ABC

Banyak LGBTI di Australia Sembunyikan Identitas Seksual

Hampir setengah dari lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks (LGBTI) di Australia menyembunyikan identitas seksual mereka di lingkungan kerja. Sementara 1 dari 5 warga Australia melaporkan tindakan diskriminasi karena warna kulit mereka.

Temuan ini merupakan bagian dari Festival Internasional Dive In yang diprakarsai oleh perusahaan asuransi Lloyd. Festival ini bertujuan untuk melihat kemajuan dan aktivitas keanekaragaman serta inklusivitas di tempat kerja.
Laporan ini menemukan enam dari 10 orang LGBTI di Australia mengalami pelecehan verbal homofobia di tempat kerja, sementara 2 dari 10 mengalami kekerasan fisik.
"Penelitian menunjukkan bahwa ketika staf LGBTI bersikap 'terbuka’ kepada semua mengenai identitas mereka, maka terlihat peningkatan produktivitas hingga 15 sampai 30 persen dan juga tingkat retensi membaik hingga sebesar 10 persen," kata Chris Mackinnon, perwakilan umum Lloyd di Australia, dalam sebuah pernyataan.

Lima tahun lalu, sebuah studi di AS menunjukan hampir 50% karyawan LGBTI tidak mengungkapkan identitas seksual mereka di perusahaan tempat mereka bekerja.
Kebudayaan, disabilitas dan diskriminasi
Kajian ini berusaha mengungkap area lain dari perlakuan diskriminasi juga.
Lloyd menemukan jika Bahasa Inggris bukan merupakan bahasa ibu dari seorang pekerja, maka mereka 3 kali berpeluang mengalami diskriminasi di lingkungan kerja ketimbang penutur Bahasa Inggris asli.
"Australia merupakan salah satu negara paling multikultural di dunia, dengan lebih dari sepertiga dari kita bermigrasi ke negara ini selama lebih dari 70 tahun,” kata Mackinnon.

Selain itu, laporan tersebut juga memperkirakan bahwa $43 miliar dapat ditambahkan dalam pendapatan kotor (GDP) warga Australia selama lebih dari 10 tahun jika saja diskriminasi bagi penyandang disabilitas bisa diatasi, sementara $25 miliar lainnya bisa ditambahkan jika orang berusia di atas 55 tahun mampu menemukan pekerjaan yang dibayar.
Satu dari 5 orang memiliki salah satu bentuk disabilitas,tapi Australia termasuk yang paling buruk tingkat perekrutan kerja bagi warga difabel di negara-negara berkembang, dengan hanya menempati peringkat 21 dari 29 negara anggota OECD.
Laporan ini juga menemukan ada banyak kemajuan dalam sektor keragaman gender dibanding area yang lain.
Laporan ini menyebutkan perusahaan dengan keragaman gender yang tinggi memiliki tingkat pendapatan 15 persen lebih tinggi dari rata-rata pendapatan industrinya.
Direktur Eksekutif Lloyd, Inga Beale, yang ditunjuk pada tahun 2013, merupakan perempuan pertama yang mengepalai perusahaan ini dalam kurun waktu 328 tahun sejarah perusahaan tersebut. Beale meluncurkan laporan ini di Sydney melalui pesan videonya.

Diterjemahkan pada pukul 15:00 WIB, 28/9/2016 oleh Iffah Nur Arifah. Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.