ABC

45 Persen Perusahaan Australia Kena Serangan Siber

Perusahaan-perusahaan di Australia semakian sering mengalami serangan siber dalam dua tahun terakhir. Pelakunya menyamar sebagai pelanggan dan pemasok, menggunakan website gelap yang didukung kejahatan terorganisir.

Perusahaan jasa keuangan PwC mengungkapkan penipuan pelanggan kini menjadi kejahatan ekonomi terbesar di Australia. 45 persen perusahaan yang disurvei PwC mengaku mengalami serangan.

Survei yang dirilis PwC hari ini memperingatkan sindikat kejahatan terorganisir kini semakin canggih menggunakan website gelap. Mereka menggunakan teknologi baru untuk memalsukan dokumen dan identitas untuk merampok perusahaan.

Steve Ingram dari PwC menjelaskan 60 persen kejahatan ekonomi di Australia dilakukan oleh apa yang disebut "frenemy". Yaitu peretas yang menyamar sebagai karyawan, pelanggan atau pemasok.

"Teknologi menjadi alat bagi kita dalam meningkatkan efisiensi ekonomi. Namun juga jadi alat untuk kejahatan terorganisir," kata Ingram kepada ABC.

"Mereka menggunakan teknologi untuk menembus organisasi, menciptakan informasi dan identitas palsu," jelasnya.

Selain itu, katanya, peretas juga mencuri identitas dan menggunakannya secara tidak benar.

Ingram mengatakan kini penipuan dan peretasan siber bukan saja lebih mudah tapi juga lebih murah.

"Di website gelap, alat untuk melakukan penipuan dijual lebih murah dibanding 10 tahun lalu," katanya.

Pertarungan sehari-hari

Ingram mengatakan meskipun pemerintah dan regulator menerapkan berbagai aturan, namun upaya mengatasi para penjahat menjadi pertarungan sehari-hari.

"Saya kira pertarungannya sangat sengit," katanya.

Dia mengatakan bahwa kejahatan semacam ini sulit untuk dilampaui.

"Pertarungannya tidak pernah berakhir. Kita hanya perlu selalu waspada," katanya.

Menurut dia, meskipun ancaman serangan siber semakin nyata, namun banyak perusahaan yang masih juga lengah.

"Banyak perusahaan dan individu berpikir hal ini akan terjadi pada orang lain, bukan pada mereka," kata Ingram.

"Meskipun ada biayanya mempersiapkan diri, namun ongkos tidak berbuat apa-apa justru lebih besar," tambahnya.

PwC melakukan surveinya di 123 negara. Australia termasuk salah satu dari 18 negara yang kejahatan sibernya terus berkembang.

Survei ini mencakup 7.200 responden, 158 di antaranya berasal dari Australia.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.