ABC

Australia Gabung Multinasional Bantu Infrastruktur Listrik Papua Nugini

Australia bersama dengan Amerika Serikat (AS), Jepang dan Selandia Baru akan menggulirkan infrastruktur listrik baru di Papua Nugini (PNG).

Kerjasama ini menjanjikan penyediaaan listrik hingga 70 persen dari seluruh populasi di negara itu pada tahun 2030.

Saat ini banyak kawasan di Papua Nugini masih gelap gulita di malam hari. Pemerintah Papua Nugini memperkirakan hanya 13 persen penduduknya memiliki akses listrik yang dapat diandalkan.

Inisiatif baru ini bertujuan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat dengan menyediakan kekuatan untuk layanan penting seperti sekolah dan rumah sakit, serta membantu bisnis lokal untuk tumbuh.

Hal ini juga bertujuan untuk menegaskan kembali pengaruh Australia di Papua Nugini dalam menghadapi dorongan infrastruktur yang agresif di negara itu dari China.

Perdana Menteri (PM) Scott Morrison Minggu (18/11/2018) pagi menandatangani perjanjian kemitraan untuk proyek ini dengan Wakil Presiden AS Mike Pence, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan Perdana Menteri Papua Nugini (PNG) Peter O'Neill.

O'Neil mengatakan proyek itu akan menjadi mendatangkan perngaruh yang signifikan bagi PNG.

"Saya sangat yakin kami akan dapat menghubungkan ratusan ribu keluarga di seluruh negara kami " kata O'Neill.

"Mungkin unik bagi para pemimpin berkumpul di sini hari ini, saya tahu dari pengalaman langsung bahwa hidup tanpa listrik sangat sulit.

"Saya tahu manfaat proyek ini akan mengalir ke warga kami dan mampu meningkatkan penyampaian layanan dan pertumbuhan."

Ibukota Papua Nugini Port Moresby
Banyak kawasan di Papua Nugini diluar ibukota Papua Nugini, Port Moresby, masih kekurangan sumber pasokan listrik yang dapat diandalkan.

Wikimedia Commons: MSchlauch

Sejauh ini jumlah uang yang telah dijanjikan relatif kecil - Australia akan mengalokasikan anggaran sebesar $ 25 juta atau sekitar Rp 267 miliar bagi proyek ini di tahun pertama, sementara Selandia Baru membuat kontribusi yang sedikit lebih kecil.

AS dan Jepang belum mengatakan berapa banyak uang yang akan mereka keluarkan.

Proyek ini akan memerlukan investasi baru untuk pembangkit tenaga listrik di Papua Nugini, serta tiang dan kabel baru di seluruh daerah berbukit di negara tersebut.

Saat ini lebih dari separuh listrik di Papua Nugini berasal dari pembangkit tenaga air, sehingga Australia dan mitra lainnya kemungkinan akan memulai bantuan ini dengan memperluas kapasitas pembangkit listrik tenaga hidro di negara ini.

Australia dan mitra-mitranya juga berharap dapat menarik investasi dari sektor swasta untuk membantu membangun infrastruktur ini, meskipun mereka mengatakan Papua Nugini perlu menyederhanakan peraturan untuk menarik investasi masuk ke negara mereka.

PM Scott Morrison mengatakan inisiatif ini akan mengantar kemakmuran baru bagi masyarakat Papua Nugini.

"Kami akan selalu di sini untuk mendukung rakyat PNG dan pembangunan mereka," kata Scott Morrison.

Sementara Wakil Presiden AS, Mike Pence mengatakan dampak dari proyek ini akan sangat  "luar biasa" bagi kehidupan masyarakat di PNG dan itu menunjukkan komitmen Amerika ke wilayah tersebut.

"Listrik akan mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi seperti yang dikatakan orang lain, proyek ini pasti akan dapat meningkatkan kualitas hidup orang-orang di Papua Nugini untuk generasi mendatang," kata Pence.

ABC/AP

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.