ABC

Bagaimana Melbourne Mengelola Sampahnya

Bila Anda berjalan-jalan di Melbourne, Australia, trotoar, ruang terbuka hingga sungai dan pinggir sungainya tampak bersih dari sampah. Bagaimana kota ini mengelola sampahnya?

"Plastik atau gelas di Victoria sudah masuk sistem daur ulang semua. Kami punya keranjang sampah kuning (untuk barang-barang daur ulang), dari kertas, botol plastik, gelas kaca. Sampah daur ulang kami kini mencapai 66% dari total sampah," jelas Menteri Lingkungan, Perubahan Iklim dan Air Victoria, Lisa Neville.

Lisa Neville diwawancarai oleh jurnalis Indonesia atas undangan Australia Plus ABC International di kantornya di Melbourne, Victoria, September 2015 lalu.

Sedangkan sampah-sampah elektronik seperti TV dan komputer masih menggunakan metode landfill alias penimbunan sampah pada lubang tanah.

"Kami berkomitmen untuk memindahkan sampah dari landfill. Kami merilis paper untuk diskusi bagaimana kami akan melakukan hal itu," imbuhnya.

Manajemen sampah yang baik, imbuhnya, bisa berkontribusi mengurangi emisi karbon. Pengolahan sampah itu bisa berperan pada 2 isu, isu perubahan iklim dan isu kontaminasi.

"Contohnya, beberapa praktik di masa lalu menyebabkan masalah serius pada kontaminasi pada warga yang tinggal dekat landfill itu, butuh kerja masif untuk melindungi komunitas. Landfill yang dibangun di kawasan pantai harus dipikirkan dampak jangka panjangnya," tutur Neville.

Namun, pihaknya akan mencoba terus mencari cara merencanakan dan mengolah sampah, berinvestasi pada teknologi baru untuk mengurangi sampah dengan metode landfill.

"Secara nasional kami sudah sangat sukses memindahkan sampah, dan kami akan melakukan lebih jauh lagi daripada hanya sekadar landfill. Dalam beberapa tahun ke depan, akan ada perbedaan yang signifikan," jelasnya.

Bila di tempat pembuangan sampah di Indonesia masih digunakan incinerator untuk membakar sampah, apakah metode incinerator masih digunakan?

"Tidak. Ya saya ingat saat kecil ada incinerator di belakang halaman rumah. Tapi Anda tak akan melihat itu lagi di halaman belakang orang-orang karena hukum melarangnya. Karena alat itu sangat menimbulkan polusi dan berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang," jawab Lisa Neville.

66 Persen dari total sampah di negara bagian Victoria, Australia, kini berhasil didaur ulang. Jalan menuju daur ulang tidak mudah. Victoria perlu mendidik warganya lebih dari satu dekade.

"Sekarang di Victoria sistem mungkin berlangsung komplet 15 tahun belakangan. Dan mungkin butuh lebih dari 10 tahun untuk mengadopsinya," tutur Menteri Neville.

"Mungkin butuh periode sekitar 10 tahun mendapatkan kata-kata yang pahit. Kami menyadarkan dari kota ke kota, dari pemerintah lokal ke pemerintah lokal. Awalnya warga juga resisten, tapi saya berkata pada setiap komunitas harus memilah sampah dengan baik. Hasilnya, kebanyakan warga malah rajin memilah sampahnya kini," imbuh Neville.

Warga juga diyakinkan bahwa industri pengolahan sampah menghasilkan banyak uang dan lapangan pekerjaan. "Jadi itu yang kami 'jual' pada komunitas. Bahwa sistem 3 tempat sampah dan sistem daur ulang adalah investasi bisnis. Daur ulang dan pakai kembali, banyak lapangan pekerjaan di sana," ungkapnya.

Dicecar tentang penegakan hukum bila membuang sampah sembarangan atau tak memilah sampah dengan benar, Menteri Neville mengatakan beberapa dewan kota atau pemerintah kota lokal memang memiliki sanksi denda pada warga yang tak melakukannya. Bahkan ada yang memasang kamera untuk memantau perilaku lingkungan warga itu.

"Tapi menurut saya, lebih baik mengedukasi warga, mendorong mereka daripada menghukum mereka. Mayoritas orang lebih berniat melakukan hal yang benar, jadi kami akan membantu mereka melakukan hal sampai itu benar. Beberapa langkah nyata akan memiliki dampak besar dibanding masalah menghukum dan mengenakan denda," tuturnya.

Kuncinya memang mendidik dan melibatkan komunitas. Tak cuma pada orang dewasa, pendidikan daur ulang sampah haruslah dikenalkan ke sekolah-sekolah.

"Banyak kerja yang telah dilakukan. Kami telah meluncurkan gerakan bebas tas plastik. Banyak sekolah mendukung, mereka membawa kotak makan, tanpa bungkus plastik. Semua orang melakukan itu, tak butuh banyak biaya untuk melakukannya," papar Lisa Neville.

Kemudian anak-anak sekolah itu juga diajari bagaimana membuat kompos. Praktiknya, mereka diajak ke kebun untuk menumbuhkan sayuran, kemudian mengolah sampah sisa-sisa sayuran menjadi kompos.

"Anak-anak muda ini lebih mudah diedukasi karena bisa menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari untuk daur ulang. Itu bukan perubahan besar, tapi perubahan kecil yang dilakukan tiap hari," tutup dia.

*Dapatkan kesempatan memenangkan boneka beruang Bobbie, khas Australia, yang memiliki harum bunga lavender dengan menceritakan apa yang paling Anda sukai dari Australia. Caranya? Tulis di akun Twitter Anda dengan tag #JendelaAustralia. Ikuti akun @APlusIndonesia untuk mengetahui pemenangnya.