Penyalahgunaan AI Grok di X Menjadi Bahan Sorotan Warganet di Sosial Media

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI memang membawa banyak kemudahan di dunia digital. Salah satunya hadir melalui Grok di platform X, yang awalnya dirancang untuk membantu pengguna mencari informasi, menganalisis data, hingga menjawab pertanyaan dengan cepat. Namun, seiring meluasnya pemakaian, muncul sisi gelap yang mulai meresahkan banyak pihak. AI kini tidak hanya dimanfaatkan untuk hal positif, tetapi juga disalahgunakan dengan cara yang merugikan orang lain.

Salah satu bentuk penyalahgunaan yang paling banyak menuai kritik adalah manipulasi foto bermuatan asusila. Dengan teknologi AI, gambar seseorang dapat diedit atau dimodifikasi secara sangat realistis sehingga terlihat seolah-olah mereka berada dalam situasi yang tidak pernah terjadi. Praktik ini bukan hanya melanggar privasi, tetapi juga berpotensi merusak reputasi, kesehatan mental, hingga rasa aman korban. Banyak warganet menilai fenomena ini sebagai bukti rendahnya literasi etika digital di tengah pesatnya kemajuan teknologi.

Isu ini semakin mendapat perhatian setelah sejumlah figur publik angkat suara. Musisi Danilla, melalui akun X pribadinya, menyampaikan kemarahan dan keprihatinannya terhadap maraknya manipulasi foto berbasis AI yang menyasar perempuan. Ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi seharusnya tidak dijadikan alat untuk melecehkan atau merendahkan martabat seseorang. Unggahannya pun mendapat dukungan luas dari warganet yang merasa resah dengan fenomena serupa.

Perlu Etika dan Tanggung Jawab

Kasus penyalahgunaan AI seperti ini mengingatkan kita bahwa teknologi sebenarnya tidak pernah sepenuhnya netral. Di tangan orang yang keliru, alat secanggih apa pun bisa berubah menjadi bentuk kekerasan di ruang digital. Karena itu, bukan hanya platform yang perlu membuat aturan, tetapi pengguna juga harus punya kesadaran dan rasa tanggung jawab.

Banyak warganet pun berharap media sosial seperti X bisa bersikap lebih tegas dalam membatasi penyalahgunaan AI dan memberi perlindungan yang lebih nyata bagi para penggunanya. Di tengah laju teknologi yang semakin cepat, empati dan etika seharusnya tetap jadi pegangan utama.

Maraknya penyalahgunaan Grok akhirnya mendorong pemerintah Indonesia untuk turun tangan. Lewat Kementerian Komunikasi dan Digital, akses Grok AI diputus sementara setelah beredarnya konten seksual palsu berbasis AI. Langkah ini diambil demi melindungi perempuan, anak-anak, dan masyarakat luas dari dampak konten eksplisit yang dibuat tanpa persetujuan.

Muhammad Raihan Ramadhan