ABC

‘Belum Berhenti Menangis’: Inilah Rasanya Rebutan Tiket Konser Taylor Swift

Rabu kemarin, Bridget Saric sudah siap untuk sebuah pertempuran sejak sebelum matahari terbit dengan duduk di depan komputernya.

Ia sengaja mengambil cuti dari kerjaannya agar seharian bisa memantau Ticketek, sebuah situs penjual tiket.

Saat Taylor Swift mengumumkan tur 'Eras Tour' ke Australia, Bridget juga langsung memesan hotel di Sydney dan Melbourne.

"Pokoknya apa pun yang saya dapatkan, saya akan pergi," kata Bridget, usia 20 tahun yang mengaku dirinya sebagai 'Swiftie' atau penggemar berat Taylor Swift.

Tapi pada pukul 3 sore, atau 10 jam setelah Bridget mencoba membeli tiket 'pre-sale', rasa optimisnya mulai memudar.

"Salah satu teman saya nelepon dan bilang kalau ia langsung mendapatkan tiket. Saya langsung nangis [karena belum dapat] dan membuat saya hancur."

Konser ditambah dua hari

Di hari itu, lebih dari 4 juta orang di Australia mencoba keberuntungan mereka untuk mendapatkan tiket 'pre-sale' yang dijual di kisaran AU$79,90 hingga AU$1.249,90.

Jumlah orang yang berebut tiket tersebut memecahkan rekor di Australia.

Tadinya hanya ada lima konser Taylor Swift di Australia, yang akan digelar di kota Sydney dan Melbourne.

Tapi pihak penyelenggara menambahkan dua konser tambahan karena "permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya". 

Konser di Melbourne akan digelar menjadi tiga hari mulai 16 Februari, sementara di Sydeny konser akan dimulai 23 Februari selama empat hari.

Melihat jumlah peminat yang mencoba mendapatkan tiket konser, biro statistik Australia memperkirakan hanya 2,4 persen warga Australia yang bisa membeli tiket.

Sayangnya, Bridget tidak termasuk yang berhasil mendapatkan tiket, meski ia sudah mencoba online selama 16 jam.

"

"Saya menangis sampai tertidur," katanya.

"

Perjuangan mendapatkan tiket

Georgia Carroll adalah kandidat PhD yang sudah lima tahun meneliti soal 'Swiftie'.

Ia mengaku butuh enam jam menunggu bisa mendapatkan tiket konser di Sydney dengan "tingkat kecemasan yang tinggi".

Perempuan berusia 29 tahun tersebut dibesarkan dengan lagu-lagu Taylor Swift, karenanya tidak mau melewatkan sedetik pun saat online. 

Hingga ia berhasil mendapatkannya dari orangtuanya yang juga ikut mengantri secara online. 

"Benar-benar mengejutkan dan tidak percaya," katanya.

"Saking tidak percayanya, saya masuk ke aplikasi Ticketek dan mengambil screenshot berkali-kali!"

Unggahan di Reddit, Facebook grup, atau obrolan di 'messenger' digunakan para penggemar Taylor Swift yang sedang senewen menunggu giliran mereka membeli tiket konser.

"

"Rasanya seperti semua orang di Australia, banyak orang yang merasakan pengalaman traumatis ini bersama-sama," kata Georgia.

"

Vince Phan, usia 30 tahun, mengaku jika lagu-lagu Taylor Swift membantunya untuk "tetap semangat" saat ia pindah ke Australia dari Vietnam.

"Saya tidak bisa sarapan, saya tidak bisa minum kopi, saya harus mengawasi laptop dan ponsel," ujarnya, menceritakan pengalamannya membeli tiket.

Baru setelah jam 5 sore, ia bisa membeli empat tiket untuk paket 'It's a Love Story' seharga AU$ 399 per paket.

Bianca Wru, warga Australia berusia 27 tahun, berhasil membeli tiket saat ia sedang berada di Filipina dengan koneksi internet yang lambat.

Sejak Taylor Swift mengumumkan konser internasional, ia sudah mencari tahu lokasi konser, tempat duduk yang pas, bahkan sudah merasa cemas bagaimana kalau ia tidak mendapatkan tiket.

"Saya senang akhirnya bisa tidur lagi dan tidak perlu lagi bangun jam 5:30 besok pagi, hanya untuk naik sepeda motor selama 45 menit ke pantai karena di sana jaringan internetnya lebih kencang," ujar Bianca.

"

 "Saya telah menunggu momen ini sejak saya berusia 13 tahun."

"

Karen New, ibu dari dua anak asal Brisbane mengaku sebagai seorang 'Swiftie' di keluarganya.

Ia berhasil membeli empat tiket, meski sekarang tetap ada tantangan untuk menonton konser Taylor Swift.

"Aksesibilitas untuk orang cacat, itu tidak ada," katanya.

Sebelumnya ia sudah menghubungi Ticketek untuk mencari informasi apakah bisa membawa seorang 'carer' atau pendamping untuk membantu putrinya yang autis datang ke konser.

Dia kemudian diberi tahu kalau izin membawa 'carer' tidak dapat dijamin sebelum tiket dijual.

"[Tapi] saya memutuskan lebih baik mengambil kesempatan dan lihat nanti saja, karena enggak mau berisiko tidak kebagian tiket," katanya.

Karen sekarang sedang menunggu kabar agar permohonannya dikabulkan oleh pihak penyelenggara, dan terus mencoba apa pun caranya agar ia bisa datang bersama pasangannya serta anaknya yang berusia 11 dan 14 tahun.

"Ini akan jadi tantangan besar kalau tidak ada pendamping, karena kami bawa dua anak autis."

Tapi, setidaknya ia masih terharu akan tetap bisa nonton konser Taylor Swift, meski tanpa pendamping bagi anak-anaknya.

"

"Saya belum berhenti menangis, sudah berkali-kali air mata menetes dalam 24 jam terakhir."

"


Artikel ini dirangkum dan diroduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan ABC News