ABC

Ballarat Kota ‘Angker’ Pusat Budaya ‘Hantu Jadi-Jadian’

Hantu telah lama menjadi subjek yang populer di kawasan Victoria Tengah. Kepercayaan terhadap hantu, cerita-cerita mengenai hantu dan sosok hantu telah menjadi subyek yang penting dan mendapat sorotan luas di media cetak maupun pertemuan warga hingga akhir era demam emas. Nuansa ini terasa sangat kental di Kota Ballarat, sampai-sampai kota ini mempopulerkan budaya menakut-nakuti orang dengan sosok hantu jadi-jadian alias Ghost Hoaxing.

 

Menakut-nakuti orang dengan menggunakan kostum menyeramkan dan penutup mata belakangan ini mungkin semakin jarang dijumpai. Sebaliknya orang mungkin sudah terbiasa melihat warga dari beragam usia menggunakan kostum hewan.
 
Namun budaya menakut-nakuti orang dengan sosok hantu menyeramkan sebenarnya bukan hal baru, karena menurut seorang pakar sejarah dari Universitas Federasi Australia, Dr. David Waldron tren menakut-nakuti orang dengan sosok hantu alias 'ghost hoaxing' telah berlangsung sejak abad ke-19 di Australia.
 
"Ghost hoaxing adalah orang sengaja membuat lelucon dan berusaha dan menciptakan kepercayaan kalau hantu itu benar-benar ada atau sengaja menakut-nakuti orang, dan biasanya pelaku menggunakan kostum khusus yang menyeramkan dan terkadang bisa menyala di kegelapan," kata David Waldron.
 
Riset yang dilakukan Dr Waldron mendapati kalau budaya ghost hoaxing juga terjadi di Inggris dan khusus di Australia, budaya ini secara khusus ditemukan sangat populer di daerah Ballarat pada akhir abad ke-19.
 
"Di Ballarat ada banyak warga pendatang dari kalangan usia lanjut yang berasal dari berbagai kawasan di Eropa,  khususnya Inggris dan mereka mewariskan budaya dari tanah asal mereka,"
 
Banyak dari warga pendatang itu merasa tercerabut dari kebudayaan tradisionalnya dan mungkin merasa terancam dengan gelombang baru aliran rasionalisme ilmiah yang menurut pandangan mereka banyak mendiskreditkan kepercayaan mereka.
 
"Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menakut-nakuti orang yang mengaku tidak percaya pada hantu," katanya.
 
Budaya menakut-nakuti orang yang marak di Ballarat ini tidak lepas dari maraknya cerita hantu, eksorsisme dan hantu yang terjadi di kawasan Victoria Tengah. Pada era-1870-an, Ballarat, Bendigo dan Melbourne telah menjadi pusat berkembangnya spiritualisme.  
 
Selama masa jayanya kebudayaan menakut-nakuti orang ini, menurut Dr Waldron ia mendapati bukti dalam sepekan bisa terjadi beberapa kali insiden warga yang melapor telah  menjadi korban ghost hoaxing.
 
Ketika itu ada banyak orang yang secara serius merancang kostum menakutkan dan mencari tempat bersembunyi yang tepat agar mendapat banyak perhatian orang, Ada sebagian yang melakukan budaya ini sebagai lelucon belaka, tapi ada juga yang dilatarbelakangi kepentingan sinistis.
 
Salah satu pelaku yang menggunakan pakaian yang dapat bersinar di kegelapan dan jubah panjang dan topi serba putih kerap menakuti perempuan di sekitar jalan Mair dan Lydiard, dan ketika tertangkap ternyata merupakan seorang tokoh terkenal, kaya raya dan dihormati, namun pada malam hari dia mengaku sangat ingin berkeliaran menakuti orang.

Dr Waldron mengatakan perempuan juga ada yang ikut menjadi pelaku dari budaya ghost hoaxing di Ballarat.
 
Salah satunya adalah sosok perempuan yang dikenal senang mengecoh orang dengan berpenampilan sebagai lagi-laki, lalu  ia kemudian beralih menggunakan pakaian menyeramkan dan menggunakan topeng kertas serta jubah putih yang sebelumnya direndam di cat yang bisa menyala dalam gelap.
 
Dia kerap bersembunyi di bawah jembatan dan menakut-nakuti orang.