ABC

Cassandra Koh Mahasiswi Indonesia Teliti Nyamuk Dengue

Hari Sabtu (11/2/2017) PBB menetapkan sebagai hari keterlibatan perempuan dalam sains. Untuk merayakan hari tersebut, ABC Australia Plus Indonesia berbicara dengan Cassandra Koh, mahasiswi PhD asal Indonesia yang sekarang sedang melakukan penelitian mengenai nyamuk yang menyebabkan demam berdarah dengue. Cassandra Koh asal Pontianak (Kalimantan Barat) ini sedang menyelesaikan pendidikan di Monash University di Melbourne.

Berikut perbincangan Cassandra Koh dengan Sastra Wijaya dari Australia Plus Indonesia mengenai apa yang dilakukannya sekarang di Monash, keterlibatan perempuan di bidang sains, dan fenomena mahasiswa asal Indonesia yang enggan kembali pulang setelahn menyelesaikan pendidikan di luar negeri.

Anda sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di Monash University? Apa yang sedang anda lakukan?

Saya sedang menjalani pendidikan riset S3 dalam jurusan biologi. Riset yang saya lakukan adalah mengenai nyamuk Aedes aegypti, yang kerap dikenal sebagai nyamuk penyebar virus penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Nyamuk ini menyebarkan virus Dengue melalui gigitannya saat menghisap darah manusia. Apabila nyamuk menghisap darah dari seorang yang sedang menderita penyakit ini, virus akan terbawa oleh nyamuk dan ditularkan ke orang lain jika nyamuk ini menggigit orang tersebut.

Penyakit DBD endemis pada lebih dari 100 negara terutama yang terletak di daerah beriklim tropis. Indonesia adalah salah satu dari negara-negara ini. Setiap tahun, diperkirakan terjadi sekitar 390 juta kasus perjangkitan DBD sedunia.

Di lab yang dipimpin oleh Prof. Elizabeth McGraw, saya meneliti faktor-faktor genetik yang mempengaruhi kemampuan nyamuk Aedes untuk menularkan virus Dengue.

Telah diketahui bahwa nyamuk Aedes yang berasal dari berbagai bagian dunia memiliki kemampuan untuk menularkan virus Dengue yang berbeda.

Karena nyamuk yang berasal dari berbagai lokasi geografis juga mempunyai genetika yang beragam, perbedaan dalam kemampuan nyamuk ini untuk menularkan virus dapat disebabkan oleh variasi dalam gen-gen yang terdapat dalam DNA nyamuk.

Apabila kita dapat memahami faktor apa yang menyebabkan nyamuk menjadi penular virus Dengue yang baik atau buruk, pengetahuan ini dapat diterapkan sebagai solusi untuk mencegah penularan virus dengue antara nyamuk dari manusia, misalnya dengan meggunakan nyamuk yang direkayasa genetikanya.

Apakah anda belajar atas biaya sendiri atau mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia atau Australia?

Saya sangat beruntung karena telah menerima dua jenis beasiswa dari Monash University. Monash International Postgraduate Research Scholarship menanggung biaya kuliah saya selama 4 tahun, sedangkan Monash Graduate Scholarship menyediakan tunjangan hidup selama 3 tahun.

Mengapa tertarik belajar memperdalam bidang biologi? Apakah ada pengalaman dari masa lalu yang membuat kamu memutuskan untuk meneliti mengenai demam berdarah?

Saya mulai tertarik sejak pertama mengenal tentang genetik dalam kelas biologi sewaktu SMA. Memahami biologi berarti memahami tentang alam dan makhluk hidup disekitar.

Genetik adalah salah satu cabang dari biologi tentang gen, yaitu bagian bagian kecil dari molekul DNA yang terdapat dalam setiap sel makhluk hidup yang akan mempengaruhi sifat dan ciri ciri makhluk tersebut.

Keinginan setiap ilmuwan adalah agar dapat menggunakan hasil penelitiannya untuk menangani isu-isu yang sedang dihadapi seluruh dunia masa ini.

Salah satunya adalah DBD yang saat ini telah tersebar luas, namun kerap ditemukan di negara-negara yang kurang berkembang termasuk Indonesia.

 Di lab demi mengembang biakkan nyamuk Aedes, lengan kami rela diberikan untuk digigit
Nyamuk Aedes aegypti betina harus mendapatkan nutrien dari darah manusia agar dapat bertelur. Di lab demi mengembang biakkan nyamuk Aedes, lengan kami rela diberikan untuk digigit.

Foto: Istimewa

Kalangan sosioekonomi rendah di negara-negara ini mempunyai resiko terjangkit DBD paling tinggi.

Hal ini dikarenakan nyamuk Aedes yang lebih memilih untuk bersarang dan berkembang biak di tempat penampungan air yang kerap ditemukan di kompleks perumahan kumuh.

Apabila terjangkit penyakit DBD, kalangan sosioekonomi rendah mengalami efek yang lebih berat dari segi ekonomi, terutama bagi orang-orang yang bergantung pada penghasilan harian.

Penghasilan mereka akan berkurang jika tidak dapat berkerja karena sakit. Maka itu, pembasmian penyakit DBD akan sangat membantu perkembangan ekonomi di negara-negara ini.

Saya dibesarkan di Indonesia. Masa kecil saya dilingkungi oleh penyakit DBD yang merupakan masalah kesehatan yang besar bagi anak-anak muda.

Saya masih sangat ingat dengan program pemberantasan sarang nyamuk 3M (menguras, menutup, mengubur) dan baunya asap fogging yang menyengat hidung.

Sekarang, penelitian virus dengue sedang gencar dilakukan di institusi riset di berbagai negara asing, tidak hanya negara-negara yang mengalami wabah DBD.

Saya ingin berkontribusi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang topik ini yang dapat bermanfaat bagi Indonesia.

Apa latar belakang pendidikan anda sebelumnya di tingkat sekolah menengah dan sekolah dasar?

Saya dibesarkan di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah tamat dari SD Gembala Baik dan SMP Santo Petrus, saya melanjutkan pendidikan ke negeri tetangga. Setara dengan SMA, saya mendapatkan sertifikasi GCE A Level dari Cambridge University di Lodge School, Kuching, Malaysia.

Saya tamat dari pendidikan S1 dengan Honorus dalam bidang bioteknologi di Monash University.

Waktu luang Cassandra Koh digunakan untuk mengunjungi tempat tempat wisata di sekitar Victoria seperti Taman Satwa Liat Healesville
Waktu luang Cassandra Koh digunakan untuk mengunjungi tempat tempat wisata di sekitar Victoria seperti Taman Satwa Liat Healesville

Foto: Istimewa

Bagaimana anda melihat keterlibatan mahasiswa asal Indonesia dalam menekuni ilmu-ilmu sains yang anda lihat di Australia?

Sewaktu menempuh pendidikan S1 di Monash University, teman kuliah asal Indonesia yang mengambil mata pelajaran sama dengan saya kurang dari lima orang, padahal kelas biologi itu terdiri dari seribu orang mahasiswa.

Ini sangat mengherankan bagi saya. Bahkan di antara teman-teman asal Indonesia di luar Monash University, sangat jarang saya dapat bertemu dengan sesama mahasiswa IPA.

Hal ini membuat saya berpikir mungkin jurusan IPA bukan pilihan yang popular di antara kaum muda dari Indonesia.

Menurut anda mengapa ada ketidak tertarikan tersebut? Apakah karena ilmunya yang susah atau kendala bahasa ?

Saya juga penasaran mengapa tidak banyak yang memilih jurusan IPA di tingkat S1. Mungkin karena jalur karir setelah lulus dengan jurusan IPA tidak jelas dibanding jurusan lain.

Tidak banyak ilmuwan terkenal asal Indonesia yang dapat dijadikan panutan oleh kaum muda di jenjang pendidikan menengah, sehingga tidak banyak yang akan mempertimbangkan untuk menekuni jurusan IPA di tingkat pendidikan tinggi.

Alasan satu lagi mungkin yaitu kurangnya perkembangan industri IPA dan teknologi di Indonesia, menyebabkan lulusan S1 yang ingin bergerak di bidang IPA mesti mencari peluang kerja di luar negeri.

Berada jauh dari keluarga mungkin adalah suatu halangan besar yang ingin dihindari.

Saya tidak percaya bahwa kendala bahasa berpengaruh besar dalam ketidaktarikan ini karena dalam jurusan apapun juga (termasuk jurusan yang lebih popular seperti bisnis, finansial dan komunikasi massa) akan selalu ada kendala bahasa jika menempuh pendidikan di luar negeri.

Kurangnya kaum muda ke bidang sains itu menurut anda apakah sangat besar juga perbedaannya dari sisi jenis kelamin?

Adanya ketidakseimbangan antara jenis kelamin di bidang IPA kini menjadi topik pembicaraan yang cukup populer karena makin terlihat jelas bahwa jabatan kerja yang lebih senior dalam bidang ini kebanyakan diduduki oleh kaum pria.

Hal ini disebabkan oleh adanya rintangan dari segi lingkungan dan juga sosial.

Beberapa contoh rintangan-rintangan ini adalah: adanya prasangka bahwa kaum pria lebih mahir daripada kaum wanita dalam hal matematika dan ilmu pengetahuan; adanya stereotipe bahwa lelaki lebih cocok mengambil mata pelajaran IPA, sedangkan mata pelajaran IPS adalah untuk wanita.

Yang lain juga adalah lingkungan kerja yang tidak ramah kepada wanita karir yang juga memegang peran sebagai ibu rumah tangga karena kewajiban membesarkan anak jatuh lebih berat kepada si ibu daripada si ayah.

Ketidakseimbangan antara jenis kelamin ini put dapat dilihat diantara ilmuwan-ilmuwan Indonesia.

Meskipun begitu, saya tetap optimistis bahwa kondisi kerja dan peluang bagi kaum wanita di bidang IPA mempunyai potensial untuk membaik dengan meningkatnya kesadaran di kalangan umum tentang berbagai kesulitan yang dialami oleh kaum wanita yang bergerak di bidang ini dan juga bidang lain yang didominasi kaum pria.

Nanti setelah pendidikan S3 selesai, apa rencana yang sudah anda pikirkan? Apakah anda akan kembali ke Indonesia?

Keluarga dekat dan jauh saya masih berada di Indonesia. Karena itu, saya selalu mempunyai tarikan untuk kembali ke Indonesia.

Saat ini, saya masih ingin mencari pengalaman kerja dan pendidikan riset lebih banyak.

Karena peluang kerja dalam bidang saya agak terbatas di Indonesia, kemungkinan besar saya harus tetap berada di luar negeri untuk beberapa tahun lagi.

Bagaimana anda melihat  banyaknya mahasiswa Indonesia yang pergi ke luar  negeri? Apakah mereka tertarik pulang ke Indonesia atau sebagian enggan untuk pulang?

Sepertinya, kebanyakan dari mahasiswa Indonesia yang saya temui disini sewaktu menempuh pendidikan S1 ingin mendapatkan visa untuk tinggal permanen setelah tamat.

Hal ini tidak mengherankan karena banyak yang berpendapat bahwa gaya hidup di Australia lebih menarik daripada di Indonesia.

Akibat yang mengkhawatirkan dari ini yaitu warga negara Indonesia yang berpendidikan tinggi cenderung keluar meninggalkan tanah air.

Kalau begitu, siapa yang akan memajukan bangsa Indonesia?

Agar berkembang, Indonesia bergantung pada generasi masa kini yang telah memperoleh pendidikan dari luar negeri untuk membawa kembali ilmu pengetahuan dan pengalaman unik mereka.

Sayangnya, fenomena brain drain ini akan sulit untuk diatasi jika suasana kehidupan di Indonesia tidak membaik menyamai negara-negara asing seperti Australia.

Cassandra Koh (tengagh) menikmati kuliner Melbourne dengan kolega-kolega dari lab
Cassandra Koh (tengagh) menikmati kuliner Melbourne dengan kolega-kolega dari lab

Foto: Istimewa

Bergerak di bidang sains kadang dianggap sebagai hal yang tidak menarik dan membosankan , bagaimana anda menyeimbangkan dengan kegiatan lain dalam kehidupan sehari-hari?

Saya pikir sangatlah gampang menilai ilmu pengetahuan alam sebagai suatu bidang yang kurang menarik jika tidak ada minat.

Bagi saya, tidak ada bidang lain yang lebih menarik daripada biologi.

Mungkin karena saya memang mempunyai sifat keingin-tahuan dan kepribadian nerdy yang cocok untuk berkecimpung di jalur karir ini.

Saya memang suka belajar, dan ilmu pengetahuan alam adalah sesuatu yang tidak akan habis dipelajari.

Kerja sehari-hari kami sebagai ilmuwan kadang terkesan membosankan, monoton ataupun repetitif, namun yang paling penting adalah untuk tetap fokus pada obyektif di ujung hari.

Tantangan utama sebagai ilmuwan, menurut saya, yaitu mesti bisa terus memberi motivasi kepada diri sendiri agar dapat melangkahi berbagai halangan yang ditemui untuk mencapai garis akhir yand terkadang nampak sangat jauh.

Saya merasa beruntung karena dapat bekerja dengan kolega-kolega yang pengertian dan dapat membuat lingkungan kerja yang menyenangkan dan suportif.

Dalam pengalaman saya, teman-teman saya yang sesama ilmuwan justru adalah orang-orang yang paling tidak membosankan.

Ciri khas Melbourne yang paling saya sukai adalah keragaman budaya yang dapat dilihat dari aneka jenis kuliner yang ditawarkan.

Keuntungan ini saya nikmati dengan cara mencicipi semua jenis kuliner yang saya jumpai selama tinggal di Melbourne.