ABC

Australia Alami Kekeringan Terparah dalam 100 Tahun

Banyak lahan di Australia mengalami kekeringan terparah dalam waktu 100 tahun terakhir. Hal ini terlihat dalam peta yang dikeluarkan oleh badan prediksi komoditas nasional negara tersebut.

Pemetaan ini merupakan bagian dari proyek ketersediaan air Australia, dimaksudkan untuk mengukur kelembaban lapisan tanah atas pada bulan Januari 2014. Ukuran tersebut dibandingkan dengan angka-angka 100 tahun terakhir.

Kemarau memang datang cukup telat, hingga tidak mempengaruhi penanaman gandum, canola dan gandum barley, yang bukan merupakan tanaman musim panas. Sebaliknya, tanaman musim panas seperti kapas dan padi akan terkena dampak. Diramalkan, akan terjadi penurunan 25 persen hasil panen tanaman musim panas.

Biro Ekonomi dan Ilmu Pertanian dan Sumberdaya Australia (ABARES), dalam pertemuan di Canberra, meramalkan bahwa kondisi akan kembali normal untuk sisa tahun 2014 dan 2015. Disebutkan, akan ada penurunan jumlah hewan ternak potong. Namun, bila kondisi tetap kering atau bertambah kering, maka harga ternak bisa makin turun.

ABARES memprediksi peningkatan pendapatan hingga tingkat tertinggi selama 30 tahun untuk petani di Australia Barat dan Selatan, dikarenakan panen berlebih dan pasar ekspor daging sapi yang membaik.

Namun, produsen di Queensland dan New South Wales yang terkena kekeringan kemungkinan besar akan mengalami penurunan pendapatan drastis.

Produsen daging sapi di Queensland, petani gandum dan biji-bijian lainnya di Australia Barat dan peternak susu di Victoria bagian barat termasuk yang paling parah mengalami penurunan pendapatan.

Sementara itu, ABARES juga memprediksi bahwa dollar Australia akan terus menurun terhadap dollar Amerika.

Yang menjadi kunci terkait apakah dollar Australia akan terus mendapat tekanan adalah China.

"Pertumbuhan diperkirakan terus menguat bagi banyak ekonomi dunia, namun harga komoditas diramalkan terus tinggi, apabila ada dukungan terhadap dollar Australia. Namun, bila prospek ekonomi bagi China memburuk, akan berakibat tekanan terhadap dollar Australia," demikian pernyataan ABARES.

ABARES memperkirakan dollar Australia akan bertahan pada posisi antara 83 - 65 sen dollar Amerika hingga 2019. Rata-rata 30 tahunnya adalah 76 sen dollar Amerika.