ABC

ATN Australia Bantu Sinergikan Riset Ilmiah Dosen Indonesia

Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggandeng Australian Technology Network of University (ATN) untuk mensinergikan pembangunan sumber daya staf pengajar perguruan tinggi di Indonesia dengan pembangunan riset ilmiah.

Sinergi ini dimungkinkan dengan ditandatanganinya kesepakatan kerjasama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dengan Australian Technology Network of University (ATN), sebuah konsorsium 5 perguruan tinggi muda dan paling inovatif di Australia yang terdiri dari Queensland University of Technology di Brisbane, University of Technology Sydney, RMIT University di Melbourne, University of South Australia di Adelaide, dan Curtin University di Perth pada Senin, 26 September 2016.

Perjanjian kerjasama ini akan memberikan kesempatan belajar bagi staf pengajar di perguruan tinggi Indonesia melalui program Beasiswa Dosen Unggulan Indonesia (BUDI) serta peluang kolaborasi riset antar perguruan tinggi Indonesia dengan perguruan tinggi ATN.

“Para pelajar akan memiliki kesempatan untuk mengakses fasilitas-fasilitas canggih, memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang kebudayaan Australia, mengembangkan kemampuan dalam berbahasa Inggris, dan merasakan nuansa kehidupan akademik di lima universitas kami,” kata Direktur ATN, Renee Hindmarsh.

Sementara itu Direktur Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati mengatakan kerjasama ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai target pembangunan riset ilmiah nasional yang tercantum dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

Professor Tanya Monro
Ketua delegasi ilmuwan ATN yang juga Deputi Wakil Rektor, Riset dan Inovasi dari University of South Australia, Professor Tanya Monro.

Iffah Nur Arifah

“Dalam Rencana Induk Riset Nasional 2015-2045, Indonesia bertekad meningkatkan peran dan kontribusi iptek dalam pembangunan secara bertahap. Dari hanya 16,7% saja pada saat ini menjadi 20% pada akhir 2019 dan hingga akhirnya 60% pada tahun 2040 nanti,” kata usai acara penandatanganan MOU di gedung Kemenristekdikti Jakarta
Muhammad Dimyati menambahkan pemerintah telah menetapkan bidang-bidang yang menjadi prioritas pembangunan riset ditanah air hingga 2045 mendatang yang mencakup riset dibidang pangan, pertanian, kesehatan, obat-obatan, energi dan energi terbarukan, transportasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi, pertahanan dan keamanan, kemanusiaan, kebencanaan dan kelautan.
“Rencana Induk Riset Nasional ini nantinya akan menjadi Perpres. Jadi semua lembaga penelitian harus merujuk pada fokus riset ini. Nantinya seluruh penelitian baik yang dilakukan di tingkat perguruan tinggi maupun lembaga penelitian baik LPNK maupun LIPI hingga Litbang di kementerian harus mengacu pada bidang-bidang tersebut.” tambahnya.
“Dengan demikian meski kita memiliki keterbatasan sumber daya dan pendanaan, penelitian yang kita lakukan bisa produktif dan efisien dan kita tetap bisa mencapai target dari tahapan-tahapan pembangunan iptek yang sudah kita rencanakan.” Tegas Muhammad Dimyati.
Oleh karena itu menurut Kemenristekdikti MOU ini menjadi penting untuk membangun kesepahaman dengan pihak perguruan tinggi di Australia agar nantinya penelitian yang akan dilakukan oleh dosen penerima Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) maupun kolaborasi riset yang akan dilakukan bisa diarahkan pada bidang-bidang prioritas tersebut.

Workshop riset ilmiah dengan 10 peneliti ATN
Staf pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang menjadi peserta workshop riset ilmiah dengan ATN mencari informasi mengenai studi di perguruan tinggi dalam jaringan Australian Technology Network (ATN) di Jakarta (26/9).

Iffah Nur Arifah


Sebagai langkah awal untuk membangun kesepahaman ini, acara penandatanganan MOU kerjasama diselenggarakan juga dengan workshop penelitian ilmiah yang mendatangkan 10 orang peneliti utama dari ATN . Ke-10 pakar dari berbagai latar belakang bidang studi ini berbagi pengalaman riset mereka dengan peserta riset yang merupakan perwakilan staf pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Ketua delegasi peneliti ATN yang juga Wakil Rektor University of South Australia, Tanya Monro dibagian awal juga menjelaskan bidang-bidang yang menjadi prioritas riset ilmiah di Australia.
“Sama seperti Indonesia dan banyak negara lain di dunia, Australia juga menggantungkan diri pada pembangunan riset ilmiah. Agar kedua pihak mendapat manfaat dari kerjasama ini, penting bagi kita untuk saling memahami kebutuhan dan program prioritas riset masing-masing negara,” kata Tanya Monro.
“Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan mengidentifikasi partner yang tepat untuk melakukan riset. Untuk itu kami membawa delegasi pakar dari berbagai disiplin ilmu yang anda bisa ajak bicara mengenai bidang riset yang anda minati dan juga mengeksplorasi kolaborasi riset yang bisa dilakukan antara universitas ATN dan perguruan tinggi anda.” Katanya.
“Berdasarkan pengalaman saya ini merupakan cara terbaik untuk meningkatkan kolaborasi riset ilmiah yang kaya dan produktif sekaligus disaat yang bersamaan memastikan mahasiswa mendapatkan bimbingan intensif berkelas dunia yang dapat meningkatkan keahlian riset ilmiah mereka dan membangung karir mereka di masa depan.” Katanya.

Sementara itu seorang Budi Gunawan, staf pengajar dari Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah yang menjadi peserta workshop hari itu berharap kerjasama ini dapat mengatasi kendala yang banyak dihadapi dosen perguruan tinggi Indonesia selama ini dalam mencari mitra riset ilmiah.

"Peraturan yang ada mewajibkan perguruan tinggi sudah memiliki kontak atau kesepakatan terlebih dahulu dengan perguruan tinggi yang akan menjadi mitranya di luar negeri. Semoga kerjasama ini bisa menjembatani kampus kami untuk bermitra dengan perguruan tinggi yang bagus di luar negeri khususnya Australia." kata dosen Fakultas Teknik tersebut.

Selain menggelar workshop riset ilmiah, delegasi ATN juga melakukan kunjungan ke pusat-pusat riset ilmiah Indonesia seperti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).