ABC

Cadangan Bahan Bakar Kurang, Militer Australia Dinilai Tak Efektif

Seorang senator Partai Liberal Australia yang baru saja terpilih -yang juga pensiunan militer -memeringatkan, pasukan pertahanan Australia bisa berhenti beroperasi dalam beberapa minggu dari berlangsungnya serangan karena kekurangan cadangan bahan bakar.

Poin utama:

• Australia adalah salah satu dari sedikit negara tanpa cadangan bahan bakar dengan mandat pemerintah

• Jim Molan memeringatkan Australia tidak dapat mengandalkan Pemerintah AS untuk melindunginya

• Pensiunan militer mengatakan Australia mungkin perlu untuk lebih meningkatkan pengeluaran militer

Jim Molan sempat menjadi kepala operasi untuk pasukan koalisi di Irak dan akan menduduki kursi di Parlemen Australia bulan depan, menggantikan mantan wakil pemimpin Partai Nasional, Fiona Nash.

Ia telah mengeluarkan peringatan keras tentang kesiapan Australia untuk berperang, mengatakan bahwa angkatan bersenjata negara ini bisa menjadi tidak efektif dalam waktu 19 hari jika saat ini mulai kehabisan stok bensin, solar dan avtur.

"Kondisi kami hampir unik dibanding negara lain di seluruh dunia karena kami tidak memiliki cadangan bahan bakar strategis yang diberi mandat pemerintah," kata Senator Molan.

"Ada hal-hal yang mungkin tak akan pernah kita bangun di negara ini, seperti Unit Penyerang Gabungan dan rudal paling canggih," lanjutnya.

"Tapi kita harus menjamin pengiriman mereka ke Australia - yang jarang Anda lakukan - atau kita harus menimbunnya di gudang."

"Kecuali kita punya rencana untuk mendapatkannya saat kita membutuhkannya ... maka saya, sebagai seorang mantan komandan militer, tidak ingin mendahului dalam melakukan sesuatu secara militer kecuali jika saya memiliki gudang di belakang saya."

Garis Besar Kebijakan Pertahanan Australia 2016 memeringatkan ketergantungan Australia pada impor bahan bakar sebagai risiko mengingat ketegangan di Laut China Selatan, yang merupakan rute pelayaran utama.

Senator Molan mengatakan bahwa Pemerintah Australia perlu mengkomunikasikan risiko dari tidak melakukan investasi dalam pertahanan dengan lebih baik.

Tahun lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik anggota NATO dan sekutunya yang gagal berkomitmen setidaknya 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka untuk belanja pertahanan.

Walau Australia berkomitmen pada target tersebut -yakni dengan mengumumkan pengeluaran tambahan sebesar $ 30 miliar (atau setara Rp 300 triliun) dalam dekade berikutnya di Garis Kebijakan 2016 - Senator Molan mengatakan bahwa hal itu mungkin tidak cukup.

"Jika kekuatan Amerika relatif menurun, apakah 2 persen (dari PDB) cukup?," tanyanya.

"Anda tak bisa hanya memenuhi 2 persen dan mencapai kesempurnaan militer, Anda harus tetap berada pada tingkat pengeluaran tersebut."

Australia seharusnya tidak berasumsi bahwa militer AS akan selalu melindungi mereka
Senator dari Partai Liberal, Jim Molan, mengatakan, Australia seharusnya tidak berasumsi bahwa militer AS akan selalu melindungi mereka.

ABC News

Bantuan militer AS tak terjamin

Senator Molan juga telah memeringatkan bahwa dukungan militer dari AS tidak terjamin dan Pemerintah Federal Australia perlu lebih siap.

"Australia harus memikirkan tingkat pengeluaran pertahanan yang disiapkan untuk berkomitmen jika Amerika menjadi pusat dari kebijakan pertahanan kami dan sekarang mungkin tak sekuat dulu," kata Senator Molan.

Senator Molan mengatakan, Menteri Pertahanan AS -James Mattis -telah mengemukakan kekhawatiran akan kesiapan kesiapan militer AS untuk perang.

"Itu seharusnya memberi peringatan ke seluruh dunia," kata Senator Molan.

"John McCain, yang merupakan ketua Komite Angkatan Bersenjata di Senat, mengatakan hal yang sama persis: Keunggulan militer Amerika terkikis terutama ketika menyangkut Rusia dan China."

Senator Molan mengatakan bahwa hubungan dengan Pemerintah AS tetap kuat meski kemampuan militer menurun.

"Saat masih berkampanye, Presiden Trump berbicara tentang jumlah uang yang akan dialokasikan ke dalam pertahanan dan apa yang akan ia buat," kata Senator Molan.

"Ia belum bisa melakukan itu."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.