ABC

Australia Jadi Pelopor Dunia Dalam Pengobatan Hepatitis C

Penelitian terbaru menunjukkan, makin banyak orang di Australia yang berpeluang untuk sembuh dari hepatitis C pada tahun ini dibanding dua dekade terakhir.

Laporan yang disusun Institut Kirby di Universitas New South Wales menunjukan, sekitar 230 ribu orang menderita hepatitis C diseluruh Australia tahun lalu, tapi hanya 1 dari 5 pasien saja yang menerima pengobatan.

Penyakit Hepatitis C ditularkan melalui kontak darah dan kerap tersebar akibat praktek penggunaan jarum suntik bersama.

Pengobatan anti-virus oral, dengan tingkat penyembuhan di atas 90% telah dimasukan dalam daftar obat-obatan yang mendapat subsidi dari pemerintah Australia melalui Skema Manfaat Obat-Obatan (PBS) pada Bulan Maret lalu. Dan sejak saat itu lebih dari 26 ribu penderita Hepatitis C mampu mengakses bantuan itu.

Professor Gregory Dore mengatakan, hasil dari laporan ini menempatkan Australia sebagai negara terdepan dalam pengobatan Hepatitis C.

“Tak diragukan lagi bahwa Australia berhasil membuat iri dunia,” katanya.

“Dalam lima bulan pertama sejak akses pengobatan dimulai...lebih dari 10% penduduk Australia yang menderita hepatitis C kronis telah menggunakannya.”

“Jika membandingkan pencapaian ini dengan banyak negara lain dalam kurun waktu 12 bulan pertama pengobatan, jika anda berhasil mengobati 5% atau 7% penderita di tahun pertama maka anda sudah dianggap sangat baik.”

Virus meningkat di kalangan komunitas Aborijin

Sementara itu, jumlah warga Aborijin dan Selat Torres yang menderita  hepatitis C meningkat lebih dari 40% dalam 5 tahun terakhir.

Glenn Wagner dari komunitas Aborijin Gadigal mengatakan, pengobatan hepatitis C tidak selalu sederhana mengingat efek samping yang ia alami selama pengobatan awal penyakit ini.

"Berat badan saya turun 35 kilo, saya tidak nafsu makan, semuanya terasa seperti kardus," katanya.

Gregory Dore
Professor Gregory Dore mengatakan Australia mengungguli negara-negara lain di dunia dalam hal pengobatan hepatitis C.

Supplied, file photo

“Kadang-kadang saya bisa tidur, kadang-kadang tidak. Begitu saya disuntik, 2-3 hari berikutnya saya tak bisa melakukan apa-apa,” tuturnya.

Sejak mengonsumsi obat tablet baru ini, Wagner mengaku tidak merasakan efek samping apa-apa.

Tapi sebagian besar warga Aborijin penderita hepatitis C tidak menunjukan hasil yang positif, dengan tingkat diagnosa di antara mereka 3-4 kali lebih tinggi dibanding komunitas non-Aborijin.

“Tidak diragukan lagi bahwa hepatitis C dan hepatitis B, dalam hal ini, memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap populasi warga Aborijin di Australia,” kata Professor Dore.

Akses dan kesadaran untuk berobat jadi masalah bagi warga minoritas

Penelitian kedua dari Pusat Penelitian dan Kesehatan Sosial UNSW menunjukan, akses dan kesadaran pengobatan di antara warga minoritas lainnya terus menjadi masalah.

Riset ini menemukan, dari 405 laki-laki gay dan biseksual yang disurvei, hanya sekitar sepertiganya yang menyadari pengobatan untuk menyembuhkan hepatitis C tersedia.

Profesor Carla Treloar mengatakan, temuan ini menunjukkan perlunya solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok minoritas ini.

“Ada sejumlah cara yang membuat komunitas Aborijin  dapat ditargetkan lebih spesifik dan dengan cara yang lebih tepat secara budaya dalam menyediakan informasi, pendidikan dan kemudian menghubungkannya dengan pengobatan dan dukungan bagi para penderita hepatitis C,” papar Professor Treloar.

“Kita tahu pencegahan lebih efektif dalam urusan biaya dan lebih murah daripada pengobatan.”

“Jadi kami tidak bisa lengah dalam menyediakan teknologi yang kami tahu bisa membantu penderita untuk melindungi dan memperbaiki kesehatan mereka.”

Professor Treloar juga mengatakan, meningkatnya investasi dalam program jarum suntik dan pengobatan pengganti zat aditif juga diperlukan.

Stigma hepatitis C merajalela

Wagner mengatakan, pemahaman budaya yang meningkat terhadap warga Aborijin bisa membantu menurunkan kasus hepatitis di tengah masyarakat.

"Ada banyak ketidakpercayaan antar generasi di antara warga kulit putih Australia, jadi saya pikir hal itu turun berperan,” katanya.

"Masyarakat adalah segalanya ... karena stigma yang melekat pada hepatitis C masih lazim dan terjadi di luar sana. Jika masyarakat mendukung Anda, Anda tidak merasa malu."

Profesor Treloar menemukan, warga Aborijin dengan hepatitis C, yang memiliki hubungan dekat dengan komunitasnya, lebih mungkin menunjukkan ketahanan yang lebih besar, memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan lebih jarang mengalami stigma dibanding mereka yang tak memiliki kedekatan dengan komunitasnya.

Pada usia 50 tahun, Wagner belajar layanan kemanusiaan di universitas dan akan lulus tahun depan.

Dia dinyatakan sembuh dari hepatitis C pekan lalu.

Diterjemahkan pada pukul 16:30 WIB, 29/9/2016 oleh Iffah Nur Arifah. Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.