OPERA KECOA – ST MANIS

Satu lagi pengalaman luar biasa bertambah dalam sejarah kami. Pementasan produksi ke-48 STMANIS dengan naskah “Opera Kecoa” yang ditulis oleh Nano Riantiarno dan disutradarai oleh Adri Prasetyo ini bukan semudah yang dibayangkan. Tentu banyak rintangan dan kesulitan selama proses produksi. Namun karna rintangan dan kesulitan itu pula, kami menjadi tambah dan makin kuat untuk melewati seluruh proses produksi ini dengan bangga dan bahagia. Semoga seluruh karya yang kami persembahkan dapat dinikmati dan menciptakan kebahagiaan bagi semua orang. Karna kami adalah STMANIS, yang akan terus menghasilkan karya-karya termanis. Tetap rendah hati. Terus berkarya. Dan makin manis, STMANIS

  • Anis Sahara, Ketua STMANIS

Pada kesempatan kali ini, STMANIS berkesempatan untuk melaksanakan pementasan di Gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (lagi) dengan judul “OPERA KECOA”

Opera Kecoa ini adalah naskah yang dulunya sempat diperbincangkan, boleh atau tidaknya dipentaskan. Tetapi pada kesempatan kali ini, STAMANIS berkesempatan untuk mementaskan naskah Opera Kecoa  karya N.Riantiarno yang merupakan sastrawan yang tidak asing bagi sastra Indonesia.

Dalam pementasan kali ini kami dengan bangga menunjukan bakat dan seni kami di berbagai bidang, Keaktoran yang di perindah dengan nilai artistik baik itu Property, Make Up, Hair Do, Kostum, Lighting, Musik dan Tarian.

Tidak hanya dari segi Artistik dan Keaktoran, Besar harapan semoga pementasan kali ini dapat menyampaikan kepada penonton dari pesan-pesan moral dialog yang disampaikan oleh pemain.

STMANIS ~ MAKIN MANIS !

  • Melody Asih Mutia, Pimpinan Produksi

Opera Kecoa adalah salah satu karya N.Riantiarno yang tidak asing di dunia sastra Indonesia. Di dalam naskah ini mengulas tentang kehidupan para rakyat kecil yang mana mereka bekerja, berusaha untuk mendapatkan uang dengan cara yang bagi sebagian masyarakat dianggap sebagai perbuatan haram, bahkan dinilai sebagai sampah masyarakat.

Dibalik hingar bingar kota dan gelapnya malam, mereka berjuang mempertahankan hidup demi meraih status “kemapanan” ditempat mereka berasal. Bagaimanapun juga mereka yang memilih pekerjaan sebagi PSK, tetap tersenyum demi menutupi hancurnya jiwa terdalam mereka sebagai manusia, lalu tetap menghibur alunan syahwat lelaki hidung belang yang tak pernah puas berpetualang cinta . Mereka itu adalah “kecoa-kecoa” wanita dan waria. Mereka tersebar dimana-mana. Mereka dibenci, namun tetap ada. Mati satu, tumbuh berjuta-juta.

Naskah realis ini sering kita jumpai kisahnya khususnya di daerah Jakarta ini yang mana telah beredarnya “kecoa-kecoa” dimasyarakat. Di dalam kajian pentas teater yang di usung STMANIS kali ini, Saya selaku sutradara sekaligus pelatih, berharap bahwa generasi muda tidak memiliki pemikiran yang pendek dengan sempitnya lapangan pekerjaan saat ini, namun tetap berusaha dalam kedewasaan dan tanpa henti terus menerus berusaha untuk mendapatkan apa yang layak bagi diri sendiri, keluarga dan bangsa ini.

  • Adri Prasetyo, Pelatih dan Sutradara

– SINOPSIS –

Seorang kaum miskin urban yang diwakili waria,pelacur,gelandangan dan para bandit yang mencari penghidupan dikota. Mereka digusur,dimaki dan perkampungannya dibakar, keadilan tidak berpihak kepadanya. Yang satu kecoa yang lainnya garuda. Kaum miskin pinggiran sebuah kelas sosial yang termaginalkan oleh Negara. Negara memperlakukan waria masih diskriminatif,baik secara politik maupun hukum