Minikino Film Week 12 Rayakan Karya Terbaik dan Perkuat Ekosistem Film Pendek

DENPASAR, 18 September 2026 – Minikino Film Week 12 (MFW12) resmi menutup rangkaian festivalnya setelah berlangsung selama delapan hari, 11–18 September 2026 di Bali. Diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media, festival film pendek internasional ini mencatat 6.558 penonton dan menghadirkan 180 delegasi serta tamu terakreditasi dari 16 negara. Sepanjang penyelenggaraan, MFW12 menayangkan 202 film pendek dari 60 negara dalam 42 program pemutaran. Film-film tersebut dipilih dari 1.454 karya yang masuk dari berbagai negara.

Direktur Festival MFW12, Edo Wulia, menilai film pendek memiliki peran penting sebagai medium sinematik yang mampu mempertemukan manusia dengan beragam pengalaman dan perspektif. Menurutnya, film dapat menjadi jendela untuk melihat kehidupan sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk memahami manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Malam Anugerah dan Apresiasi bagi Talenta Film

Rangkaian MFW12 mencapai puncaknya melalui Awards Gala, yang menjadi momen penghargaan bagi karya-karya terbaik nasional maupun internasional. Acara ini turut dihadiri Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, yang memberikan penghargaan kepada peserta program inkubasi SHORTS UP 2026.

Melalui kolaborasi MTN Lab (Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya) dan Minikino, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung pengembangan talenta sinema muda, tidak hanya dalam menghasilkan karya, tetapi juga melalui pembelajaran, pemberian masukan, serta perluasan jejaring.

Dalam ajang tersebut, Eye Catcher Award untuk program SHORTS UP 2026 diberikan kepada Di Belakang, Ada Mimpi Buruk Yang Menghalang (Reminiscent: A Confronted Nightmare) karya Ryan Sebastian dan Aryo Bimo.

Sementara itu, penghargaan tertinggi MFW Best Short Film of the Year 2026 diraih BIRTHMARK karya George Peter Barbari dari Lebanon. Untuk kategori nasional, Best National Competition Award 2026 diberikan kepada LAST MAY IN THEATERS karya Arief Budiman. Film AIR PANGEA karya Adam Hasyim Al Raschid juga memperoleh National Competition Special Citation.

Penghargaan lainnya meliputi:

  • Begadang 10 Tahun Filmmaking Competition 2026: KUJELANG – Walrus Films, sutradara Laurent Sindhu
  • Best Animation Short: SO HE GRABBED THE KNIFE – Sam KUWA (Jepang)
  • Best Audio Visual Experimental Short: VUOIŊŊAT (Spirits) – Marja Viitahuhta (Finlandia)
  • Best Documentary Short: OUR BIRTHDAYS – Angeline Teh (Malaysia)
  • Best Fiction Short: BUAH (Fruit) – Jen Nee Lim (Singapura)
  • Best Children Short: TUTTI (你吹Do,我吹Si) – Zhuang Rong-Zuo (Taiwan)
  • Youth Jury Award 2026: Abortion Party – Julia Mellen (Amerika Serikat)
  • The SAMANSA Award: Ciak, Ciak, Ciak! – Kathleen Tio (Indonesia)
  • MFW12 Staff Pick: FAMILY SUNDAY (DOMINGO FAMILIAR) – Gerardo Del Razo (Meksiko)
  • Best Rough Cut: Where the Sun is Harvested – Singaraja Menonton (Indonesia)

Memperkuat Industri dan Jejaring Film Pendek

Tidak hanya menjadi ruang pemutaran dan kompetisi, MFW12 juga memperkuat perannya dalam pengembangan ekosistem film pendek melalui 8th Short Film Market (SFM). Program ini menghadirkan 25 kegiatan industri, mulai dari pitching forum, talks, Meet the Industry Guests, hingga sesi jejaring Speed Dates. Kehadiran jejaring Indonesia Raja dan Southeast Asia Networks turut membuka ruang pertemuan antara pembuat film Indonesia dengan pelaku industri dan komunitas sinema dari kawasan Asia Tenggara maupun dunia.

MFW12 juga menghadirkan Begadang 10 Tahun, tantangan produksi film pendek selama 34 jam. Dari 50 kelompok produksi yang mendaftar, sebanyak 31 tim berhasil menyelesaikan film mereka, dengan 10 karya terbaik kemudian ditayangkan perdana dalam rangkaian festival.

Membawa Film Lebih Dekat kepada Masyarakat

Komitmen MFW12 terhadap akses dan edukasi film juga diwujudkan melalui berbagai program komunitas. Pada pilar Exhibition, program Community Screenings / Travelling Cinema membawa pemutaran film ke sejumlah lokasi di Bali, termasuk Alliance Française Bali, Noema Resort Pererenan, Singaraja Menonton, SMAN Bali Mandara di Buleleng, dan Rumah Film Sang Karsa di Lovina.

Di bidang pendidikan, MFW12 menjalankan program Short Films for Schools yang dilengkapi Watch and Learn Guide. Festival ini juga melanjutkan proyek animasi stop-motion internasional KORINCO (Korea-Indonesia-Colombia) untuk tahun keempat bersama siswa SDN 5 Dauh Puri, Denpasar.

Sementara itu, aspek inklusivitas diwujudkan melalui program Sinema Inklusif, yang menyediakan Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing (SDH) serta Audio Description dalam Bahasa Indonesia untuk penonton Tuli dan penyandang disabilitas netra.

Menutup MFW12, Edo Wulia merefleksikan penyelenggaraan festival tahun ini sebagai pengalaman yang lebih intim dan humanis. Menurutnya, meski tetap menghadapi berbagai tantangan, skala festival yang lebih terukur memberikan kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dengan para volunteer dan seluruh pihak yang terlibat.

Perjalanan panjang Minikino, lanjut Edo, juga menjadi ruang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama. Ia berharap pengalaman selama festival dapat membawa perspektif baru bagi seluruh pihak yang terlibat dan menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan.