ABC

Implan Naltrexone Berpeluang Jadi Solusi Epidemi Narkoba di Australia

Lebih dari 300 orang pecandu narkoba sabu setiap tahun beralih melakukan terapi implan naltrexone yang kontroversial sebagai cara untuk melawan kecanduan obat mereka.

Naltrexone adalah obat sintetis mirip dengan morfin, yang berfungsi memblok reseptor opiat di sistem saraf dan digunakan terutama dalam pengobatan ketergantungan heroin.
 
Pengobatan dengan Naltrexne saat bisa dilakukan dengan metode implan yakni dengan  menempatkan  pelet kecil Naltrexone yang dimasukkan ke dalam dinding perut bagian bawah dengan melalui operasi anestesi lokal.
 
Johnny Mitchell, 28, adalah salah satu pecandu narkoba yang memilih melakukan implan naltrexone untuk lepas dari ketergantungannya pada amfetamin.
 
"Saya telah menjadi pecandu narkoba selama 10 tahun dan dalam dua tahun terakhir saya kehilangan rumah, pasangan dan juga anak saya,” katanya.
 
Mitchell adalah pekerja bangunan FIFO di perusahaan tambang di Australia Barat. Ketika bekerja dia tidak menggunakan narkoba, tapi begitu kembali ke kota Perth dia mulai kambuh dan bisa menghabiskan uang lebih dari $500 hanya untuk membiayai kebiasaannya tersebut.
 
Mitchell  merupakan satu dari 300-an pecandu narkoba yang menerima implant naltrexone setiap tahunnya di Klinik Fresh Start di Perth yang dioperasikan oleh Dr George O'Neil.
 
"Pada pecandu amphetamine,rasanya memang tidak senyaman sebelumnya dan karena itu ketergantungannya bisa berkurang,’ kata Dr O'Neil mengenai implant tersebut.
 
"Dengan mengurangi keinginan itu makan lebih mudah untuk berhenti dari ketergantungan terhadap narkoba,”
 
Dr O'Neil, merupakan seorang genekolog melalui pelatihan, dan menjadi orang yang pertama memperkenalkan metode implant yang melepaskan zat dalam waktu lama bagi dikalangan pecandu heroin sekitar 15 tahun yang lalu. 
 
Dr O’neil mengklam implant ini efektif mengobati pecandu narkoba jenis sabu.
 
"Di klinik kami di Perth ini menangani sekitar 300 orang yang merupakan pecandu dosis tinggi amfetamin yang sudah terperangkap dalam ketergantungan selama 10-15 tahun dan mereka hanya ingin berhenti,”
 
"Dan saya melihat 70 persen dari mereka akhirnya dalam kurun waktu 12 bulan bisa terbebas dari adiksi ampfetamin, baik karena dukungan keluarga, konseling maupun implant dan kombinasi dari hal-hal ini semua,”
 
Namun diakui Dr O'Neil teknik ini masih mahal, kontrovesrsial dan belum dievaluasi secara independen.
 
Konsultan obat Stimulan, Associate Professor Nicole Lee, mengatakan penilaian ini belum diterbitkan.
 
"Naltrexone sudah diujicobakan pada pecandu narkoba sebanyak 3-4 kali da tidak benar-benar menunjukan kalau terapi ini efektif,’ kata Lee.
 
Ini memang terobosan pengobatan yang menjanjikan tapi tidak cukup efektif bagi sebagian orang,”
 
Pada tahun 2012  pengadilan koroner Sydney menemukan 3 pasien dirawat karena melakukan pengobatan sendiri juga meninggal setelah melakukan implant naltrexone di klinik detox tersebut.
 
Dr O'Neil meyakini kalau hal itu terjadi akibat praktek yang buruk.
 
"Reputasi buruk itu berasal dari orang yang tidak melakukan implant secara benar atau tidak menjalankan pelayanan  yang benar,” katanya.
 
"Dan menariknya di Australia Barat kalangan medis sangat mendukung penggunaan naltrexone, sementara di kawasan Utara Australia tidak ada yang bisa menberikan layanan dan pemasanhan secara benar.
 
Professor Gary Hulse yang merupakan pakar ketergantungan narkoba di Universitas Australia Barat meyakini riset mengenai naltrexone perlu dipercepat.
 
"Pemerintah perlu lebih proaktif mengupayakan pengobatan bagi pecandu ketergantungan narkoba." katanya.
 
"Sama halnya jika kita memiliki pandemik  flu, seperti flu unggas maka ada dorongan yang sangat besar untuk menemukan obatnya, jika tidak terdaftar obat itu akan ditolak, diperhatikan sisi keamanan dan keselamatannya dan  menjadikan obat itu dapat tersedia di masyarakat,”