ABC

Banyak Mahasiswa di Canberra Terpaksa ‘Mengais Sampah’ untuk Makan

Mahasiswa di  ACT yang memiliki uang terbatas banyak yang rutin 'mengais sampah' untuk mendapatkan makanan. Sementara layanan dukungan bagi mahasiswa mengaku permintaan kupon makanan meningkat signifikan belakangan ini.

Meningkatnya biaya sewa rumah dan tagihan lainnya membuat semakin banyak mahasiswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka meskipun mereka menerima tunjangan penghasilan ataupun bekerja paruh waktu.
 
Kondisi ini salah satunya dialami oleh mahasiswa semester 8 di Fakultas Seni Universitas Nasional Australia (ANU), Louise Stockton.
 
Mahasiswi ini mengaku tunjangan dari pemerintah yang diterimanya tidak lagi cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan pekerjaan paruh waktu yang dilakoninya pun tetap tidak mampu menutup kesenjangan kebutuhan dengan isi dompetnya.
 
"Saya selama ini banyak mengandalkan usaha mencari makanan di tempat kerja dan juga mengais sisa makanan,' tuturnya.
 
"Saya pergi keluar pada jam-jam yang tidak biasa dan seaman mungkin mencari sisa makanan dan menghindari pemilik toko," tambahnya.
 
"Tapi dengan cara ini saya jarang dapat makan-makanan penting seperti roti, susu, buah dan sayuran setiap pekannya"
 
Untuk membantu rekan-rekannya sesama mahasiswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup seperti ini, Asosiasi Mahasiswa Universitas Nasional Australia ((ANUSA) terus meningkatkan jumlah kupon makanan dan kupon belanja yang disediakannya.
 
Semester ini saja jumlah kupon belanja gratis yang diberikan oleh organisasi ini bertambah dua kali lipat dan untuk pertama kali mereka juga membagikan makan siang gratis serta paket peralatan mandi seperti shampo, sabun dan lain-lain.
 
ANUSA juga meminta para dosen dan staf ANU untuk mendorong mahasiswa yang kesulitan untuk mengakses bantuan mereka.
 
"Jika ada mahasiswa yang kesulitan mendapatkan makanan, itu artinya pendapatan mereka tidak cukup untuk membuat mereka makan dengan layak sesuai kebutuhan makanannya," kata salah satu pengurus ANUSA, Carolyn Halliday.
 
"Ada banyak orang yang tidak nyaman meminta bantuan, sehingga kita melakukan segalanya agar mereka dapat mengakses bantuan makanan ini semudah mungkin misalnya tanpa perlu mengisi form apapun atau penjelasan apapun,"
 
"Mereka cukup meminta makanan kepada kami dan kami akan memberikan mereka kupon, hal itu dapat menghapus stigma,"
 
Sebuah survey sukarela yang dilakukan oleh mahasiswa strata 1 ANU tahun lalu menemukan hampir 30 persen mahasiswa ANU tidak memiliki sumber daya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
 
Oleh karena itu pengacara layanan sosial, Susan Helyar,  kembali menyuarakan desakannya agar tunjangan bagi mahasiswa dan pekerja dari pemerintah ditingkatkan hingga $50 per minggu.

"Kita butuh sistem yang secara nyata memungkinkan penerima tunjangan bisa membiayai kebutuhan hidupnya dan situasi kehidupan mereka untuk memastikan mereka tidak terjebak dalam pusaran kemiskinan,"
 
"Saya kira tidak ada pihak yang menginginkan mahasiswa di Australia hidup kekurangan sehingga mereka tidak perlu bekerja 30 jam per minggu agar bisa membeli makanan,"
 
Pengacara ini mengklaim perubahaan kebijakan pemerintah mengenai tunjangan bagi mahasiswa ini secara permanan dapat menurunkan tingkat putus kuliah atau DO di perguruan tinggi hanya karena mereka kurang beruntung atau kesulitan keuangan.