ABC

Australia Mampu Bangun Jaringan Listrik 100% dari Energi Terbarukan

Australia mampu membangun jaringan listrik yang aman dan terjangkau dengan ditenagai 100 persen oleh energi terbarukan yang memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Demikian kesimpulan dari sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Australian National University (ANU).

Bagaimana caranya?

Penelitian ini merinci rencana pembangunan panel zero-emisi yang akan mengandalkan tenaga angin dan teknologi tenaga surya, yang didukung oleh penyimpanan tenaga listrik dengan sistem pompa hidro.
Panel ini dapat dibangun dengan menggunakan produk-produk yang murah dan saat ini sudah tersedia serta menghilangkan kebutuhan akan batubara dan listrik berbahan bakar gas.
Saat ini, dua-pertiga pasokan listrik Australia berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara, tetapi dengan semakin tua usia pembangkit listrik batubara tersebut dan akan ditutup – seperti pembangkit listrik tenaga batubara di Hazelwood di Victoria yang akan ditutup bulan depan – pengganti sumber pemasok listrik berkapasitas beban-dasar yang terpercaya harus ditemukan.
image

Terjangkau, dapat diandalkan tapi sulit untuk diterima sebagian orang

Profesor Andrew Blakers dari Australian National University (ANU) mengatakan tenaga angin dan tenaga matahari dapat menjadi pengganti tersebut, dengan dukungan pembangkit listrik tenaga hidrolik yang memotong arus sungai, dimana penampung air yang berada pada ketinggian berbeda dapat digunakan untuk menyimpan dan menghasilkan tenaga listrik.
Profesor Blakers adalah penulis utama pada peneltiian yang telah menemukan bahwa dengan memanfaatkan energi matahari dan angin, didukung oleh sistem pompa hidrolik, Australia dapat memiliki jaringan listrik yang murah stabil dan zero-emisi.

Penelitian ini dirilis menyusul pengumuman Energy Australia – perusahaan produsen energi terbesar di Australia berbasis batubara, gas dan angin- yang menyatakan pihaknya akan menginvestigasi perusahaan pembangkit listrik tenaga pompa hidro di ujung Australia Selatan -Spencer Gulf.
“99% daratan Australia yang luas tidak berada di dekat sungai dan kita mendapati ratusan dan ribuan lokasi, semuanya tersebar dari utara Queensland, hingga ke Great Dividing Range dan seluruh kawasan Australia Selatan, Tasmania, Australia Barat,” kata Professor Blakers.

Jadi berapa biaya yang diperlukan?

Dengan menggunakan model berdasarkan harga yang berlaku saat ini, menurut Profesor Blakers biaya energi listrik dapat diturunkan dari $93 (Rp953,000) per megawatt per jam pada 2016, turun menjadi $75 (Rp 768.000) megawatt per jam pada tahun 2020.
“Keterjangkauan merupakan keniscayaan, harga panel sel surya atau photovoltaics dan angin sekarang lebih murah daripada gas dan batubara dan akan jauh lebih murah selama beberapa dekade berikutnya,” kata Profesor Blakers.
“Keandalan juga tersedia karena kita telah melakukan menganalisis jaringan listrik Australia dengan sangat hati-hati, jam demi jam dan kami menemukan bahwa dengan jumlah penyimpanan sederhana dan meningkatkan beberapa interconnectors didalam negara bagian, stabilitas secara keseluruhan dapat menyamai apa-apa yang dapat ditawarkan oleh batubara dan. “

Siapa yang mendukungnya?

Rencana ini memiliki pendukung yang sangat kuat, Lembaga Energy Terbarukan Pemerintah Australia telah menggelontorkan dana sebesar $450.000 atau sekitar Rp 4,6 miliar untuk penelitian ini. Dylan McConnell dari Fakultas Iklim dan Energi Melbourne University mengatakan Australia perlu menerima ini sebagai sistem energi masa depan.

“Artinya, teknologi itu harus bisa dikirimkan dan diandalkan, ketika kita benar-benar menuntut mereka.”
Sementara ia mendukung penuh penelitian ini, ia mengakui, sekarang, akan sulit untuk beberapa pihak untuk menerima kesimpulan penelitian ini.
“Kurangnya dukungan bipartisan di sekitar kebijakan energi akan membuat kesimpulan penelitian ini sebagai sepotong penelitian yang sulit untuk diterima ditengah iklim politik saat ini, tapi hasil penelitian ini masih tetap memberikan kontribusi yang sangat penting yang perlu ditangani secara serius oleh semua pihak dari pemerintah,” katanya.

Tidak semua orang menyambut baik temuan ini

CEO Energy Australia , Matthew Warren mengatakan saat ini bukan waktunya untuuk proposal ‘intelektual’.

“Kita tengah menghadapi masalah dunia terkait penggunaan 50% energi terbarukan di Australia Selatan dan konsekwensinya terhadap seluruh Australia.”
“Ini benar-benar merupakan material yang menyulitkan di dunia nyata.”
Warren mengatakan Australia berada pada titik yang mendesak, dimana “percobaan intelektual” seperti ini, bersama dengan politisasi perdebatan energi, harus memberi jalan bagi tindakan.
“Ketakutannya adalah bahwa situasinya menjadi lebih buruk dari sebelum menjadi lebih baik, bahwa kita perlu krisis yang parah untuk menggembleng keselarasan politik, dan itu akan menjadi amat disayangkan karena kita sebenarnya dapat melihat hal seperti itu akan terjadi,” katanya.
“Kita sudah dalam keadaan di mana kita bisa melihat kondisi memburuk sebelum mereka melakukan peningkatan karena kita perlu mengalokasikan waktu ketika berinvestasi untuk mengembalikan panel sel surya atau grid ke tingkat fungsi yang lebih tinggi, jadi kita tidak punya banyak waktu.”

Diterjemahkan pada pukul 18:00 WIB, 27/2/2017 oleh Iffah Nur Arifah dari artikel Bahasa Inggris disini.