ABC

Bantu Rekan Penuhi Kebutuhan Makan, Mahasiswa ANU Kumpulkan Makanan Sisa Supermarket

Dua orang mahasiswa Universitas Nasional Australia (ANU) menjalankan program pintar yang membantu rekannya sesama mahasiswa yang kekurangan makanan lantaran tidak memiliki cukup uang sambil membantu mengurangi pemborosan pangan terutama oleh supermarket di Canberra.

Program yang diberi nama ‘Student Bites’ itu digawangi oleh dua mahasiswa Pasca Sarjana ANU, Kirk Fonseca dan Hersh Oberoi.
 
"Kami adalah mahasiswa jurusan bisnis, dan kami ingin mencari dan menciptakan sesuatu dari setiap kesempatan yang ada,’ kata Fonsesca.

"Sesuatu itu tidak harus selalu bertujuan mencari keuntungan- tapi selama sesorang atau komunitas kita bisa mendapatkan manfaat, maka kami hanya ingin menciptakan peluang dan melihat keuntungannya,” tambah Fonsesca.

Program ini melibatkan dua supermarket besar di Canberra dan mengumpulkan makanan dan barang belanjaan dalam kondisi baik yang sudah tidak akan dijual lagi. Daripada dibuang, makanan itu kemudian mereka bawa kembali ke kampus ANU untuk didistribusikan kepada mahasiswa yang kesulitan membeli makanan karena keuangan yang terbatas.

Selama lebih dari 6 bulan berlangsung, program Student Bites ini berhasil mengumpulkan 4,5 ton produk makanan dan barang belanjaan yang  didistribusikan ke lebih dari 820 mahasiswa.

"Banyak sekali makanan yang biasanya dibuang begitu saja pada setiap akhir penjualan karena supermarket harus membuat stok yang baru,” kata Oberoi.

"Sementara kita tahu banyak mahasiswa yang memiliki anggaran terbatas dan mereka tidak mampu membeli barang kebutuhan mereka sambil menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa,”katanya lagi.

"Mahasiswa ini butuh dukungan dan bantuan dan sumbangan makanan ini sangat membantu memperlonggar anggaran keuangan para mahasiswa sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka di kampus sambil memenuhi kebutuhan nutrisi mereka sendiri,” katanya.

Kekurangan uang untuk membeli makanan biasa menjadi topik yang jarang dibicarakan dikalangan mahasiswa internasional.

"Datang dari negara berkembang untuk belajar di universitas ini, ada banya mahasiswa yang kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal sementara setiap harinya supermarket itu membuat sampah makanan yang sangat banyak,” kata Oberoi.

Program ini juga mendapat bantuan dana dari pihak ANU sendiri, namun pendirinya melihat bantuan dana itu tidak signifikan, oleh karena itu mereka harus mengaplikasikan kemampuan bisnis mereka untuk mengelola pengeluaran dan anggaran.

Oberoi dan Fonsesca turut Dibantu oleh rekan logistik yang mendapat izin untuk mengumpulkan bahan makanan dari supermarket.

Sebagai mahasiswa pasca sarjana, mereka berharap bisa mengalihkan ide ini kepada orang lain untuk meneruskan program ini.

"Kami tengah menyusun rencana dan mencari partner potensial – kami bahkan membahas program ini dengan universitas lain,” tambah Fonsesca.

"Mereka juga ingin mahasiswanya mendapatkan dukungan logistik, jadi ada banyak orang potensial yang menghampiri kami dan menawarkan bantuan,”