ABC

Anak-anak Perempuan Rohingya Jadi Korban Perdagangan Manusia

Di suatu tempat di hutan rawa dan lahan sawah yang menjadi perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, Tasmin yang berusia 13 tahun terpisah dari keluarganya dan ditangkap oleh pedagang manusia.

Pengungsi Rohingya remaja itu tidak pernah sampai di kamp pengungsian di mana seluruh keluarganya sekarang menetap.

Ayahnya, Ali Akbar, menghabiskan waktu selama berbulan-bulan mencoba mengetahui apa yang terjadi pada putrinya.

“Kami mengetahui bahwa seorang wanita membawanya ke Dhaka,” kata Akbar kepada ABC.

Dengan tatap mata yang menyedihkan, dia percaya bahwa itu adalah seorang wanita dari komunitasnya sendiri yang memperdagangkan putrinya.

“Kami mendengar dari banyak sumber bahwa dia adalah seorang wanita Rohingya, bukan orang Bangladesh.”

Tanpa diduga, putrinya menghubungi telepon genggamnya beberapa bulan kemudian dan membenarkan cerita itu.

Dia mengatakan kepada Akbar bahwa dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di ibukota Dhaka, dan dia tidak diijinkan meninggalkan rumah tempat dia bekerja.

Tapi telepon yang mengejutkannya itu diatur dengan tujuan jahat.

Anak-anak Rohingya
Anak-anak Rohingya menjadi sasaran para pedagang manuasia di perbatasan Bangladesh.

Oleh Siobhan Heanue

“Mereka menuntut gadis lain untuk diberikan kepada mereka,” kata Akbar tentang para pedagang yang menahan anak perempuannya.

“Jika saya bisa memberi seorang gadis lagi dalam waktu satu bulan mereka akan membebaskan putri saya dalam enam bulan.”

Tidak tahu mana yang lebih baik, dan tidak tahu bagaimana lagi mengembalikan putrinya, dia meyakinkan seorang teman dari desanya untuk menyerahkan putrinya kepada orang yang sama.

Temannya secara rela menyetujui permintaannya, percaya gadisnya akan dikembalikan dalam waktu sebulan sebagaimana yang dijanjikan.

Sekarang beberapa bulan telah berlalu, dan kedua gadis itu masih hilang.

“Ibunya menangis sepanjang waktu,” kata Farim Alam, ayah dari gadis kedua itu.

“Saya memberi anak perempuan saya karena saya ingin mengembalikan anak perempuannya,” katanya.

Putri Farim Alam berusia 12 tahun.

Anak-anak mencakup 60 persen dari populasi di kamp-kamp pengungsian, dan seringkali menjadi sasaran langsung dari perdagangan dan pemerkosaan.

Para pelaku perdagangan sering berpura-pura sebagai seorang yang mau membantu dan ramah, menjanjikan pekerjaan dengan gaji yang baik atau pernikahan yang baik kepada orang tua dari anak-anak yang ingin mereka ambil.

Gadis-gadis muda itu juga menjadi sasaran pria lokal, yang memaksa mereka berhubungan seks dan menjalani pernikahan yang tidak diinginkan.

Dia menyiksa saya

Halima Noor, 18, juga terpisah dari keluarganya saat melintasi perbatasan Bangladesh.

Dia mengatakan bahwa dirinya diculik oleh seorang pria setempat dan dipaksa untuk menikah dengannya.

“Dia membawa saya ke rumahnya dan menahan saya di sana selama tiga bulan,” katanya.

“Dia sering menyiksa saya di sana, itu sungguh menyakitkan.”

“Ketika saya punya peluang melarikan diri, saya melarikan diri dari rumahnya.”

Halima Noor masih menikah dengan pria yang menyerangnya, meski dia belum pernah mendengar kabar darinya dalam beberapa bulan.

Di komunitas Rohingya konservatif, itu berarti dia tidak bisa menikah lagi dan kondisi pelariannya dipandang sebagai sumber rasa malu bagi keluarganya.

Bagi gadis-gadis yang hilang dan pengantin muda dari krisis pengungsi Rohingya, melarikan diri dari Myanmar bukanlah akhir dari penderitaan mereka.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.