ABC

Ajari Disiplin, SMA di Queensland Terapkan Program Bergaya Militer

Di sebuah pusat kebugaran milik SMA di tenggara Queensland, Australia, sekelompok remaja mengenakan seragam Angkatan Darat dan berdiri sigap untuk mendengarkan perintah, di saat "Sersan" Lisa Henderson melakukan absen putaran akhir.

"Hodge?" "Hadir!"

"Smith?" "Hadir!"

"Oke, semuanya di sini. Anda memiliki waktu 10 detik untuk membetulkan rambut atau menyeka keringat dan setelah itu Anda tak boleh bergerak!" tegasnya.

Lisa Henderson adalah mantan personel Angkatan Udara dan kini menjadi koordinator pelayanan remaja. Barisan di depannya adalah satuan "Mabel Force" yang terdiri atas para siswa.

Mereka adalah angkatan pertama yang menjalani program sekolah eksperimen di SMA Mabel Park, yang menggunakan taktik ala militer untuk mengajarkan keterampilan hidup kepada para siswa.

"Militer begitu fantastis ketika menyangkut pembangunan karakter dan juga disiplin," kata Lisa Henderson.

"Kedisiplinan adalah sesuatu yang benar-benar diperlukan remaja, apakah mereka mengetahuinya atau tidak," tutur Lisa.

Para siswa dalam program sukarela ini menjalani latihan fisik dan emosi serta belajar prosedur militer seperti berdiri sigap dan berbaris.

Mereka juga melakukan latihan kerja sama tim, berpakaian seragam dan meniru aktivitas yang dijalani kadet Angkatan Pertahanan Australia.

Idenya muncul setelah dua lulusan SMA Mabel Park mencoba untuk bergabung militer tahun lalu, tetapi ditolak.

Lisa tadinya menimbang untuk menjalankan sesi pelatihan kebugaran satu kali minggu untuk para calon siswa, tapi setelah berbicara dengan guru-guru lain, idenya berkembang.

"Ide itu berkembang menjadi sebuah program ala militer," ungkapnya.

Ia menjelaskan, "Apa yang kami lakukan adalah melihat tiga unsur yang benar-benar penting dalam kehidupan seorang remaja, dan itu adalah membentuk tubuh yang sehat, membangun pikiran yang sehat, dan pembangunan karakter."

Siswa
Para siswa di SMA Mabel Park menjalani pelatihan bergaya militer sebagai bagian dari program sukarela setelah jam sekolah untuk mengajarkan kedisiplinan.

ABC

Tak ada kata tolong dan terima kasih

Program ini memiliki sejumlah unsur sama dengan unit kadet yang sudah ada di beberapa sekolah-sekolah Australia, dengan pembentukan tim seringkali menjadi inti kegiatan.

Meski demikian, dengan satuan ‘Mabel Force’, perintah disampaikan secara tegas.

"Dengan gaya militer kami, kami jelas menginstruksikan sesuatu dengan cara militer, jadi saya tak menggunakan kata ‘tolong’ atau ‘terima kasih’, saya memberikan instruksi yang jelas dan ringkas," kata Lisa Henderson.

"Saya tak akan menyalak atau berteriak, saya memproyeksikan suara saya sehingga mereka mendengar saya dengan jelas, dan mereka menanggapi dengan sangat baik," tuturnya.

Dan aturan-aturannya begitu ketat. Misalnya, jika salah satu anggota ‘Mabel Force’ terlihat berbicara di luar giliran, seluruh kelompok bisa dikenakan hukuman.

Program tersebut dimulai tahun ini dan baru akan memasuki periode kedua. Dan terlepas dari ketidaklaziman durasi pelatihan yang dijalani, Lisa mengatakan, ia tak menerima penolakan dari orang tua.

"Ini untuk membuat mereka berpikir tentang orang lain dan bekerja sebagai sebuah tim," sebutnya.

Ia menambahkan, "Program ini menjalin banyak persahabatan, membuat para siswa begitu terlibat dengan temannya yang tak berjalan demikian ketika jam sekolah biasa.”

"Anak-anak sungguh merasa bangga. Ketika mereka memimpin barisan, dan ketika mereka akhirnya diperhatikan ... Anda akan melihat senyuman kecil muncul di wajah mereka lalu mereka semakin percaya diri dan bangga," imbuhnya.

Diterbitkan Selasa 18 April 2017 oleh Nurina Savitri. Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.