Dating App Fatigue: Ketika Mencari Pasangan Lewat Aplikasi Justru Menimbulkan Kelelahan

Aplikasi kencan telah menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menemukan pasangan. Melalui fitur swipe dan match, pengguna dapat berkenalan dengan orang baru tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, kemudahan tersebut ternyata tidak selalu membuat proses mencari pasangan menjadi lebih sederhana. Sebagian pengguna justru mengalami kelelahan mental dan emosional yang dikenal sebagai dating app fatigue.

Apa Itu Dating App Fatigue?

Dating app fatigue merupakan kondisi ketika seseorang merasa lelah, jenuh, atau kehilangan motivasi akibat aktivitas yang berulang dalam menggunakan aplikasi kencan. Mulai dari melihat berbagai profil, memulai percakapan, hingga menghadapi interaksi yang tidak berlanjut, semuanya dapat memengaruhi pengalaman pengguna.

Hal ini cukup banyak ditemukan pada generasi muda. Berdasarkan survei Forbes Health pada 2025, sebanyak 78% responden Gen Z dan milenial di Amerika Serikat mengaku mengalami kejenuhan dalam menggunakan aplikasi kencan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dirancang untuk mempermudah pencarian pasangan ternyata juga dapat menghadirkan tantangan emosional.

Banyak Pilihan Belum Tentu Mempermudah Pencarian Pasangan

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi pengalaman pengguna adalah banyaknya pilihan profil yang tersedia. Sekilas, semakin banyak pilihan seharusnya meningkatkan peluang menemukan pasangan yang sesuai. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut tidak selalu terjadi.

Penelitian Tilburg University pada 2020 menemukan bahwa pengguna cenderung semakin kritis setelah melihat lebih banyak profil. Bahkan, rata-rata peluang menerima profil mengalami penurunan sebesar 27–29% seiring bertambahnya pilihan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa banyaknya alternatif dapat membuat seseorang semakin selektif. Pengguna mungkin terus mencari profil yang dianggap lebih cocok sehingga semakin sulit menentukan pilihan.

Tidak Semua Pengguna Memiliki Tujuan yang Sama

Selain banyaknya pilihan, perbedaan tujuan juga menjadi tantangan dalam penggunaan aplikasi kencan. Survei Populix terhadap 1.165 responden di Indonesia pada 2024 menunjukkan bahwa 56% pengguna aplikasi kencan bertujuan mencari teman mengobrol, sedangkan 27% menggunakannya untuk mencari pasangan.

Perbedaan motivasi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi dalam berinteraksi. Seseorang yang menginginkan hubungan serius mungkin bertemu dengan pengguna lain yang hanya mencari teman berbincang. Akibatnya, hubungan yang terjalin tidak selalu berkembang sesuai harapan.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan dalam Menggunakan Dating App

Aplikasi kencan tetap dapat menjadi sarana untuk memperluas pertemanan dan membangun hubungan baru. Pengguna hanya perlu memahami tujuan pribadi serta mengelola ekspektasi ketika berinteraksi. Mengambil jeda saat merasa jenuh, membatasi waktu penggunaan, dan mengutamakan kualitas percakapan dapat membantu menciptakan pengalaman yang lebih nyaman.

Pada akhirnya, menemukan pasangan bukan sekadar persoalan seberapa banyak profil yang dilihat atau match yang diperoleh, melainkan bagaimana seseorang membangun hubungan yang sesuai dengan kebutuhan dan harapannya.