ABC

Bank Sentral Australia Khawatir Dengan Harga Properti di Sydney

Gubernur Bank Sentral Australia (Reserve Bank Australia, RBA) Glenn Stevens  mengatakan dia khawatir dengan pasar properti di Sydney dimana di beberapa kawasan harga properti sudah mencapai taraf 'gila-gilaan'.

Dalam pidatonya dalam sebuah acara makan siang bersama kalangan bisnis di Brisbane, Stevens mengatakan RBA siap untuk menurunkan tingkat suku bunga bila memang diperlukan, dan menambahkan bahwa 'kecil kemungkinan dalam waktu dekat akan terjadi kenaikan tingkat suku bunga'.

Namun dia mengatakan bahwa boom properti di Sydney 'sangat mengkhawatirkan" meskipun pasar properti di ibukota negara bagian lainnya tidaklah terlalu menanjak.

"Saya khawatir dengan Sydney. Saya kira apa yang terjadi boleh disebut gila, namun dalam waktu bersamaan kami harus memfokuskan diri pada peta nasional, dan itu membuat semuanya lebih kompleks." kata Stevens.

Glenn Stevens mengatakan tidak mungkin pemilik rumah di Australia untuk membeli properti dan juga belanja yang lain pada tingkat seperti sekarang. (AAP: Dan Peled)
Glenn Stevens mengatakan tidak mungkin pemilik rumah di Australia untuk membeli properti dan juga belanja yang lain pada tingkat seperti sekarang. (AAP: Dan Peled)

 

"Mengenai apakah ini akan berpengaruh pada tingkat suku bunga atau tidak, saya tidak mau memberikan komentar." lanjutnya.

Pernyataan Glenn Stevens ini senada dengan peringatan adanya kemungkinan properti " bubble" yang dikeluarkan oleh Sekretaris Bendahara Utama Australia John Fraser minggu lalu.

Stevens mengatakan booming ini disebabkan adanya pertumbuhan kredit yang tinggi, dan standar peminjaman yang tidak terpantau, sesuatu yang menurutnya mengkhawatirkan dan perlu diambil tindakan.

"Kami akan berusaha memastikan bahwa standar peminjaman tetap dipertahankan atau malah ditingkatkan." katanya.

Dalam lanjutan pidatonya, Stevens mengatakan bahwa banyak rumah tangga di Australia sudah memiliki utang dan tidak bisa meminjam lebih banyak lagi.

"Dari tiga sektor besar - rumah tangga, pemerintah dan korporasi - rumah tangga lah yang paling kecil memiliki kemungkinan untuk meminjam lebih banyak." katanya.

"Itu karena mereka sudah melakukan hal yang sama 10 tahun lalu. Beban utang, walau sekarang tetap bisa dibayar dengan tingkat suku bunga rendah, jumlahnya sudah tinggi."

Pendapat ini tampaknya sangat berbeda dengan usulan Bendahara Utama Australia Joe Hockey bulan lalu yang mengharapkan rumah tangga dan bisnis unutk meminjam uang untuk belanja dan investasi.

Stevens mengatakan tingkat suku bunga yang sangat rendah bisa menciptakan masalah besar bagi perekonomian.

"Ini bukan karena kebijakan moneter tidak mampu namun dampaknya tidak besar." kata Stevens.