ABC

Akademisi Dari Australia Akui Dikuntit Media China di Hong Kong

Seorang akademisi yang berbasis di Australia menuduh Pemerintah China melakukan intimidasi setelah sejumlah staf dari sebuah media milik pemerintah di sana menguntitnya selama lebih dari seminggu di Hong Kong.

Poin Utama Penguntitan

Poin utama:

• Kevin Carrico sering mengkritik tindakan keras Beijing di Tibet, Hong Kong, dan Xinjiang

• Foto-foto Carrico di Hong Kong dimuat di halaman depan Wen Wei Po

• Artikel itu menuduh Carrico melakukan kunjungan "rahasia" untuk membangkitkan kerusuhan politik

Dosen bernama Kevin Carrico dari Universitas Macquarie Sydney, yang merupakan penduduk tetap di Australia, mengatakan ia pertama kali menjadi curiga ketika seorang perempuan yang telah mengikutinya di sebuah mal hampir mengikutinya ke toilet pria.

"Saya melompat keluar dari eskalator dari area toilet dan mencoba mengambil foto dirinya -ia segera berbalik 180 derajat dan pada dasarnya menaiki eskalator dengan mundur," kata Carrico.

"Saat itulah menjadi jelas bagi saya bahwa saya sedang diikuti, dan siapapun yang mengikuti saya tidak ingin foto mereka diambil."

Namun, Carrico baru menyadari bahwa para penguntitnya itu bekerja untuk juru bicara Partai Komunis China Wen Wei Po ketika koran itu memajang foto dirinya di Hong Kong pada halaman depannya hari Senin (17/12/2018).

Harian itu juga menerbitkan artikel yang mengejek Carrico, yang rutin mengkritik tindakan keras Pemerintah China di Tibet, Hong Kong dan Xinjiang.

Kisah ini mencantumkan semua orang yang ditemui akademisi itu di Hong Kong, dan menuduhnya melakukan kunjungan "rahasia" untuk membangkitkan kerusuhan politik di kota itu.

"Seorang sarjana 'pro-kemerdekaan' lain dari luar negeri datang ke Hong Kong untuk mengajar 'teori kemerdekaan' atas nama pariwisata!" tulis harian tersebut.

Artikel itu mengatakan sang akademisi adalah "pendukung kemerdekaan Hong Kong" dan menuduhnya "menghina Pemerintah China."

Dinilai tak mengubah

Wen Wei Po - yang dimiliki oleh kantor penghubung Partai Komunis China di Hong Kong - sering mencoba mempermalukan atau mengancam lawan politik Beijing secara politis di Hong Kong.

Namun, Carrico mengatakan, hal yang tak biasa bagi harian itu untuk menargetkan akademisi luar negeri, dan artikel itu adalah "eskalasi lain" dalam kampanye Pemerintah China untuk menyingkirkan kebebasan sipil di kota tersebut.

"Apakah ini dimaksudkan untuk membuat saya merasa tidak aman untuk kembali ke Hong Kong, atau apakah itu dimaksudkan untuk memberi sinyal kepada imigrasi Hong Kong bahwa mereka harus memblokir saya pada kunjungan saya berikutnya - sulit untuk menentukan," kata Carrico.

"Tapi itu tak akan mengubah apa yang saya lakukan, dan saya tentu berharap bahwa tekanan dari Beijing tidak akan menyebabkan Hong Kong untuk mengikis otonominya dan mulai menghalangi akademisi yang melakukan tak lebih dari berbicara dengan orang-orang dan mencoba memahami situasi di sana."

Kevin Carrico adalah dosen dari Universitas Macquarie Sydney.
Kevin Carrico adalah dosen dari Universitas Macquarie Sydney.

Supplied

Hong Kong dikembalikan ke Pemerintahan di Beijing pada tahun 1997 di bawah perjanjian "satu negara, dua sistem", yang menjamin kebebasan pers dan hak warga untuk melakukan protes.

Tetapi kritikus mengatakan Beijing telah bertekad untuk memperketat cengkeramannya di kota itu.

Pada bulan Oktober, otoritas Hong Kong menolak untuk memperbaharui visa kerja untuk editor berita Asia dari surat kabar Financial Times, Victor Mallet, setelah ia menjadi tuan rumah dari sebuah acara yang menampilkan aktivis pro-kemerdekaan.

Tiga pemimpin gerakan "Occupy" pro-demokrasi tahun 2014 juga bisa menghadapi hukuman penjara setelah dituduh "berkomplot" dan "mengganggu publik".

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.