ABC

Alasan Warga Australia Nekad ke Pulau Terpencil di Aceh dan Nias untuk Berselancar

Selama bertahun-tahun, peselancar nekad pergi ke tempat-tempat yang sulit dijangkau di Indonesia demi mencari ombak yang ideal.

Salah satu destinasi paling populer adalah Aceh, di mana empat peselancar asal Australia dan tiga awak kapal lokal sempat dilaporkan hilang awal pekan ini.

'Speedboat' yang mereka tumpangi sempat terbalik akibat cuaca buruk hingga kehilangan kontak sekitar pukul 6 sore pada Minggu malam.

Semua warga Australia dan dua awak Indonesia ditemukan selamat setelah beberapa hari menggenang di laut, sementara seorang awak kapal lokal masih belum ditemukan.

Mereka biasanya pergi ke mana?

Empat turis Australia tersebut sedang berada di Provinsi Aceh, kemudian melakukan menuju Pulau Pingang di Kepulauan Banyak setelah berangkat dari pulau Nias.

Disebut Banyak, karena kepulauan ini memiliki 99 pulau yang hanya dapat dicapai dengan perahu.

Beberapa peselancar nekad berkemah di area yang juga dilengkapi dengan akomodasi murah.

Menurut Dan Howard, yang mengelola situs Indo Surf & Lingo, kebanyakan peselancar biasanya menyewa perahu lebih besar untuk mencapai pulau-pulau tersebut, tapi sebagian memilih untuk menyewa perahu ukuran kecil dari orang-orang lokal.

"Sebenarnya sih tidak dianggap berbahaya, karena penduduk setempat selalu melakukannya," kata Dan.

"Mereka memiliki perahu kayu dan menggunakannya di sekitar pulau. Begitulah cara mereka bepergian."

Kepulauan Banyak menjadi destinasi yang populer terutama antara bulan Maret hingga November.

"Setiap pulau tersebut pasti memiliki titik untuk surfing," ujar Dan yang sudah surfing di Indonesia sejak tahun 1980-an.

Apa yang membuat peselancar tertarik?

Kepulauan Banyak dan Pulau Nias dianggap surga para peselancar.

Kepulauan Banyak, misalnya, memiliki "gelombang yang sempurna", seperti dikatakan Dan.

Pemandangannya indah hingga kompetisi selancar profesional sempat diadakan di sana tahun lalu.

"Perpaduan angin sepoi-sepoi, pecahan karang, dan ombak yang konsisten menjadi resep aktivitas berselancar yang sempurna," ujarnya.

Namun bukan hanya ombak yang menjadi daya tarik.

"Tempatnya luar biasa indah. Hanya dikelilingi pohon palem, dan suhu air yang juga pas," ujarnya kepada Toby Mann dari ABC.

"

"Ombaknya bagus. Ikan-ikannya juga luar biasa."

"

"Daerah ini dekat khatulistiwa, sehingga panas, tapi karena dekat dengan laut, jadinya ada angin laut, benar-benar jadi tempat yang indah."

Daerah ini juga dianggap murah oleh  peselancar asing, sehingga mereka dapat melakukan perjalanan selama berbulan-bulan dengan biaya sekitar Rp100 ribu per hari.

Salah satu hal lain membuat peselancar untuk menjelajah ke pulau-pulau ini adalah letaknya yang terpencil dan jauh dari tempat wisata umum.

"Bali sangat ramai sekarang," kata Dan.

"Lautan dengan gelombang sempurna di Bali sekarang sudah banyak dibangun klab malam di sekelilingnya."

'Kekuatan ombak'

Patrick Reilly, yang berasal dari Amerika Serikat, sudah sering mengunjungi Pantai Sorake di Nias setiap tahunnya, sejak pertengahan tahun '90.

"Saya suka keterpencilannya. Ombaknya, gelombangnya adalah salah satu terbaik di dunia. Itulah yang dikejar para peselancar," katanya kepada Natasya Salim dari ABC.

"Di sana ombaknya sangat kuat sehingga kita harus sangat fokus. Saat gelombangnya bagus dan semakin besar, tantangannya juga semakin besar untuk menangkap ombak yang kita mau."

Patrick sebenarnya sudah menjelajahi titik berselancar lainnya di Indonesia, tetapi tetap saja kembali ke Nias.

"

"Satu hal yang membuat saya dan kebanyakan orang kembali ke Nias adalah kekuatan ombaknya," katanya.

"

"Selain itu juga gaya hidup pedesaannya. Tempat itu sudah hampir seperti utopia bagi orang seperti saya. Sudah seperti surga."

Patrick mengatakan Nias memang populer di kalangan peselancar Australia, tapi mulai berdatangan juga surfer dari Eropa, Brasil, dan Amerika Serikat.

Kristov Wau, Presiden Nias Surfing Association, mengatakan peselancar dari negara lain datang ke Nias untuk berselancar karena ombak dan cuacanya yang stabil.

"Daya tarik ombaknya. mereka sih rata-rata bilangnya ini paling bagus, bisa dibilang nomor dua setelah Hawaii karena memang ombaknya itu pecah di tengah dan dikelilingi sama pohon kelapa," katanya.

"Jadi eksotik dan punya daya tarik sendiri."

Menurutnya, akses ke Nias bisa melalui jalur udara dengan pesawat, atau laut dengan menggunakan feri.

Meski Kepulauan Banyak lebih sulit dijangkau, Dan mengatakan hal ini akan segera berubah.

"Di pulau-pulau kecil ini akan dibangun resor yang sangat besar di mana-mana," katanya.

"Tapi itu mungkin memakan waktu 10 atau 20 tahun."

Apakah para peselancar yang sempat hilang beruntung bisa ditemukan?

Mengingat pengetahuan dan keterampilan surfing serta kemampuan berenang turis asal Australia, Dan mengatakan ia sudah optimis kalau keempatnya akan ditemukan.

"Mereka menurunkan papan selancar dari perahu dan mengapung," katanya.

"Menurut saya memang mereka akan baik-baik saja, bisa bertahan lama dan akan ditemukan segera."

Dan mengatakan tidak lama setelah peselancar dan awak kapal dinyatakan bermasalah, operator setempat segera melakukan pencarian.

Pemilik Banyak Surf Resort, Julian Lauencoan mengatakan tiga dari empat warga Australia kemudian diselamatkan oleh perahu jenis catamaran.

"

"Saya pikir mereka akan baik-baik saja, saya pikir mereka bisa bertahan lama dan saya pikir mereka akan ditemukan dengan cepat."

"

Segera setelah diketahui para peselancar dan awak kapal mendapat masalah, operator kapal sewaan setempat segera melakukan pencarian, kata Dan.

Pemilik Banyak Surf Resort, Julian Lauencoan, mengatakan tiga dari empat warga Australia itu akhirnya diselamatkan oleh katamaran.

Satu awak kapal lokal belum ditemukan, sementara dua lainnya selamat.

Dalam rombongan tersebut ada 12 warga Australia dan lima warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke Pulau Pinang dengan dua perahu.