ABC

150 ribu lebih kawasan di Australia tercemar limbah beracun

Australia memiliki lebih dari 150 ribu kawasan yang berpotensi tercemar limbah beracun. Pakar menilai hanya sedikit saja dari kawasan itu yang sudah dibersihkan untuk menghindari dampak kesehatan bagi manusia.

Direktur Pusat Kerjasama Riset untuk  Pengkajian dan Pemulihan Pencemaran, Profesor Ravi Naidu, kepada ABC mengatakan kebanyakan kawasan yang tercemar limbah beracun itu berada di daerah perkotaan yang bisa  menjadi ancaman serius bagi kesehatan lingkungan dan warga.

"Australia memiliki 160 ribu kawasan yang berpotensi tercemar limbah beracun dan sejauh ini kita hanya berhasil  memulihkan 1 persen saja dari kawasan yang tercemar tersebut,” kata Professor Naidu.

"Secara global ada sekitar 3 juta kawasan yang tercemar limbah beracun. Dan kita menghabiskan lebih dari AUS$100 miliar setiap tahun hanya untuk menilai dan mengelola atau sebaiknya membersihkan situs ini.”

Professor Naidu mengatakan limbah tercemar selama ini belum ditangani secara tepat.

"Sebagai akibatnya, limbah itu sudah banyak berdampak  bagi banyak orang, banyak orang dari perspektif kesehatan  mereka hanya diakui meninggal karena Kanker," katanya.

"Lihat saja pencemaran yang terjadi di udara, di dalam rumah, contohnya, banyak orang yang menghirup zat organik beracun tertentu.

"Ada kawasan yang jika ditilik dari sejarah memang tercemar dan mungkin kita sudah berhasil menemukan pelarutnya sekarang, seperti Hydrokarbon berklorin atau hydrocarbon dari minyak bumi.

"Ada pencemar dari besi – timbal misalnya – ada banyak kawasan yang tanahnya mengandung timbal. Dan partikel debu dari tanah itu bisa terhirup oleh orang. Dan juga ada Asbes yang kerap menjadi sorotan."

Kawasan tercemar mengancam beresiko signifikan

Professor Naidu mengatakan mayoritas kawasan yang tercemar di Australia masih berresiko bagi orang dan lingkungan.

"Sekitar 60 – 80 per sen dari kawasan yang tercemar limbah beracun ini terletak di di lingkungan perkotaan. Dan sekitar 20 – 40 per sennya  terdapat  di daerah pedalaman,” katanya.

"Bahan kimia jenis baru itu mencemari lingkungan karena zat-zat tersebut setiap tahun diproduksi dan mereka menggelontorkannya ke pasaran tanpa menjelaskan kadar racun yang terkandung didalam zat-zat itu dan apa resikonya bagi lingkungan hidup serta manusia.

"Kita  mungkin hanya bisa mempelajari sebagian kecil saja dari bahan-bahan beracun tersebut tapi sebagian besarnya diproduksi tanpa melalui hasil pengkajian mendetail yang bisa menyediakan informasi yang kita butuhkan untuk memastikan kita bisa melindungi lingkungan kita.”

Beberapa zat beracun yang lumrah dikenal diantaranya arsenik, mercuri, dan asbestos.

"Contoh lainnya adalah hexavalent chromium yang pernah meracuni negara-negara lain. Dan semua jenis zat kimia ini merupakan zat beracun yang juga terkandung didalam kawasan-kawasan tercemar limbah beracun yang terdapat di Austarlia juga.," Kata Professor Naidu.

Untuk mengatasi masalah ini, Profesor Naidu menilai perlu adanya kerjasama dengan pembuat kebijakan.

"Kita butuh dukungan dari para pembuat  kebijakan agar kebijakan yang mereka bisa menghasilkan kebijakan yang mampu mewujudkan ilmu pengetahuan yang baik,"katanya.

"Kedua, kita juga butuh mendudukan para pembuat kebijakan dan para ilmuan sehingga mereka bisa mendorong percepatan strategi pengelolaan dan pemulihan kawasan yang tercemar limbah beracun yang sejauh ini belum dilakukan.”

"Kita telah mendorong percepatan proses tersebut, tapi kita harus melakukan lebih banyak lagi dari yang sudah kita  lakukan sejauh ini.”