Yuk Mengenal Tentang Burnout Syndrome!

Sumber foto: Frrepik

Smart Viewers, pernah mendengar istilah burnout syndrome? Atau sedang mengalaminya?

Dalam melakukan suatu pekerjaan pasti kita pernah mengalami kondisi yang tidak selalu menyenangkan. Sekalipun pekerjaan tersebut sesuai dengan passion yang kamu senangi. Banyak kondisi dimana suatu pekerjaan di luar kendali atau tidak sesuai dengan ekspektasi. Hal ini meyebabkan kamu merasa tertekan dan berada diambang batas, kondisi inilah yang disebut dengan burnout.

Bahkan beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 28 Mei 2019, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO resmiĀ  mengklarifikasi bahwa burnout syndrome merupakan salah satu gangguan kesehatan. Kali ini BINUS TV akan merangkum mengenai burnout syndrome mulai dari pengertiannya, faktor-faktor penyebab, dan cara mengatasinya. Simak informasinya di bawah ini ya, Smart Viewers!

Pengertian Burnout Syndrome

Pengertian burnout syndrome menurut WHO adalah penyakit stres kronis yang disebabkan oleh tekanan pekerjaan yang belum sepenuhnya ditangani dengan baik. Burnout syndrome ditandai dengan terjadinya kelelahan fisik maupun emosional pada diri seseorang.

Kondisi ini menyebabkan kamu mengalami sejumlah penurunan energi pada tubuh, sehingga kamu tidak bergairah seperti biasanya. Minat ataupun hal yang kamu senangi mengenai pekerjaan pun akan terus memudar.

Faktor Terjadinya Burnout Syndrome

Menurut para ahli, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya burnout syndrome yang dialami seseorang pada pekerjaannya. Salah satunya menurut Leiter dan Maslach (1997), yang membagi beberapa faktor pemicu munculnya burnout syndrome yaitu:

  1. Work Overloaded

Kondisi Work overload dimana seseorang mengalami kelebihan kapasitas suatu pekerjaan di luar kemampuannya dengan waktu yang sangat sedikit atau terbatas. Hal ini menyebabkan menurunnya kualitas pekerja, hubungan yang tidak sehat di lingkungan pekerjaan tersebut, dan menyebabkan seseorang mengalami burnout.

  1. Lack of Work Control

Suatu pekerjaan pasti terdapat aturan, namun terkadang peraturan tersebut bersifat terlalu mengekang. Peraturan yang bersifat terlalu mengekang menyebabkan terbatasnya pekerja dalam bernovasi, membuat pilihan, kemampuan dalam berfikir kreatif, dan meraih prestasi. Kondisi ini juga terjadi akibat adanya kontrol yang berlebihan dari atasan.

  1. Rewarded for Work

Apresiasi yang kurang dalam lingkungan kerja membuat para pekerja merasa tidak bernilai dalam pekerjaanya. Bentuk apresiasi yang bisa diberikan bukan dilihat dari material seperti bonus (uang), tetapi berupa respon atau feedback yang positif dari atasan kepada para pekerjanya. Adanya apresiasi yang diberikan oleh pekerja akan meningkatkan kondisi yang positif bagi karyawan yang merupakan nilai penting bahwa pekerja telah dihargai atas pekerjaanya.

  1. Breakdown in Community

Memiliki hubungan yang tidak baik di tempat kerja akan membuat suasana lingkungan kerja menjadi tidak nyaman, penuh emosi, frustasi, cemas, dan merasa tidak dihargai. Hal ini kerap kali disebabkan akibat adanya kesenjangan baik antar pekerja maupun dengan atasan, sibuk dengan diri sendiri dan tidak memiliki quality time dengan sesama rekan kerja. Oleh karena itu, diperlukan hubungan yang dapat menjalin ikatan yang kuat antar rekan kerja, agar pekerja merasakan kenyamanan di tempat kerjanya dan terjalin rasa saling menghargai.

  1. Trated Fairly

Pekerja akan merasa tidak percaya dengan lingkungan kerjanya saat diperlakukan tidak adil. Rasa ketidakadilan yang biasanya dirasakan adalah pada saat promosi kerja, atau pekerja merasa disudutkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan. Perasaan diperlakukan tidak adil ini menyebabkan terjadinya burnout, yang pada akhirnya memutus keterikatan rasa saling menghargai dan keterikatan dengan lingkungan kerja.

  1. Dealing with Conflict Values

Ketidaksesuaian nilai yang diterapkan dalam pekerjaan dapat menurunkan performa dan kualitas pekerja. Sebagai contoh, seorang sales yang harus berbohong mengenai informasi produk yang sitawarkan demi mendapatkan penjualan pada produk tersebut. Namun, jika pekerjaan tersebut sesuai dengan nilai, belief, integritas, dan self respect, maka pekerja akan melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya.

Tanda dan Gejala Burnout Syndrome

Smart Viewers, secara umum gejala yang dialami seorang pekerja ketika mengalami burnout syndrome terbagi menjadi 3 kelompok. Berikut kami akan merangkum gejalanya:

  1. Kondisi Fisik

Kondisi fisik yang paling banyak dirasakan oleh pekerja yang sedang mengalalami burnout syndrome adalah kelelahan. Pekerja juga kerap kali merasakan kehabisan energi, merasa buntu dengan pekerjaannya, sering sakit, nafsu makan menurun, sakit kepala, gangguan tidur, nyeri otot, dan mengalami masalah pencernaan.

  1. Kondisi Emosional

Gejala burnout yang mempengaruhi kondisi emosional yang sering muncul adalah pekerja mengasingkan diri dari aktivitasnya di tempat kerja karena merasa stres dan frustasi. Selain itu pekerja merasa gagal dan meragukan dirinya sendiri, merasa terjebak dalam pekerjaannya, kehilanan motivasi, lebih sinis dan negatif, dan merasa tidak puas dengan pekerjaannya.

  1. Kondisi Kebiasaan

Pada gejala emosional dan fisik yang dirasakan ketika mengalami burnout syndrome akan mempengaruhi kebiasaan para pekerja. Pekerja biasanya akan suka menunda pekerjaan yang pada akhirnya menurunkan produktifitasnya dalam bekerja. Gejala lain yang dialami adalah makan berlebihan, mengonsumsi obat-obatan penenang, mengonsumsi minuman beralkohol, melampiaskan frustasi kepada orang lain, datang dan pergi ke kantor tidak tepat waktu, dan sulit berkonsentrasi.

Cara Mengatasi Burnout Syndrome

Perasaan saat mengalami burnout syndrome memang sangat tidak nyaman dirasakan oleh diri sendiri. Bukan hanya diri sendiri, dampaknya pun akan dirasakan terhadap pekerjaan karena burnout akan mempengaruhi performa pekerjaan kita. Dibawah ini BINUS TV akan merangkum beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat mengalami burnout syndrome.

  1. Mengomunikasikan dan Bercerita

Kamu bisa mengomunikasikan tentang apa yang kamu rasakan dengan atasan kamu. Dengan begitu kamu dan atasan bisa menyamakan persepsi. Atau kamu juga bisa bercerita tentang apa yang kamu rasakan di lingkungan pekerjaanmu ke orang terdekatmu agar kamu merasa lega dan mendapatkan solusi dari orang terdekatmu.

  1. Membatasi Diri dengan Rekan Kerja yang Negatif

Dalam lingkungan pekerjaan tentu saja terdapat beberapa rekan kerja yang menghadirkan suasana negative di tempat kerja. Jika kamu merasakan hal itu dari beberapa orang, kamu bisa menghindari orang tersebut karena akan membuat kondisi kamu semakin terpuruk. Maka, bangunlah relasi pertemanan bersama orang-orang yang positif dan memberikan dampak baik bagi kamu di tempat kerja.

  1. Menjaga Keseimbangan Hidup

Jika pekerjaan kamu membuat kamu stres, maka lakukanlah kegiatan positif di luar lingkungan kerja yang berdampak baik bagi keseimbangan hidupmu. Kamu bisa melakukan hobi yang kamu sukai, berolahraga, beristirahat yang cukup, dan melakukan kegiatan relaksasi lainnya.

  1. Memanfaatkan Cuti

Rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan mungkin menjadi pilihan yang baik saat kamu sedang mengalami burnout syndrome. Kamu bisa mengambil beberapa hari dari cutimu untuk berlibur. Dengan memanfaatkan cuti, kamu bisa mengisi ulang tenaga untuk kembali semangat dalam kembali bekerja.

Smart Viewers, sekarang sudah tahu kan secara lengkap tentang burnout syndrome, gejala-gejala, dan cara mengatasinya, kan?

Merasa nyaman dalam lingkungan pekerjaan memang bukan hal yang mudah, terlebih harus bekerja saat keadaan pandemi. Namun, tips-tips tersebut bisa kamu aplikasikan jika kamu sedang mengalami gelaja-gejala burnout syndrome. Tetap semangat dan selalu menjaga kesehatan ya, Smart Viewers!

ANIS SAHARA