditoleransi oleh tubuh mereka sendiri," katanya.

"Saya mendapati banyak pasien yang datang dengan keluhan berhalusinasi atau psikosis,"

"Bisa juga terjadi semacam kerusakan pada kemampuan mereka untuk memiliki kesadaran mengenai apa yang terjadi disekitar mereka,"

Dr McKay mengatakan dirinya juga pernah menjumpai pasien yang diperkosa setelah mengkonsumsi narkoba.

"Saya pernah menjumpai beberapa pasien yang menggunakan narkoba metamfetamin dan mencampurnya dengan narkoba GHB, dan sering kali mereka akan pingsan dan waktu menjadi seperti tidak ada bagi mereka," katanya

Beberapa dari mereka juga ada yang tidak sadar telah diperkosa, bahkan ada juga beberapa pasien yang setelah diperiksa diketahui mereka telah disiksa ketika tidak sadarkan diri atau ketika mereka tertidur (dibawah pengaruh narkoba tersebut,red).

Chemsex  tidak hanya tren dikalangan pria gay atau biseksual saja.

Nadine Ezard, Direktur Klinis Layanan Narkoba dan Alkohol di RS St Vincent mengatakan pria dan wanita heteroseksual dari berbagai kalangan usia juga diketahui melakukan kebiasaan chemsex seperti ini.

"Orang-orang yang termarjinalisasi, begitu juga dengan orang-orang yang memiliki pendapatan tinggi dan pekerjaan yang bagus berusaha keras untuk mempertahankan karir mereka tersebut," katanya.

"Kami benar-benar mendorong orang untuk membuka masalah ketergantungan mereka akan kebudayaan chemsex ini dengan kantor atau pada pasangan mereka, dan itu bukan hal yang mudah dilakukan dalam konteks orang sering kali akan mendapat stigma karena penggunaan obat ini,"

"Belakangan ini kami sering melihat seseorang dikecam seperti kesetanan lantaran pengaruh narkoba ini di media. Kami melihat gambar yang sangat menakutkan. Jadi hal ini cenderung membuat orang merasa enggan untuk membuat pengakuan, apalagi ketika mereka tidak mengenali diri mereka sendiri dalam gambar tersebut." katanya.