ABC

Berita Palsu Bisa Juga Mempengaruhi Pemilu Australia

Ada kekhawatiran bahwa hasil pemilu di Australia di masa depan bisa dipengaruhi oleh meningkatnya berita-berita palsu yang beredar di sosial media.

Facebook menjadi perusahaan online terbaru yang mengumumkan akan melakukan beberapa hal untuk mengurangi berita palsu yang banyak bermunculan selama kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat baru-baru ini.

Contoh berita palsu itu termasuk bahwa Paus Fransiskus mendukung pencalonan Donald Trump.

Para pengamat sosial media di Australia mengatakan berita palsu ini juga sudah muncul di Australia dan besar kemungkinan akan memainkan peran lebih besar dalam pemilu mendatang.

Pengamat masalah teknologi Paul Wallbank mengatakan sulit sekali bagi algoritma sosial media untuk menentukan apakah sebuah artikel itu benar atau tidak.

"Masalah sebenarnya bagi Facebook adalah bagaimana kita menentukan sebuah berita itu palsu atau bersifat satire," katanya.

"Apa yang disebut merupakan berita palsu hari ini bisa jadi menjadi berita sebenarnya besok," tambah Wallbank.

"Berita yang sedang berkembang misalnya, apa bedanya adalah rumor dan berita? Apa bedanya antara satir dan berita sebenarnya?" ujarnya.

Menurut Wallbank, berita palsu sudah beredar di kalangan pengguna sosial media di Australia, dengan cerita-cerita yang dibuat oleh pendukung gerakan anti halal.

Dia mengatakan pemilu di Amerika Serikat sudah menunjukkan kekuatan berita palsu, dan dia tidak meragukan bahwa berita palsu ini akan semakin meningkat penggunaannya di pemilu di masa depan.

"Kita akan melihat semakin meningkatnya berita palsu. Bilapun tidak palsu, akun yang melaporkan berita tertentu, akun palsu di Facebook dan lainnya," kata Wallbank.

"Kita bisa melihat begitu banyaknya kelomppok penekan, partai politik dan yang lainnya dalam membuat kelompok palsu dan menggunakan untuk kepentingan mereka," katanya.

"Persoalan ini tidak akan hilang begitu saja, dan menurut saya kita akan melihat ini semakin memburuk di tahun-tahun mendatang," ujarnya lagi.

Berita palsu mendapat banyak pembaca

Sosial media seperti Facebook dan Twitter memberikan akses untuk mendapatkan berita yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Facebook sekarang adalah pemain raksasa di dunia media. Di Amerika Serikat, 44 persen warga mendapatkan berita lewat Facebook.

Nicholas Reece, pakar kebijakan publik di University of Melbourne mengatakan sosial media memang memiliki beberapa sisi buruk.

"Beberapa berita palsu ini mendatangkan pembaca yang luar biasa banyak, kami memiliki data untuk membuktikannya," katanya.

"Banyak dari berita-berita palsu ini dibaca oleh lebih banyak orang dibandingkan berita yang benar," katanya.

Masalah ini semakin diperburuk karena banyak anak-anak muda Australia tidak lagi mencoba mengetahui keadaan menggunakan media tradisional seperti televisi, radio atau koran dan majalah.

Maisie seorang remaja berusia 21 tahun dari Sydney mengatakan semua berita yang dibacanya didapatnya dari sumber seperti Facebook.

"Saya mengikuti Facebook, dalam jumlah yang berimbang, antara laporan yang menurut saya bias, dan yang lainnya tidak bias," katanya.

"Dan kemudian saya juga melihat siapa yang menulis, dan juga blog, dan mencoba melihat keseimbangan apa yang ditulis oleh mereka," ujar Maisie.

Diterjemahkan pukul 15:20 AEST 21/11/2016 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini