Europe on Screen 2026 Resmi Berakhir, Rayakan Sinema Eropa dan Lahirnya Talenta Baru Indonesia
Festival film tahunan Europe on Screen (EoS) 2026 resmi menutup rangkaian acaranya pada Minggu (14/6) di Cinepolis Senayan Park, Jakarta. Selama sebelas hari penyelenggaraan, festival ini mendapat sambutan positif dari para pencinta film di delapan kota Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, Semarang, Sidoarjo, dan Yogyakarta.
Memasuki edisi ke-26, Europe on Screen mempertahankan statusnya sebagai festival film internasional tertua yang masih aktif di Indonesia. Tahun ini, EoS menghadirkan 55 film dari 28 negara Eropa yang dapat dinikmati secara gratis oleh publik. Beragam film tersebut menampilkan perspektif budaya yang berbeda-beda sekaligus mengangkat tema kemanusiaan, keberagaman, dan kehidupan masyarakat Eropa masa kini.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menilai Europe on Screen menjadi ruang penting untuk mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Eropa melalui medium film. Menurutnya, antusiasme penonton Indonesia menunjukkan tingginya minat terhadap cerita dan sudut pandang dari berbagai negara Eropa.
Sebagai film penutup, EoS 2026 menayangkan Atlas of the Universe (Atlasul Universului), film drama coming-of-age asal Rumania karya Paul Negoescu. Film ini mengikuti perjalanan seorang anak dalam memahami dunia di sekitarnya, menghadirkan kisah yang hangat dan reflektif tentang keluarga, masa pertumbuhan, serta cara manusia memandang kehidupan.
Sebelumnya, film tersebut melakukan pemutaran perdana dunia di Berlinale 2026 melalui program Generation Kplus dan menjadi film Rumania pertama yang berhasil masuk ke program tersebut. Atlas of the Universe juga meraih Honourable Mention untuk kategori Best Film Generation Kplus dari International Jury, yang salah satu anggotanya adalah sineas muda Indonesia, Khozy Rizal.
Duta Besar Rumania untuk Indonesia, Dan Adrian Bălănescu, menyampaikan kebanggaannya karena film tersebut dipilih sebagai penutup festival. Ia berharap kisah dalam Atlas of the Universe dapat mengajak penonton melihat dunia dengan rasa ingin tahu, empati, dan keterbukaan seperti yang dimiliki anak-anak.
Pemenang Short Film Pitching Project 2026
Selain pemutaran film penutup, malam penutupan juga menjadi momen pengumuman pemenang Short Film Pitching Project (SFPP) 2026, program yang bertujuan mendukung pengembangan ide film pendek sekaligus membuka jalan bagi sineas muda Indonesia.
Tahun ini, proses penjurian dilakukan oleh Marlina Machfud, Asmara Abigail, dan Ifan Ismail. Menurut Ko-Direktur EoS 2026, Meninaputri Wismurti, karya-karya yang terpilih menunjukkan keberanian para pembuat film muda dalam mengangkat isu sosial dengan pendekatan yang personal dan segar.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha Djumaryo, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung program seperti SFPP sebagai bagian dari investasi terhadap generasi baru perfilman Indonesia agar mampu menembus pasar internasional.
Adapun para pemenang SFPP 2026 adalah:
Juara Pertama diraih oleh Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus dan Dhita Intani dari Jakarta. Proyek ini dinilai berhasil memadukan unsur horor dan fantasi untuk membahas isu sosial secara kreatif.
Juara Kedua diberikan kepada Catatan Si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya dari Sidoarjo. Dewan juri melihat proyek ini memiliki pendekatan penceritaan yang menarik dan berpotensi berkembang lebih jauh.
Juara Ketiga diraih oleh Karina in Male Dominated Field karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma dari Tangerang. Film ini mendapat apresiasi karena mengangkat isu kesetaraan gender dan male gaze melalui sudut pandang anak yang unik dan imajinatif.
Tahun ini, SFPP menerima sebanyak 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, sepuluh finalis terpilih mempresentasikan proyek mereka di hadapan dewan juri untuk memperebutkan posisi juara.
Ko-Direktur EoS 2026, Nauval Yazid, mengatakan bahwa selama sembilan tahun penyelenggaraannya, SFPP telah berkembang menjadi salah satu program penting dalam ekosistem Europe on Screen. Sejumlah film yang lahir dari program ini bahkan telah mendapat apresiasi di berbagai festival film nasional maupun internasional.
Dengan berakhirnya Europe on Screen 2026, festival ini kembali menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan budaya, wadah pengembangan sineas muda, serta sarana memperluas dialog kreatif antara Indonesia dan Eropa. EoS pun siap kembali hadir di edisi mendatang dengan lebih banyak cerita yang menghubungkan masyarakat lintas negara dan budaya.